Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

Kesaksian Sehelai Bulu Mata

Alkisah, pada hari pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang diadili.Ia di tuduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat.Tetapi ia bersikeras membantah,”Tidak. Demi langit dan bumi, sungguh itu tidak benar.Saya tidak melakukan semua itu, “.
Namun, malaikat berkata,”Tetapi, saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri kedalam dosa.”Orang itu menoleh kekiri dan kekanan, lalu ke segenap penjuru.Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri.Di situ hanya ada dia sendirian.
Makanya ia pun menyanggah,” Manakah saksi-saksi yang kau maksud?.Disini tidak ada siap-siap kecuali aku dan suaramu,”
.”Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.Tiba-tiba mata angkat bicara,”Saya yang memandangi.”Disusul oleh telinga,”saya yang mendengar.”Hidung pun tidak ketinggalan,”Saya yang mencium.”Bibir ikut mengaku,”Saya yang merayu.”Tangan meneruskan,”Saya yang memegang,”Kaki menyusul.”Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”Dalam keadaan putus asa, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya,”Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”Malaikat kemudian menjawab,”Silakan.”
Bulu mata itupun berkata,”Terus terang saja, saat menjelang ajalnya, pada saat tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata.Saat itu, ia menangis menyesali perbuatan buruknya.Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba yang bertobat, walaupun selembar bulu matanya yang terbasahi air mata, dia sudah diharamkan dari ancaman api neraka?Maka saya selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”
Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut dibebaskan dari neraka dan diantarkan kesurga.Sampai terdengar suara bergema kepada para penghuni surga,”Lihatlah, Hamba Allah ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”

(Dari kisah teladan)

sumber

Kamis, 05 Januari 2012

7 Hikmah Ayat Kursi Bagi yang Membacanya



Dalam sebuah hadis, ada menyebut perihal seekor syaitan yang duduk
di atas pintu rumah. Tugasnya ialah untuk menanam keraguan di hati
suami terhadap kesetiaan isteri di rumah dan keraguan di hati
isteri terhadap kejujuran suami di luar rumah. Sebab itulah
Rasulullah tidak akan masuk rumah sehingga Baginda mendengar
jawaban salam dari isterinya. Di saat itu syaitan akan lari
bersama-sama dengan salam itu.


Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-hadis:

1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi bila berbaring di tempat
tidurnya, Allah SWT mewakilkan dua pongid Malaikat memeliharanya
hingga subuh.

2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang
Fardhu, dia akan berada dalam lindungan Allah SWT hingga
sembahyang yang lain.

3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang,
dia akan masuk syurga dan barang siapa membacanya ketika hendak
tidur, Allah SWT akan memelihara rumahnya dan rumah-rumah
disekitarnya.

4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap-tiap shalat
fardhu, Allah SWT menganugerahkan dia setiap hati pongid yang
bersyukur, setiap perbuatan pongid yang benar, pahala nabi2, serta
Allah melimpahkan rahmat padanya.

5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya,
maka Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya - mereka
semua memohon keampunan dan mendoakan baginya.

6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang, Allah
SWT akan mengendalikan pengambilan rohnya dan dia adalah seperti
orang yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.

7) Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi ketika dalam kesempitan
niscaya God SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.

Sabtu, 17 Desember 2011

7 Keajaiban Dunia Menurut Islam


7 Keajaiban Dunia versi dunia sudah sering kita dengar/baca. Bagaimana dengan 7 keajaiban versi Islam? Berikut daftarnya.

1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman

Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

2. Pohon Kurma yang Menangis

Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,

“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

3. Untaian Salam Batu Aneh

Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

4. Pengaduan Seekor Onta

Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.

Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

5. Kesaksian Kambing Panggang

Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

6. Batu yang Berbicara

Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]

7. Semut Memberi Komando

Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,

“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin.



sumber

Senin, 14 November 2011

Alasan Lantai Masjidil Haram Tidak Panas


Ilustrasi jamaah haji thawaf di Kakbah

MELAKUKAN thawaf (memutari Kakbah) di malam dan siang hari memang berbeda. Jika malam hari, cuaca cukup sejuk. Karenanya, orang sekitar Mekkah jika ingin melakukan umrah biasanya dilakukan pada malam hari.
Begitu juga dengan warga di sekitar Kota Mekkah seperti Jeddah. Warga di kota yang berlokasi sekira satu jam perjalanan dari Mekkah ini, biasanya berangkat pada sore hari agar bisa salat Magrib berjamaah sekaligus melakukan umrah.
“Kebiasaan orang di sini begitu. Agak aneh kalau berangkat ke Mekkah untuk umrah pada pagi hari,” ucap guide MCH Jeddah, Sahe, yang sudah tinggal 23 tahun di Arab Saudi.
Memang suhu di Mekkah belakangan ini cukup panas berkisar antara 40-42 derajat celsius. Bandingkan dengan Jakarta yang puncak panasnya berada di kisaran 37 derajat celcius. Puncak panas biasanya terjadi pada pukul 15.00 waktu setempat. Setelah itu, terus menurun hingga malam hari.
Memang kondisinya sangat jauh berbeda. Jika malam hari, melakukan thawaf tidak terlalu menguras tenaga.
Berbeda halnya jika thawaf dilakukan siang hari. Keringat sudah pasti bercucuran karena panas matahari yang menyengat.
Meski demikian yang unik, meski mengelilingi Kakbah tanpa alas kaki, namun telapak tidak terasa panas sama sekali. Padahal tempat thawaf merupakan ruang terbuka, panas matahari langsung menerpa lantai marmer.
Ini berberda dengan lantai di jalan hendak keluar dari pintu Marwah. Saat berjalan, telapak kaki berasa sangat panas bak berjalan di atas bara api. Kami berjinjit dan berlari kecil untuk menghindari panas tersebut.
Lalu kenapa di lantai tempat thawaf dan di luar masjidil haram berbeda 180 derajat. Ini menimbulkan rasa penasaran. Salah satu ummal (cleaning service) di Masjidil Haram, Udin (40), mengatakan di bawah Kakbah dan tempat thawaf memang dipasang air conditioner agar telapak kaki peziarah tidak melepuh, kepanasan.
Setelah membaca buku Sami bin Abdullah al Maghlouthm ‘Atlas Haji dan Umrah’ dan sumber lainnya, barulah terungkap. Awalnya, tempat thawaf tidak berubin marmer seperti saat ini. Dulu hanyalah hamparan pasir lapang. Barulah pada masa Abdullah Ibnu Zubair. Ubinnya saat itu bergaris lima meter dari Kakbah, hingga 1375 Hijriyah atau 1954 M di masa Raja Abdul Azis sumbangan marmer terus berdatangan. Kini lantai marmer untuk thawaf terbuat dari marmer kualitas terbaik yang mampu menahan teriknya panas matahari.
Awalnya lokasi thawaf tidak seluas sekarang, terdapat bangunan di atas Maqam Ibrahim dan juga gerbang pintu masuk sumur Zamzam.
Pada masa Raja Faisal renovasi dilakukan melanjutkan periode Raja Saud, di antaranya adalah pembongkaran bangunan di atas Maqam Ibrahim, sehingga lokasi untuk thawaf lebih lebar dari sebelumnya.
Pada masa Raja Khalid, perluasan halaman untuk thawaf kembali diperlebar. Gerbang menuju sumur zamzam dipindahkan ke dekat serambi masjid sebelah timur. Karena itulah area thawaf menjadi lebih luas dari 3.298 meter menjadi 8.500 meter, seluruh bagian Masjidil Haram lama menjadi tempat thawaf.
Kemudian, renovasi dilanjutkan pada masa Raja Fahd. Dibangunlah ruang bawah tanah. Tak hanya itu, lantai bawah tanah juga dilengkapi dengan pengatur udara AC. Pusat mesinnya dibangun di kawasan Ajyad. Air dingin dialirkan di lantai bawah tanah berasal dari tempat yang sama.
Jadi wajar saja, jika lantai yang dipakai untuk tempat thawaf tidak berasa panas sekalipun suhu udara sangat panas. Ini adalah bentuk pelayanan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi terhadap jamaah yang setiap tahun harus meninggalkan sanak keluarga di negara mereka demi melaksanakan Rukun Islam ke-5.


