Tampilkan postingan dengan label SBY-Boediono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SBY-Boediono. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2010

BAGAIMANAKAH MENJADI SEORANG PEMIMPIN ?


Salah satu permasalahan yang sangat mendasar di negara kita adalah kesenjangan sosial yang semakin tajam antara miskin dan kaya. Hal ini merupakan masalah krusial yang harus menjadi perhatian kita semuanya.

Seperti telah diketahui dan dirasakan bersama, betapa keji dan biadabnya perbuatan korupsi yang mengakibatkan terampasnya hak azasi ratusan juta rakyat Indonesia. Mulai dari hak memperoleh pendidikan, kesehatan, sandang, pangan, papan dan sederet hak-hak lainnya yang harus dipenuhi oleh negara sebagai kewajiban mendasar terhadap rakyatnya.

Hak rakyat dan kewajiban negara, gagal untuk dipenuhi dan ditunaikan karena tindakan biadab dari para koruptor. Perang terhadap koruptor sudah lama dicanangkan, tetapi eksistensi dan kebiadaban para koruptor tetap ada dan semakin meningkat.

Hal ini seharusnya tidak terjadi jika para pemimpin kita meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah saw, para Kholifah, dan para Sahabatnya, sayangnya sebagian besar pemimpin kita mengabaikan tata cara model kepemimpinan yang telah diajarkan Rasulullah, mereka tidak sempat membaca dan mempelajari sifat-sifat mulia itu, mereka justru disibukan berkoalisi, lobi-lobi, menghimpun dan menyusun strategi untuk menggalang kekuatan dimana-mana untuk pemilihan berikutnya,dst...

Mungkin hal itu juga terletak dari kesalahan kita semua. Kesalahan dalam memilih pemimpin yang patut menjadi panutan.

Saya tertarik mencermati kekalahan AM dalam pemilihan ketua umum Partai Demokrat secara telak pada putaran pertama, yang mengingatkan saya akan pernyataan kontroversial AM di Makassar saat kampanye presiden SBY-Boediono. Kala itu, AM dengan entengnya mengatakan "belum saatnya orang Bugis menjadi pemimpin." , tentu saja pernyataan ini di tujukan buat Pak JK waktu itu.

Hasil dari Kongres Partai Demokrat di Bandung kemarin. Saya dan mungkin banyak orang Bugis lainnya pasti kembali terkenang dengan pernyataan AM tersebut.

Adalah wajar jika kita berpikir jangan-jangan apa yang dikatakan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga ini, benar. Belum saatnya orang Bugis memimpin. Lantas kapan? Kita tunggu waktunya.

Tetapi satu hal yang harus dipercaya oleh orang Bugis adalah pemimpin tidak dilahirkan, tetapi dibesarkan. Kalau kita mau memimpin bangsa ini, mari kita persiapkan generasi muda dari saat ini.

Tentu kuncinya adalah peran orang tua, pendidik, dan pengambil kebijakan. Dan satu hal yang perlu diingat, selalu terbuka pintu bagi orang Bugis untuk menjadi pemimpin. Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Najib Tun Razak adalah anak keturunan Bugis yang merantau ke Malaysia.

Jadi, AM dan kita semua orang Bugis tidak perlu khawatir akan ditolak menjadi pemimpin. Kekalahan hanyalah titik untuk memulai evaluasi dan belajar kembali. Paling tidak kita harus belajar dari pepatah Bugis;
Naia riasengage' to warrani maperengnge’ nare'kko moloi roppo-roppo ri laomu, rewe'ko paimeng sappa laleng molai.
" Artinya: "Orang yang unggul adalah yang berani dan kuat bertahan. Jikalau engkau mendapat jalan yang sukar, berpikir kembali dan berusahalah untuk menyelesaikan rintangan yang dihadapi."
Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kepada kita lisan yang baik, yang mampu menghasilkan perkataan yang benar, mulia, komunikatif, berkualitas, pantas, dan santun. Sehingga nantinya akan tercermin dalam setiap perilaku kita sehari-hari. Amin

Rabu, 13 Mei 2009

SBY-Boediono ; Menguji Kesetiaan Koalisi Cikeas.


