Tampilkan postingan dengan label Lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 September 2010

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H

Udara lebaran mulai tercium segar di pipirnya shalat witir
Rakaat-rakaat tarawih menyulam sela-sela iman yang menjaring saktinya lailatul-qadr
Sang dambaan jiwa yang sulit didekap, sang dambaan hati yang sulit didekati.

Puasa saat ini masih seperti dulu
Yang melakonkan lapar, dahaga, tarawih, dan sahur sebelum subuh.
Yang merebut waktu mulia,
lewat Asma besar-Nya Lewat tasbih, tahmid dan takbir
Lewat tafakur berluhur-luhur
Lewat shalat tak memandang harkat
Lewat berzakat merela hajat.

Namun, nilai puasa dulu tak tentu setahap dengan nilai puasa kini
Sebab puasa yang tak berbekas pada kehidupan setelah lebaran adalah puasa semu yang menipu waktu, puasa palsu yang rendah mutu.

Tatkala waktu berjalan menakari ruang-ruang zaman
Manusia bumi gontai menapaki dosa demi dosa sambil mencibiri kesucian fitri
Wajah bumi yang berseri bersih menjadi suram terpulas jiwa durjana
Terkusami hati dengki sang manusia lalai.

Waktu tafakur terkubur tanpa syukur
Nurani jadi mati, manusia sombong berteriak nyaring,”Aku ingin hidup seribu tahun lagi, tanpa sanksi-sanksi yang membuat risi”

Alhamdulillah....
Betapa nikmatnya bertajil setelah perut kentil Berkat fitrah nikmat yang dikaruniakan Sang Pemberi Nikmat.
Betapa segar sayur asam dalam kunyahan di magrib yang semakin malam
Dan adzan Isya menggapai insan agar bersegera ke surau atau masjid
Tolibul ilmu lewat seruan para ulama, tersambung tarawih dengan niat bersih.



Gema tasbih, tahmid dan takbir memecah kesenyapan
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya kuasar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya galaksi kembar
Dialah yang punya Arsyi tak bertepi
Dialah yang punya segala cakrawala
Segala segara
Segala cemerlang mega yang tak berlentera
Segala lintang yang tak bertiang
Segala nebula yang tak berjendela
Bahkan segala langit yang sulit diintip

Puasa usailah sebulan sudah
Tarawih lengkap, I’tikaf pun tak khilaf
Namun, muslim bersimbah asa dan tanya
“Apakah puasa saya diterima?”

Takbir mencibir gaun baru warna biru
yang mengetat di atas dengkul gadis bahenol.
Zakat fitrah menceria sang fakir yang ketir
di syawal pagi yang membahagia nurani
Ketupat bertumpuk di segala ufuk
Sambal goreng berselera-selera di segala cakrawala
Bolu kukus berdus-dus mencengangkan para tikus
Nasi kuning tak membikin jiwa bening
Sebab jiwa kufur masih bertengger di sanubari.

Horseeeiii! Lebaran kebacut !
Menjadi pesta poranya pikiran kusut
Para setanpun bersorak menjegal silaturrahmi
Yang lupa waktu dan tak tahu diri.
Zhuhur terlewat berkat kunjungan panjang ke rumah sobat
Azar nyasar ke magrib...
berkat bertandang di si dindun yang semakin heidun
Lantas isya diperkosa di malamnya pesta pora
Dan tegaknya shalat subuh menjadi runtuh
ketiban tubuh yang lusuh.

Mumpung Lebaran, aji mumpung kembali disanjung
Mumpung baju baru sepatu baru
Kue keju berselisih saling gurih di lidah yang semakin pedih
Mumpung kue nampang di setiap kandang
Dan si fakir yang ketiban zakat di hari lebaran kembali fakir
Melodi lama berkumandang riang
Melagukan ’sengsara badan’ dalam tone bariton
Si miskin dan si kaya kembali saling bertolak belakang

Puasa yang diharapkan mewujudkan kesederhanaan jiwa manusia,
telah diartikan lain oleh segelintir makhluk yang bermental binal
sehingga dampaknya jadi konsumtif.
Lebaran yang diharapkan mencanangkan manusia
kembali kepada fitrahnya
kembali kepada kejujurannya
kembali kepada kesuciannya
malah menjadi cikalnya mubazir.

Akhirnya sang setanpun berteriak senang
dalam kemenangan yang gemilang
Setan yang dikerangkeng oleh mental baja kita selama Ramadhan
Yang dilandasi iman yang tangguh dan ketaqwaan tiada tara
Yang diborgol oleh pengabdian tulus terhadap Allah SWT.

Semoga kita ini termasuk yang mampu mengkrangkeng setan
Berkat puasa kita yang khusu’
Yang mewangun mental baja
dalam melaksanakan amal shaleh hingga akhir hayat
Perlu dicamkan ” Lebaran bukanlah bubarnya kebajikan

Puasa adalah wajib, Bersilaturahmi adalah baik kendati tak usahlah terpatok cuma setahun sekali Kapan dan dimanapun silaturahmi karena Allah itu mulia terlebih lagi pada hari Idul Fitri.

Saya sekeluarga mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H

TaqobbaLallaHu minNa wA MinKuM

Minal AidziN WaL FaidziN

Mohon MaaF LahiR & BaThiN



Sabtu, 19 September 2009

FAJAR 1 SYAWAL 1430 H

LEBARAN BUKANLAH BUBARNYA KEBAJIKAN

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allah Mahabesar!
Gema tasbih, tahmid dan takbir memecah kesenyapan fajar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya kuasar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya galaksi kembar
Dialah yang punya Arsyi tak bertepi
Dialah yang punya segala cakrawala
Segala segara
Segala cemerlang mega yang tak berlentera
Segala lintang yang tak bertiang
Segala nebula yang tak berjendela
Bahkan segala langit yang sulit diintip

Puasa usailah sebulan sudah
Tarawih lengkap, I’tikaf pun tak khilaf
Namun, muslim bersimbah asa dan tanya
“Apakah puasa saya diterima?”

Horseeeiii! Lebaran tiba!
Takbir mencibir gaun baru warna biru
yang mengetat di atas dengkul gadis bahenol.

Zakat fitrah menceria sang fakir yang ketir
di syawal pagi yang membahagia nurani

Ketupat bertumpuk di segala ufuk
Sambal goreng berselera-selera di segala cakrawala
Bolu kukus berdus-dus mencengangkan para tikus
Nasi kuning tak membikin jiwa bening
Sebab jiwa kufur masih bertengger di sanubari.

Horseeeiii! Lebaran kebacut !
Menjadi pesta poranya pikiran kusut

Para setanpun bersorak menjegal silaturrahmi
Yang lupa waktu dan tak tahu diri.

Zhuhur terlewat berkat kunjungan panjang ke rumah sobat
Azar nyasar ke magrib...
berkat bertandang di si dindun yang semakin heidun

Lantas isya diperkosa di malamnya pesta pora
Dan tegaknya shalat subuh menjadi runtuh
ketiban tubuh yang lusuh.


Mumpung Lebaran, aji mumpung kembali disanjung
Mumpung baju baru sepatu baru
Kue keju berselisih saling gurih di lidah yang semakin pedih
Mumpung kue nampang di setiap kandang
Dan si fakir yang ketiban zakat di hari lebaran kembali fakir
Melodi lama berkumandang riang
Melagukan ’sengsara badan’ dalam tone bariton
Si miskin dan si kaya kembali saling bertolak belakang

Puasa yang diharapkan mewujudkan kesederhanaan jiwa manusia,
telah diartikan lain oleh segelintir makhluk yang bermental binal
sehingga dampaknya jadi konsumtif.
Lebaran yang diharapkan mencanangkan manusia
kembali kepada fitrahnya
kembali kepada kejujurannya
kembali kepada kesuciannya
malah menjadi cikalnya mubazir.

Akhirnya sang setanpun berteriak senang
dalam kemenangan yang gemilang

Setan yang dikerangkeng oleh mental baja kita selama Ramadhan
Yang dilandasi iman yang tangguh dan ketaqwaan tiada tara
Yang diborgol oleh pengabdian tulus terhadap Allah SWT.

Semoga kita ini termasuk yang mampu mengkrangkeng setan
Berkat puasa kita yang khusu’
Yang mewangun mental baja
dalam melaksanakan amal shaleh hingga akhir hayat

Perlu dicamkan ” Lebaran bukanlah bubarnya kebajikan”

Jumat, 18 September 2009

MALAM LEBARAN YANG BERMAKNA


Kisah di bawah ini adalah saduran dari Majalah Nabila Vol.2 No.13 Oktober 2005, saya rangkum untuk mengenang sebuah kisah di malam lebaran beberapa tahun lalu yang sempat merubah khazanah keseharian saya dan semoga dapat menjadi cermin bagi pembaca, terutama pencerahan buat saya tentunya.