sumber

Senin, 31 Oktober 2011

Masjid Essalaan, Masjid Terbesar di Belanda


Masjid Essalam, yang terletak di Kota Rotterdam, merupakan masjid terbesar di Belanda dan juga salah satu yang terbesar di seluruh kawasan Eropa Barat.
Didanai oleh Yayasan Al Maktoum milik Sheikh Hamdan bin Rashid Al Maktoum, Penguasa Dubai dan Deputi Menteri Keuangan UEA, Masjid Essalaam ini membutuhkan waktu sekitar 11 tahun untuk bisa berdiri seanggun seperti sekarang ini.
Sejak awal proses pembangunannya, yaitu pada tahun 1999 yang ditandai dengan diterbitkannya izin resmi pembangunan beberapa masjid untuk komunitas Muslim di Belanda, tempat ibadah yang mampu menampung 2.600 jamaah ini menghadapi penolakan dan perlawanan dari berbagai pihak, terutama dari kelompok-kelompok anti-imigran dan anti-Islam di Belanda.
Namun itu hanyalah kisah lalu. Kini bangunan yang berdiri di lingkungan imigran di selatan Rotterdam dan berdekatan dengan stadion sepak bola milik klub Fijenoord tersebut telah membuka pintu seluas-luasnya. Tak hanya sekedar menjadi tempat ibadah bagi umat Muslim di Rotterdam saja, namun juga telah menjadi jembatan antara masyarakat Muslim dan seluruh kota, terutama dalam hal budaya dan sosial.
Gaya arsitektur Mameluke yang berkembang di Kairo pada abad 15 merupakan urat nadi desain bangunan Masjid Essalam ini. Bagian dindingnya dilapisi lempengan granit dan memiliki aksen halus warna biru abu-abu, sedangkan menaranya sendiri dibuat dengan inspirasi dari bentuk menara gereja Amsterdam abad ke-17 yang dirancang oleh Hendrick de Keyser. Secara garis besar, Masjid Essalam merupakan contoh sempurna dari apa yang dikenal sebagai fusion architecture, dimana budaya serta identitas Islam dan Rotterdam secara indah tersulam.


Inilah FOTO betapa indahnya Masjid Essalaan, Masjid Terbesar di Belanda







sumber

Kamis, 27 Oktober 2011

Melihat Kemegahan Arsitektur Masjid Bir Ali (Miqat), Tempat Singgah Para Jamaah Haji


Bir Ali adalah sebuah tempat miqat (miqat zamani) bagi penduduk Madinah yang akan berumrah atau berhaji, sebagaimana dicontohkan Nabi. Jadi hanya jamaah haji gelombang pertama atau jamaah umrah yang mendahulukan Madinah yang dapat merasainya.

Masjid Bir Ali hanya berjarak kurang dari 15 menit perjalanan dari Madinah. Di sanalah jamaah lakai-laki mengenakan pakaian ihram (atau biasanya telah dikenakan di Madinah), bersuci, sholat dua rakaat dan memulai niat ihram dan bersiap umrah. Jarak Bir Ali ke Mekah sekitar 450 km yang biasanya ditempuh dalam 4-6 jam. Dan sepanjang jalan itu pula, jamaah telah memulai mematuhi beberapa larangan ihram.



Jaraknya persis sebelas kilometer dari Masjid Nabawi Madinah. Jarak lebih dan tak kurang satu sentimeter pun. Namanya Masjid Bir Ali. Seluruh jamaah haji gelombang II, pasti singgah di masjid ini. Karena di situlah mereka mengambil tempat miqat untuk umrah. Sedangkan, sebagian jamaah haji plus, mereka mengambil miqat untuk haji.

Masjid ini terletak di jalan raya menuju Makkah dari Madinah. Karena sebagai tempat mengambil miqat itu juga, Masjid Bir Ali dikenal dengan nama Masjid al Miqat. Ada juga yang menyebutnya Masjid al Ihram. Masjid yang satu ini memiliki bermacam nama.




Selain Masjid al Miqat, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid as Syajarah (pohon). Nama itu merujuk peristiwa sejarah. Dahulu, Nabi Muhammad SAW pernah duduk di bawah pohon saat menuju Makkah. Di dekat pohon itulah masjid ini dibangun dan Nabi shalat di dalamnya.