Nama: Prof. Dr. Boediono
Lahir : Blitar, 25 Februari 1943
Agama: Islam
Pekerjaan:
  • Gubernur Bank Indonesia.
  • Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (2005-2009)
  • Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
  • Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999)
  • Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter (1997-1998)
  • Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan BPR (1996-1997)
  • Dosen Fakultas Ekonomi UGM
Alamat: Jalan Mampang Prapatan XX No.26, Jakarta Selatan.

Sosok Boediono yang santer akan digaet SBY sebagai cawapresnya, rupanya menggoyahkan koalisi Cikeas. Hal ini juga merupakan indikator bagaimana politik dimainkan iramanya sebagai sebuah seni berbagai kemungkinan. Masyarakat yang diposisikan laiknya penonton, belakangan tentu makin sulit mencerna jalan cerita lakon para aktor yang tak lain adalah para elit politik. Cukup berbahaya memang, karena akan semakin memperlihatkan borok mereka di tengah-tengah masyarakat. Kendati merupakan hak penuh SBY, penunjukan Boediono, diam-diam menohok elit parpol peserta koalisi. Siang kemarin, empat partai peserta koalisi Cikeas, PKS, PAN, PKB, dan PPP mempertanyakan keputusan sepihak SBY itu. Pertanyaannya adalah apakah alasan paling rasional mengapa pilihan itu jatuh di luar parpol. Setidaknya jawaban SBY bisa menjadi perisai praktis argumentatif bagi elit kepada konstituennya masing-masing.

Tapi begitulah. Kenyataan politik tidak selalu berjalan lurus dan bebas intrik tingkat tinggi. Perubahan dalam hitungan menit pun bukan sesuatu yang langka, sehingga tebakan sangat mungkin meleset meski secara kasat mata sudah dapat dipastikan hasilnya. Selain soal cawapres dari luar partai, tampaknya para aktivis parpol sangat menyayangkan tidak cairnya komunikasi antara SBY dengan parpol koalisi. Sehingga penunjukan Boediono dinilai kurang nyambung.

Dari kasus ini dipetik dua poin penting, pertama ada ego sektoral parpol yang ingin ditegakkan, menjual kadernya sendiri kendati keputusan sepenuhnya ada pada SBY. Kedua, kurang lancarnya komunikasi politik di pihak SBY sebelum penunjukan Boediono mencuat di permukaan. Padahal, sejatinya sebuah kehendak baik (koalisi) harus tuntas pembicaraannya di awal, agar tidak justru menyendat jalannya platform koalisi di masa mendatang.

Kita berharap, intrik elit parpol segera berakhir dan menemukan jalan keluar. Ini penting, sebab tantangan bangsa ke depan jauh lebih berat ketimbang hanya memikirkan bagaimana memenangkan pertarungan menuju RI-1. Jika koalisi harus tercerai-berai, lakukanlah sekarang sebelum semuanya amburadul. Tapi bila memang sudah bulat, maka jalankan sesuai fatsun politik yang ada. Tidak perlu memainkan sandiwara terlalu lama, sebab toh akan menyeruak juga nantinya kebosanan rakyat. Komitmen itu sangat penting dipegang teguh. Sebab dari komitmenlah, seseorang akan dicitrakan baik atau buruk.

Loyalitas segera mengikutinya tanpa diminta. Demikian pula di ranah politik, komitmen dan loyalitas menjadi modal penting menjalankan misi-misi keumatan dan kerakyatan. Terkait dengan itu, ikrar bersama di parlemen yang digagas Golkar, PDIP,Gerindra, dan Hanura seyogianya menjadi pertaruhan nama baik para elit parpol untuk senantiasa tetap bersama, kecuali bila mereka sudah siap dicap sebagai politisi tidak matang, inkonsisten, atau bahkan pengkhianat. (^^)

Sumber :
http://www.fajar.co.id
http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/boediono/index.shtml