Aku tak tahu kemana kami akan pergi. Akan tetapi sebagaimana kebiasaan kami berdua, malam seperti ini pada malam hari biasanya kami habiskan untuk shoping dan plesiran.

Ketika sedang duduk di kursi mobil disamping Indra, ia bertanya kepadaku, ”Wan, apa kamu sudah mempersiapkan baju baru?”. ”belum”, jawabku seketika. ”Bagaimana kalau kita mampir di tukang jahit sekarang?” tanyanya. Aku menggelengkan-gelengkan kepala merasa heran.

Aku bertanya kepadanya, ”Tinggal dua hari lagi lebaran, dimana kita bisa mendapatkan tukang jahit yang bisa menerima order kita?” keherananku sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Ia membawa mobilnya dengan kencang menembus keramaian malam dan tiba di depan penjahit yang sudah dikenalnya sejak lama.

Ia berkata kepada penjahit itu, ” Kami ingin bergembira di hari lebaran, dan kami ingin memakai pakaian baru!” tukang jahit tertawa dan menjawab sambil mengangkat bahunya. ”Kenapa tidak datang lebih awal kawan?”
Indra menjawab sambil mengibaskan tangannya penuh arti, ”Kami tambah ongkosnya, yang penting besok harus selesai.” Ia mengulang lagi perjanjiannya itu, ”Pokoknya besok.” Nampaknya sang tukang jahit keberatan menerimanya. Tetapi Indra langsung membayar lunas ongkosnya dan terus mengulang, ”Ingat besok sore harus selesai”.

Demikianlah dengan perasaan terpaksa tukang jahit langsung mengukur setelan yang kami pesan.
Hingga mendekati fajar, kami terus bersenang-senang, lupa dan lalai. Satu malam berlalu tanpa berdzikir kepada Allah SWT walau hanya sekali, padahal bisa jadi malam itu adalah malam Lailatul Qadar.

Hidup tanpa rasa dan kebahagiaan juga tanpa aroma. Kami melalui segala pintu maksiat, menyingkap semua tabirnya. Kami menyangka bahwa semua itu tidak akan dihisab. Selalu tampak gembira dan senang. Namun dalam hati terdapat kedukaan dan kesedihan.


Kami berpisah sebelum fajar menyinsing, setelah sebelumnya kami melalui malam dengan berhura-hura, bertemu dan berkumpul dalam kemaksiatan dan dosa. Esoknya kami tidur lama sekali, dari mulai fajar hingga datang waktu Azar. Puasa, tetapi tidak shalat, kalaupun shalat tanpa menghadirkan hati.


Satu jam berpuasa, kala sudah terbangun dari tidur untuk menunggu Magrib terasa berhari-hari. Aku mengisinya dengan main game, membaca majalah dan mengobrol dengan seorang teman lewat telepon. Namun seketika suara yang saya dengar berubah, ”Apakah kamu belum mendengar, bahwa Indra sakit?” . ”Belum”, jawabku. ”Kemarin sore sampai subuh tadi, ia masih sehat wal’afiat”, tambahku setengah tidak percaya.
Pembicaraanpun terputus.

Hal itu tidak berarti apa-apa bagiku, selain kabar yang menurutku belum jelas kebenarannya. Muadzin mengumandangkan suaranya tanda shalat magrib dan waktu berbuka puasa sudah tiba. Setelah beberapa saat kemudian aku merasakan kekenyangan setelah balas dendam dengan beberapa macam makanan.

Tiba-tiba telepon berdering, dari suaranya saya kenal kakaknya Indra. Aku bertanya-tanya ada apa gerangan. Apakah ia akan menanyakan tentang apa yang aku perbuat bersama Indra pada malam itu atau ada orang yang memberitahukan kesalahan dan kekeliruan kami. Tetapi suaranya terdengar resah dan terengah-engah. Ucapannya terputus-putus. Ia memberitahu, bahwa Indra sudah meninggal dunia.


Aku terbungkam, tak percaya sama sekali. Seolah-olah masih melihatnya dihadapanku. Bahkan sore ini kami punya janji untuk pergi ke mal dan mengambil pakaian kami yang selesai dijahit. ”Bagaimana ia bisa meninggal dunia?”. Tanyaku setengah teriak, ”Ketika pulang ke rumah, mobilnya bertabrakan dengan mobil lain, kemudian ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal zhuhur hari ini. Tolong beritahu teman-teman kamu Insya Allah besok zhuhur kami akan menshalatkannya”.


Aku akhirnya yakin bahwa kejadian itu memang nyata..... hari-hari Indra memang sudah berakhir. Akupun percaya, bahwa kejadian dan kematian itu memang benar adanya, dan bahwa pertemuan kami nanti adalah di alam lain, bukan di mal atau penjahit. Ia sudah mengenakan kain kafan, tidak sempat lagi memakai baju baru yang kami pesan bersama buat lebaran.


Malam itu aku tidak bisa tidur. Pikiranku sungguh kacau, kepalaku terasa pusing. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Indra memperjelas berita yang menyakitkan itu.
Ketika aku mengendarai mobil bututku,... di dashboardnya aku menemukan kaset. Segera aku memutarnya. Terdengarlah suara Imam al-Haram yang seakan membuat semerbak sekelilingku oleh kemerduan suaranya. Seluruh anggota tubuhku terasa dingin dan gemetaran, seketika aku tertunduk, seolah-olah dunia terbalik dan kiamat sudah datang. Aku memarkirkan mobil dan mendengarkannya, seolah-olah baru kali ini aku mendengar lantunan Indah Ayat Suci Al-Quran. Tanpa terasa,... butiran bening yang hangat menetes dari sudut mataku yang semakin lama semakin deras dan lebih cepat dari suara Imam yang aku dengar. Aku mengangkat tanganku untuk mengusap air mata.

Sementara hatiku terus mengulang-ulang pantulan kalimat-kalimat itu. Kilatan asa mulai membias dari nuraniku yang terdalam menyusul mulai redanya tetesan air mataku.
Aku tobat yang tulus. Aku mulai bersahabat dengan orang-orang baik dan teman-teman yang shalih.

Orang yang selama ini kubenci, menjadi orang yang paling kucintai. Demikian pula orang yang selama ini kulecehkan, sekarang menjadi orang paling tinggi derajatnya dihadapanku. Orang yang selama ini kuhina, menjadi orang yang paling mulia di sisiku.


Dahulu aku sudah berada di pinggiran jurang Neraka. Namun sekarang, aku mulai melihat kebahagiaan yang selama ini tidak kukenal. Hati terasa lapang, sementara mataku membayangkan ketenangan, kewibawaan dan keteguhan.


Ketika aku singgah di Tukang jahit menanyakan pakaian yang pernah kami pesan, Ia balik bertanya tentang Indra. Aku katakan bahwa Ia sudah meninggal dunia. Ia mengulangi nama yang ditanyakan tadi. Kembali kujawab,”sudah meninggal dunia”. Ia mulai menggambarkan kepadaku bentuk orang yang ditanyakan itu, mobilnya dan gaya bicaranya. Tetap saja aku jawab, ”Iya, dia sudah meninggal dunia”. Ketika ia memperlihatkan kepadaku pakaian yang kami pesan kemarin, kembali ia bertanya, ”Apakah benar ia sudah meninggal dunia?”


Pakaianku berada disamping pakaiannya. Tempat dudukku di mobil juga di sebelah tempat duduknya. Namun bedanya, ia sudah tiada sementara aku masih memiliki sisa umur yang mudah-mudahan bisa kugunakan untuk mengejar ketinggalanku selama ini.


Aku bersyukur dan memuji dan memuji Allah SWT atas segala petunjuk-Nya yang telah membawa aku ke pintu Taubat. Atas kembalinya aku dan atas perbedaanku kini. Namun masih banyak saudaraku disekitar aku, yang masih tertutupi hatinya, masih ternodai debu kemaksiatan dan dosa. Apakah aku sanggup membiarkannya? Semoga Allah SWT memberikan aku kekuatan untuk senantiasa menyisingkan lengan baju untuk tidak membiarkannya, paling tidak mendo’akannya.


Dihadapan azab pedih yang menanti, jilatan api neraka dan ancaman siksa, berbagai kesulitan dan hal-hal yang menakutkan. Aku tidak akan membiarkannya, karena Allah SWT telah memberiku petunjuk. Masih ada buku, masih ada kaset, dan masih ada beribu-ribu yang lainnya. Antara aku dan para sahabatku yang belum kembali ke jalan-Nya, masih ada nasihat yang tulus.