Masjid al Miqat ini juga dikenal dengan nama Masjid Dzul Hulaifah. Disebut demikian karena itulah nama distrik atau daerah tempat masjid ini berada. Di sebut Bir Ali karena di daerah ini ada sumur milik Imam Ali kw. Beberapa penduduk asli masih mengingat lokasi sumur itu yang konon tak jauh dari masjid. Lokasi masjid ini cukup unik. Jika dillihat dari kejauhan masjid ini seolah berada di lembah. Dari jauh hanya tampak menara tunggalnya saja. Menara itu menyembul dari balik pepohonan yang rimbun di tengah bukit bebatuan.



Masjid ini merupakan miqat makani atau tempat untuk memulai ihram. Di sini seluruh jamaah yang hendak umrah, berganti pakaian ihram, berniat dan shalat dua rakaat sunnah ihram. Arsitektur masjid ini istimewa karena banyak lorong terbuka atau galeri di dalamnya. Di tengah lorong itu ada pepohonan. Di situ jamaah bisa istirahat sejenak dan menyaksikan pemandangan sekitar.


Masjid ini juga cukup luas ditopang areal parkir dan kamar mandi yang banyak. Bagi yang belum sempat mandi ihram, di sini masih dimungkinkan. Masjid ini dibangun lagi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz saat ia menjabat Gubernur Madinah sekitar 87-93 Hijriah. Kemudian keberadaan masjid ini merosot hingga dibangun lagi oleh Zaini Zaiunddin al Istidar pada tahun 861 Hijriah (1456 M). Dinasti Usmaniah (Turki) juga sempat merehab masjid ini pada tahun 1090 HIjriah (1679 M) melalui salah seorang Muslim India.

Pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz, perluasan masjid dilakukan secara besar-besaran. Lahan di sekitar masjid dibongkar untuk mendukung fasilitas masjid seperti lahan parkir dan penunjang lain. Dengan renovasi itu, luas areal Masjid Bir Ali menjadi sekitar 90 ribu meter per segi. Termasuk di dalamnya ruang terbuka di sekitar masjid. Luas bangunan masjid saja 26 ribu meter persegi. Sisanya, 34 ribu meter persegi terdiri dari jalan, areal parkir, pepohonan, serta paviliun.




Lorong-lorong di dalam masjid sendiri memiliki luas enam meter. Di galeri itu ditutup dengan kubah panjang di atas Mihrab dengan tinggi 28 meter. Masjid ini memiliki menara dengan tinggi 64 meter. Menara itulah yang tampak dari kejauhan. Lantai masjid terbuat dari marmer dan batu granit. Pintunya dari kayu dengan ruangan dilengkapi fasilitas pendingin ruangan.

Di masjid ini terdapat 512 toilet dan 566 kamar mandi. Hal itu untuk menunjang jamaah yang belum sempat mandi ihram dari pemondokan. Ada juga kamar mandi dan tempat wudhu khusus bagi perempuan, jamaah cacat fisik, dan juga orang tua. Kamar mandi itu dijaga oleh askar. Di kamar mandi perempuan, penjaganya malah dari Indonesia yang mengenakan jubah hitam.



Areal parkirnya mampu menampung 500 kendaraan kecil dan 80 kendaraan besar. Konon renovasi masjid ini menghabiskan dana 200 juta riyal Saudi. Sayang umumnya jamaah Indonesia tak bisa sepenuhnya menyaksikan keindahan arsitektur masjid. Semata karena waktu yang amat terbatas. Kendaraan hanya berhenti sejenak atau sekitar 15 menit memberi kesempatan kepada jamaah untuk niat dan shalat sunnah ihram. Setelah ihram, keinginan untuk melihat suasana sekitar masjid pun buyar. Saat itu hati sudah terkondisikan ihram dan tak ingin lagi melihat yang lainnya kecuali memantapkan hati untuk-Nya.

Rabu, 25 Agustus 2010

Tuma'ninah dalam Shalat


Setelah mendalami konsep pikiran lebih mendalam lagi, saya menemukan berbagai hikmah yang luar biasa dari ibadah-ibadah yang harus kita lakukan. Saya semakin sadar dan bersyukur atas kasih sayang Allah yang diberikan kepada kita melalui perintah melaksanakan berbagai ibadah ritual.

Tentu disini saya tidak akan membahas makna spiritual dalam shalat karena sudah banyak yang lebih ahli dari saya. Namun saya ingin membahas bagaimana peran tumaninah dalam shalat akan memberikan dampak yang besar dalam kehidupan kita. Salah satu hikmah lain dari shalat dengan tumaninah ialah kita akan mendapatkan energi hidup yang lebih besar.

Pantaslah jika Rasulullah saw dan para sahabat seolah memiliki energi yang tidak terbatas dalam berdakwah dan berjuang demi Islam. Kita yakin Rasulullah saw dan para sahabat melakukan shalat dengan tumaninah sehingga memberikan energi positif yang luar biasa pada diri beliau dan para sahabat.

Ketenangan dan jeda dalam melakukan sesuatu adalah salah satu bentuk pelatihan dalam mengontrol pikiran kita. Jika kita melalukan sesuatu dengan penuh ketenangan, maka pikiran akan lebih terkonsentrasi, tindakan kita akan diringi dengan kesadaran tinggi, dan kita bisa mengendalikan pikiran kita.

Pikiran yang tenang dan damai adalah pikiran yang penuh dengan energi yang melimpah karena tidak habis oleh pikiran-pikiran lain. Jika kita damai dan tenang, maka pikiran kita akan terpusat pada pikiran yang kita pilih dan akan menghasilkan energi yang luar biasa.

Seharusnya umat Islam yang selalu melakukan shalat dengan tumaninah setiap hari sudah melakukan latihan motivasi yang luar biasa. Seharusnya umat Islam saat ini adalah umat yang memiliki motivasi tinggi dan menghasilkan pencapaian yang luar biasa dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Namun apa yang kita lihat, ternyata justru sebaliknya. Ini artinya hanya sedikit umat Islam yang menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyu’an dan tumaninah. Semua ini tergambar dari kondisi umat Islam saat ini. Ini juga menjadi bahan muhasabah bagi kita untuk menambah kualitas dan kuantitas ibadah kita.

Sekali lagi, motivasi tinggi hanyalah salah satu hikmah kecil, dibanding hikmah spiritual yang terdapat dalam shalat. Mungkin pemahaman ini adalah salah satu bentuk rahmat Allah untuk memberitahu bahwa kualitas shalat kita belum baik. Mari kita semua untuk senantiasa memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kita, tentu saja termasuk diri saya yang masih banyak kekurangan.

Berikut Video yang saya dapat dari kaskus. Seandainya di daftarin di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atau bahkan Guiness Book of Record, kayaknya bakal jadi juaranya

Layaknya ayam mematuk makanananya. Padahal telah diriwayatkan dengan Shahih ketika ada seorang sahabat yang Shalat dengan cepat maka dikatakan kepadanya bahwa ia harus mengulangi shalatnya karena ia belumlah shalat. Lalu bagaimana dengan yang ini? Tidak kah shalat sahabat tadi lebih cepat dari pada ini?

Bagaimana pendapat sahabat sebagai seorang Muslim dengan adanya fenomena semacam ini? Silahkan berikan komentar!


Kamis, 09 April 2009

'Apology Tour' Folly

From Ralph Peters in the New York Post:
I, for one, don't think our country has anything to apologize for, either to Turkey or to Europe. Insisting that America's always guilty, Obama omitted any mention of Turkey's wartime betrayals of our troops, its continuing oppression of its Kurd minority or the AKP's determination to turn a state with a secular constitution into a Wahhabi playground.
When it came to the Armenian genocide, Obama bravely ducked: He never dared use the g-word. And Obama's disdainful remarks about President Bush were just shabby. After those overpriced tour T-shirts have shrunk in the wash (trust me -- they will), what will we have gained from Obama's superstar act? He told the Europeans that the global economic crisis is all our fault. No mention of European greed, overleveraged governments, destructive Euro-loans or Chinese currency manipulation. We did it. Whip us, please. In return, the Europeans gave him . . . nothing. Even though Obama was right when he said that Europe faces a greater terror threat than we do, the entire continent only ponied up 2,500 short-term non-combat troops for Afghanistan. The Europeans know we'll do the heavy lifting. He gave the Russians yet another blank check, too. (Meanwhile, in Moscow, Putin's thugs beat an aging pro-democracy dissident to a pulp.) In return, the Russians promised to . . . well, actually, they didn't promise anything. Then Obama went to Turkey, undercut secular political parties, infuriated the Europeans -- and disclaimed our country's Judeo-Christian heritage. (Did Turkey's leaders respond by denying Islam's importance to them? Naw.) In Turkey, Obama got . . . nothing we didn't already have. Then he went to Iraq and told its prime minister that Iraq would get nothing. I believe that our president wants to do the right thing. But he doesn't have a clue how. For now, he's enraptured by the applause. But he hasn't tried to charge his fans for their tickets. And they've already made up their minds they won't have to pay.

White House: No Bow!

From Ben Smith at Politico:

The White House is denying that the president bowed to King Abdullah of Saudi Arabia at a G-20 meeting in London, a scene that drew criticism on the right and praise from some Arab outlets. "It wasn't a bow. He grasped his hand with two hands, and he's taller than King Abdullah," said an Obama aide, who spoke on the condition of anonymity.
The Washington Times called the alleged bow a "shocking display of fealty to a foreign potentate" and said it violated centuries of American tradition of not deferring to royalty. The Weekly Standard, meanwhile, noted that American protocol apparently rules out bowing, or at least it reportedly did on the occasion of a Clinton "near-bow" to the emperor of Japan. Interestingly, a columnist in the Saudi-backed Arabic paper Asharq Alawsat also took the gesture as a bow and appreciated the move.
"Obama wished to demonstrate his respect and appreciation of the personality of King Abdullah Bin Abdulaziz, who has made one of the most important calls in the modern era, namely the call for inter-faith and inter-cultural dialogue to defuse the hatred, conflict and wars," wrote the columnist, Muhammah Diyab.
The video shows Obama dipping toward the king as G-20 leaders greet one another at the ExCel Centre in London.

Let's face it: The Obama White House is in serious need of a first-rate Director of Protocal.
This Administration wouldn't know what's proper from what usually winds up in the hopper.

Selasa, 07 April 2009

Obama 'Rediscovers' Muslim Roots

From the DC Examiner:
President Barack Obama launched a major outreach initiative to Islam on Monday, urging Muslims to join America in fighting common enemies.
And signaling the strategic importance of the U.S. alliance with this majority-Muslim country, the president made a sharp retreat from a campaign promise to press Turkey on the issue of Armenian genocide.
“Let me say this as clearly as I can: The United States is not at war with Islam,” Obama said. “In fact, our partnership with the Muslim world is critical in rolling back a fringe ideology that people of all faiths reject.”
Obama came to Turkey at the end of a European tour of summits designed to restore ties to nations frustrated with American foreign policy, especially in Iraq.
In a closely watched address to the Turkish assembly, Obama continued a line he started in Europe, admitting American fallibility in an effort to rebuild ties with nations tired of America’s arrogance.
Obama, who downplayed his own family ties to Islam during last year’s presidential campaign, found them of greater use in the Turkish capital, telling a gathering of the Grand National Assembly that “the United States has been enriched by Muslim-Americans.
“Many other Americans have Muslims in their family, or have lived in a Muslim-majority country,” Obama said. “I know, because I am one of them.”
Obama, a Christian whose Kenyan father was Muslim, was raised partly in majority-Muslim Indonesia.

'Apology World Tour' Flops!

From Mona Charen at TownHall.com:
There's nothing wrong with pleasant atmospherics, of course. And if Barack and Michelle Obama wowed the crowds in London and Prague, that's nice. But what you might have missed in all the hyperventilating in the media about the new incarnation of Jack and Jackie was that President Obama was rebuffed by Europe. He had asked them to pass stimulus bills like the one the Democrats passed in the U.S. Germany's Angela Merkel and the others turned that down flat. European nations have even graver problems with promised social safety net programs than we do, and they sensibly decided that further indebting themselves would aggravate rather than alleviate their troubles.
President Obama further requested that more troops be sent to Afghanistan. He wasn't subtle about it either. "Europe should not simply expect the United States to shoulder that burden alone," he said. "This is a joint problem and it requires a joint effort." Adoring crowds notwithstanding, they refused that request as well. Oh, wait. That's not quite true. According to Fox News, "Belgium offered to send 35 military trainers and Spain offered 12."
Back to relations with the Muslim world. Lest this slander pass into conventional wisdom, it must be protested. George W. Bush was never disrespectful to the Muslim world. He was extraordinarily careful to telegraph his respect for the Muslim faith -- some thought to a fault. ("Why is it," asked one wag, "that the only people who say Islam is religion of peace are Christians?") Bush made the Feast of Eid, which marks the end of Ramadan, an annual White House celebration with prominent Muslim guests. He arguably saved more Muslim lives through the African AIDS initiative than any other world leader could claim. Mrs. Bush made improving the lives of women and girls in Afghanistan her special project. In the immediate aftermath of the 9/11 attacks, when this was not an obvious move, he visited the Islamic Center in Washington, D.C., to telegraph to the nation that anger toward American Muslims would be a misplaced response to the atrocity.
This caricature of Bush as a heedless militarist and xenophobe -- which no one is doing more to promote than the current president -- is a libel.
There is one other troubling aspect to President Obama's diplomatic debut. Being eager to ingratiate oneself with Europeans is an understandable liberal impulse. The left wing of the Democratic Party reveres European welfare states. But President Obama also bowed low (literally) before the king of Saudi Arabia. That was more than courtesy; it was abasement.

Obama's Shocking Bow!



An editorial from the Washington Times:
In a shocking display of fealty to a foreign potentate, President Obama bowed to Saudi King Abdullah at the Group of 20 summit in London last week.
Mr. Obama later said in Strasbourg, France, "We have to change our behavior in showing the Muslim world greater respect." Symbolism is important in world affairs. By bending over to show greater respect to Islam, the U.S. president belittled the power and independence of the United States.
The bow was an extraordinary protocol violation. Such an act is a traditional obeisance befitting a king's subjects, not his peer. There is no precedent for U.S. presidents bowing to Saudi or any other royals. Former President Franklin D. Roosevelt shook hands with Saudi King Abdulaziz in February 1945. Granted, Mr. Roosevelt was wheelchair-bound, but former President Dwight D. Eisenhower shook hands when he first met King Saud in January 1957. Mr. Obama's bow to the Custodian of the Two Holy Mosques does not help his image with those who believe he is secretly a Muslim, and why he chose to bow only to the Saudi King and not to any other royals remains unexplained.
No Americans of any station are required to bow to royalty. It is one of the pillars of American exceptionalism that our country rejected traditional caste divisions. Article I Section 9 of the Constitution forbids titles of nobility and stipulates that no officeholder or government employee may "accept of any present, emolument, office, or title, of any kind whatever, from any king, prince, or foreign state" without the consent of Congress. Judith Martin wrote in her Miss Manners column in 2001 that bowing "is not an ordinary bit of foreign etiquette one might adopt out of courtesy when traveling. ... Americans do not properly bow to any royalty. We show respect for other countries' leaders the same way we do to our own."
Press outlets have been conspicuously silent on Mr. Obama's bow. Compare this to the New York Times' reaction when former President Bill Clinton inclined a bit too far when meeting Japanese Emperor Akihito in 1994. According to the Gray Lady, "The image on the South Lawn was indelible: an obsequent president, and the Emperor of Japan." Former President George W. Bush received thorough press attention after being photographed holding hands with then-Crown Prince Abdullah in 2005. "It clearly strikes a nerve," CBS News reported, while David Letterman satirized Mr. Bush as "officially the gayest president since Lincoln." These two cases were tame compared to Mr. Obama's full-out genuflection, which makes us wonder why it is not worthy of comment.
Mr. Obama is proving that one can be elected president without knowing how to behave presidentially. His servile gesture was fully fitting with the tone of his humility tour of Europe. In his eagerness to be loved personally, the president has lost sight of the fact that the leader of the free world also must be respected.

Kamis, 12 Maret 2009

There He Goes Again



Does Vice President Biden actually believe that "only FIVE PERCENT of the Taliban is incorrigible?" Only FIVE percent?!?