Empat tahun yang lalu
Kau selalu tersenyum ketika aku memperhatikanmu.
Tapi aku cuma bisa salah tingkah.
Selalu membuang muka, ketika di hadapanmu.
Kau selalu ku tunggu.
Ketika hadirmu tak juga ku rasakan.
Kau selalu tertawa,
ketika tak sengaja kita bertemu pandang.
Langkahmu selalu ku tunggu,
ketika kau mendekat.
Dan selalu ku kejar, ketika kau menjauh.
Tapi aku cuma bisa diam, ketika aku punya kesempatan untuk menyatakan semua.
Semuanya terasa kaku dan hambar.
Aku sama sekali tak berani menatapmu ketika di hadapanmu.
Aku selalu mengawasi,
bahkan menguntitmu kemanapun kau pergi.
Tentunya saat kita di sekolah.
Aku selalu membanggakanmu, di hadapan teman-temanku.
Ku katakan kau adalah yang termendekati sempurna.
Cara bicaramu,
tertawamu,
senyummu,
tatapanmu,
langkahmu,
termangumu,
diammu,
sikapmu. . . .
Masih ku ingat sampai kini.
Tanpa ada kata kau meninggalku.
Menyisakan kenangan yang indah.
Meski sering pula membuatku menangis karena merindukanmu.
Ku coba menghibur diri dengan membayangkanmu.
Kau menaiki sepedamu,
menyebrang jalan.
Sementara matamu menatapku.
Tak lupa senyummu yang manis itu.
Lalu kau pergi, sampai kini tak kembali.
Tapi aku cuma bisa salah tingkah.
Selalu membuang muka, ketika di hadapanmu.
Kau selalu ku tunggu.
Ketika hadirmu tak juga ku rasakan.
Kau selalu tertawa,
ketika tak sengaja kita bertemu pandang.
Langkahmu selalu ku tunggu,
ketika kau mendekat.
Dan selalu ku kejar, ketika kau menjauh.
Tapi aku cuma bisa diam, ketika aku punya kesempatan untuk menyatakan semua.
Semuanya terasa kaku dan hambar.
Aku sama sekali tak berani menatapmu ketika di hadapanmu.
Aku selalu mengawasi,
bahkan menguntitmu kemanapun kau pergi.
Tentunya saat kita di sekolah.
Aku selalu membanggakanmu, di hadapan teman-temanku.
Ku katakan kau adalah yang termendekati sempurna.
Cara bicaramu,
tertawamu,
senyummu,
tatapanmu,
langkahmu,
termangumu,
diammu,
sikapmu. . . .
Masih ku ingat sampai kini.
Tanpa ada kata kau meninggalku.
Menyisakan kenangan yang indah.
Meski sering pula membuatku menangis karena merindukanmu.
Ku coba menghibur diri dengan membayangkanmu.
Kau menaiki sepedamu,
menyebrang jalan.
Sementara matamu menatapku.
Tak lupa senyummu yang manis itu.
Lalu kau pergi, sampai kini tak kembali.
aku tersenyum bila mengingat itu.
Meskipun pada akhirnya aku harus menangis.
Meskipun pada akhirnya aku harus menangis.
sampai kini . . . .
Aku masih menunggumu datang.
Menanti hadirmu lagi.
Mengharap,
agar kau memahami.
Apa yang aku rasa.
Ku hanya ingin kau mengerti,
siapa aku yang mengagumimu dan menyayangimu.
Dan tak perlu kau tau,
tentang rindu yang ku rasa.
Cukup ku simpan dalam hati saja.
Aku selalu merindukanmu. . .
Aku masih menunggumu datang.
Menanti hadirmu lagi.
Mengharap,
agar kau memahami.
Apa yang aku rasa.
Ku hanya ingin kau mengerti,
siapa aku yang mengagumimu dan menyayangimu.
Dan tak perlu kau tau,
tentang rindu yang ku rasa.
Cukup ku simpan dalam hati saja.
Aku selalu merindukanmu. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar