Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Oktober 2010

Memetik Hikmah dibalik Bencana


Peringatan' demi 'peringatan' dari sang Pencipta diperlihatkan terus secara beruntun di negeri ini.

Saya membaca salah satu tajuk rencana sebuah Koran local bahwa ternyata kita tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya dengan bencana.

Sebagai bangsa, kita tentu terpukul dengan adanya bencana yang bertubi-tubi. Jika tidak memiliki sejarah sebagai bangsa yang tangguh, tentu kita sudah sulit untuk bangkit dari trauma bencana. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang terletak di antara dua lempeng bumi sehingga menjadi negara yang rentan terkena dampak bencana alam.

Menghadapi situasi ini, warga seharusnya tidak perlu terkejut kalau terjadi bencana, tetapi sudah bisa lebih tenang karena telah mengantisipasi datangnya bencana. Hal ini yang disebut hidup berdampingan dengan bencana sehingga sudah membuat persiapan untuk menguasai risikonya.

Selain itu, menyesuaikan tindakan dan perilaku agar tidak jatuh korban lebih banyak jika terjadi bencana. Tetapi bencana tentulah tidak datang begitu saja. Ada alasan dari sang Penguasa alam semesta untuk menghadirkan bencana.

Oleh karena itu, kita tidak bisa melewatkan sebuah peristiwa bencana begitu saja tanpa menarik makna dari kejadian tersebut. Terutama bencana yang disebabkan manusia.

Karena tidak pernah belajar dari bencana akibat orang menjadi sibuk saat terjadi bencana, maka begitu usai langsung terlupakan sehingga selalu terlambat mengantisipasi . Tak heran jika kita selalu terlihat sebagai bangsa yang baru belajar menghadapi bencana. Akibatnya, persoalan yang timbul dari bencana tidak pernah bisa dihadapi dengan baik dan korban sering terjebak dari masalah tersebut.

Keserakahan manusia dalam mengelola lahan secara tak terkendali sehingga menyebabkan penggundulan hutan. Akibatnya, saat hujan datang rakyat kebanjiran dan saat kemarau tiba rakyat kesulitan air.

Jadi, pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari berbagai bencana yang datang bertubi-tubi adalah alam memang tidak bisa dibuat semena-mena. Sebab, alam dengan gayanya sendiri atas izin dan kehendak sang khalik tentu akan melakukan penyeimbangan terhadap dirinya sendiri.

Cara dan gaya penyeimbangan alam terhadap dirinya itu ada yang bisa ditebak, tapi juga tidak sedikit yang tak terdeteksi. Karena itu, kita sebagai makhluk yang paling "pintar" di antara semua makhluk hidup dan nyata di muka bumi ini, hendaknya bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.


laptop gratis

Kedua bencana alam baru saja terjadi lagi secara beruntun di negeri kita. Gempa tektonik yang menyebabkan tsunami menerjang Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, dan gempa vulkanik yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keduanya mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa.

Bencana alam semacam itu, sekali lagi, memang tidak mungkin ditolak oleh manusia. Tidak ada yang bisa menahan gunung berapi agar tidak memuntahkan lahar dan meletus. Tidak ada yang bisa menahan pergerakan lempeng kulit bumi agar tidak bergerak. Manusia harus menerimanya sebagai sebuah takdir yang pasti.

Tapi menyiasati bencana agar tidak menimbulkan efek kerusakan atau korban jiwa manusia, adalah suatu hal yang mungkin, dan karena itu perlu dilakukan.

Menyiasati efek bencana juga seharusnya menjadi concern masyarakat sendiri. Misalnya kepatuhan terhadap imbauan evakuasi dan ketaatan untuk tidak memasuki daerah terlarang.

Apalagi jika disertai penerangan masyarakat dan latihan-latihan yang terus dimasyarakatkan bagaimana mengevakuasi diri bila terjadi bencana. Semuanya merupakan bagian dari upaya menyiasati bencana alam bila sewaktu-waktu terjadi.

Kita janganlah menjadi bangsa yang tidak pernah belajar dari pengalaman, termasuk belajar dari pengalaman mengalami bencana. Bencana alam memang ada yang tidak bisa dielakkan, tapi bencana alam bisa disiasati.

Bencana, betapapun terasa merugikan, juga pada dirinya ada pelajaran yang harus diambil. Ada hikmahnya yang bisa dipetik, agar kita bisa hidup dan mengelola alam kehidupan kita dengan lebih baik dan lebih bijak.


Saatnya untuk kita lebih banyak introspeksi......

Rabu, 20 Oktober 2010

Isteri Yang Suci


Siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Kita hadir dari dimensi ruang dan waktu (kesilaman) yang berbeda, bahkan, saling tak mengenal. Tapi, kenapa disaat bersua, kita seketika saling mempercayai untuk membangun kebersamaan, dalam perjalanan?

Sungguh, begitu mulia, mahligai pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai. Tak mengherankan, bila Allah menempatkan jodoh (penikahan) pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat disingkapkan secara pasti oleh hamba-Nya. Bayangkan, jika jodoh seperti juga kematian (roh), menjadi ilmu terbuka bagi hamba-Nya. Siapakah yang sudi memilih X yang masa kecilnya binal sebagai jodoh (sama dengan seseorang yang telah mengetahui tanggal dan hari kematiannya, niscaya berhura-hura untuk kemudian bertaubat saat menjelang waktu kematiannya).

Siapakah yang mengirimmu ke dalam kehidupanku, istri? Allah, betapa maha pengasih Dia, yang memberikanmu sebagaimana ketentuannya (sunnahtullah) agar mahluk hidup berpasang-pasangan. Tapi, kenapa di tengah rasa superioritas kaum pria, seringkali abai memahami bila istri merupakan 'pemberian'Nya? Betapa aku maupun kaumku, para lelaki yang merasa super, seringkali menghanguskanmu ke dalam api kemarahan.

Adakah superioritas kaum pria terutama di masa jahiliyah menyebabkan Allah memberikan perhatian khusus terhadap kaummu dengan menurunkan surat An-Nissa (wanita). Tak sekadar tuntunan menikah untuk berkembangbiak, di surat itu Dia memberikan pedoman tata cara memperlakukan kaummu, sebagai istri. Ini agar kaummu terhindar dari egoisme dan superioritas pria.

Di saat engkau berbaring di sisi tulang rusuk kiriku, betapa aku ingin merumuskan hakikatmu. Tapi, mengapa sulit merumuskanmu: engkau, mahluk yang kuat ketika lemah, begitu manja ketika tegar. Engkau, bahkan, lebih kuat menanggung penderitaan ketika sendirian. Sungguh berbeda dengan pria yang dicitrakan superior (adakah kekuatan pria justru menjadi kelemahan ketika ia ditinggalkan sendirian sehingga cenderung mencari kembali pasangan hidupnya demi menyokong superioritasnya?)

Mengapa demikian? Karena engkau, istri bersama kaummu, mendapatkan kemuliaan-Nya. Sekadar menyebut contoh, Allah bersifat rahman dan rahim. Perempuanlah yang memiliki (sifat) rahim. Di rahim, perlambang kasih, Allah menumbuhkan janin. Dengan kasih dari pemilik rahim, anak-anak tumbuh, menjadi muslim dan muslimah. Dengan anugerah kemuliaan semacam itu, kenapa masih ada perempuan alpa pada kesucian makna rahim, justru ketika memiliki rahim? Sesungguhnya dunia seluruhnya benda dan sebaik-baiknya benda ialah wanita (istri) yang sholeh (HR. Muslim)

Betul, engkau istri, bukan pemimpin utama. Tapi, sesungguhnya engkau menentukan, ketika hanya menjadi posisi pendamping. Engkau, di saat menjadi istri yang suci, semestinya menjadi pengawas suami saat keliru melangkah. Siapa yang dapat mengukur air matamu yang berderai di saat engkau berdoa memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar pada suami? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan justru menjadi kekuatan untuk mengembalikan suami (keluarga) ke jalan yang benar.

laptop gratis


Tapi, siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Istri-istri yang suci justeru merupakan jalan bercahaya menuju-Nya. Kesucianmu (banyak buku mengupas kriteria istri saliha sebagai pedoman) menjadi suar di tengah keluarga (tempatmu berada) untuk membentuk keluarga sakinah. Cahayamu menerangi perjalanan menuju pada-Nya. Kesabaran dan keikhlasanmu mengelola rumah tangga membuat para suami (keluarga) merasa khidmat untuk beribadah.

Sebaliknya, istri-istri 'musyrik', bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu, istri, jadilah engkau suci untuk menjadi jalan bercahaya bagi keluarga.

Wahai istri, di saat engkau menjadi jalan bercahaya, mengapa mesti menggantinya? Bukankah sejatinya, aku mencintaimu karena cintaku pada-Nya yang memuliakanmu, istri yang suci!

Sabtu, 16 Oktober 2010

Mencari Sosok Panutan


Umat manusia diciptakan hanya dua alternatif, tidak ada alternatif ketiga atau pada posisi antar keduanya, yaitu menjadi pemimpin atau yang dipimpin.

Dalam Islam disebut sebagai Jamiyyatul muslimin, berada di luar itu berarti di luar sistem. Syariat Islam mengatur bagaimana beribadah kepada Allah sesuai dengan keteladanan pemimpin dan pemimpin berkewajiban menjaga keselamatan umat dalam beribadah kepada Allah.

Kondisi dewasa ini seperti anak ayam kehilangan induk, hiruk-pikuk tak tahu arah. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana tetapi sangat sulit sekali terwujud karena sekarang ini mencari seorang figur sosok pemimpin yang sekaligus teladan itu seperti mencari benda di bawah reruntuhan puing-puing bangunan yang hancur karena gempa.

Banyak orang yang mengaku dan menempatkan diri sebagai pemimpin, baik formal maupun nonformal karena ambisinya untuk menduduki jabatan itu maka harus ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar. Bagaimana mungkin mereka bertanggung jawab atas beban yang menjadi tanggung jawabnya.

Lalu seperti apa sosok pemimpin yang diharapkan? Allah berfiman:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin,” (QS.At-Taubah: 128).


Dalam peristiwa menghadapi perang Badar, Nabi dan umat Islam secara serempat bersama-sama bekerja bakti menggali parit, di situ tiada yang nampak mana pemimpin dan mana yang dipimpin, mana yang kelas menengah ke atas mana yang akar rumput. Pemimpin tidak memilih pekerjaan yang ringan-ringan. Bahkan ketika didapati sebuah batu yang tidak mampu dipecahkan oleh para sahabat pekerjaan itu diambil alih oleh Rasulullah.

Tidak hanya perasaan hatinya yang ikut hanyut terbawa penderitaan bawahannya dan berupaya cepat mengatasi penderitaan rakyat, maka menanamkan rasa kasih sayang terhadap sesama mukmin adalah penjelmaan keperibadian sosok pemimpin yang jujur sekaligus sebagai teladan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari seorang pemimpin, walaupun tidak mungkin bisa menyejajari sifat utama para Nabi, tetapi ini wajib dimiliki pemimpin teladan. Pertama, sidik atau berkata dan berbuat benar. Kedua, amanah bisa dipercaya, artinya semua amanat yang untuk rakyat. Ketiga, tablig, segala kebenaran harus sampai di tengah-tengah rakyat atau transparan. Keempat, fathanah cepat dan tepat mengambil keputusan demi kepentingan rakyat.

Lalu bagaimana dengan cerita tentang penegakan hukum dan aparatnya di negeri ini ?. Masih sering tersiar kabar tentang aksi-aksi perusakan atau penyerangan terhadap pos-pos atau kantor polisi. Menurut para ahli sebagaian besar hal tersebut merupakan buah dari makin berkurangnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap polisi sebagai aparat penegak hukum.

Rasa ketidakpercayaan tersebut terakumulasi, dan ujung-ujungnya masyarakat kita cenderung melampiaskan kekecewaannya dengan main hakim sendiri. Belum lagi permasalahan mafia hukum yang menambah citra buruk kepolisian negeri ini.

Bahkan salah seorang tataran pimpinan polri, justru didakwa kasus penyuapan saat sedang berkoar-koar mengungkap kasus mafia hukum. Lagi-lagi sepertinya kita butuh sosok teladan di sini. Jika kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, tepatnya pada zaman orde baru, dalam dunia kepolisian, nama Hoegeng tentunya tak asing lagi.

Beliau sekiranya dapat menjadi sosok teladan bagi aparat hukum negeri ini. "Di Indonesia hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu polisi tidur dan Hoegeng", begitulah kira-kira ungkapan Gus Dur untuk memberikan gambaran tentang Hoegeng.

Hidup bersahaja dan di dalam menegakkan hukum tak pandang bulu. Bahkan ia berani mengusut kasus penyelundupan mobil mewah di mana pelakunya disebut-sebut dekat dengan keluarga cendana.

Beliau merupakan sosok yang jujur serta konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum. Akan tetapi karena kejujuran serta kekonsistenannya tersebut beliau diberhentikan dari kapolri sebelum habis masa jabatannya. Patutlah ia menjadi sosok teladan bagi lembaga kepolisian negeri ini dan juga bagi masyarakat.


laptop gratis


Kita sudah ketahui bersama bahwa beberapa hari yang lalu, Komisi III DPR akhirnya secara aklamasi menyetujui Komjen Polisi Timur Pradopo sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia menggantikan Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri. Keputusan ini diambil usai uji kelayakan dan kepatutan yang berlangsung selama hampir 11 jam.

Beberapa fraksi memberikan catatan khusus sebelum Timur dilantik menjadi Kapolri. Anatara lain Kapolri harus bisa melakukan reformasi di dalam tubuh Kepolisian dan tidak boleh terjebak sebagai alat kekuasaan dalam pemilu. Timur harus mampu meminimalisasi korupsi yang masih menyelimuti Polri di empat zona rawan korupsi yakni pelayanan, perizinan, zona fiskal, dan zona manajemen personalia.

Semoga saja Komjen Pol Timur Pradopo dapat berbuat yang lebih baik sehingga menjadi sosok panutan yang sudah lama dirindukan. Amin…..

Jumat, 15 Oktober 2010

Untuk Kita Renungkan


Peringatan' demi 'peringatan' dari sang Pencipta diperlihatkan terus secara beruntun di negeri ini. Selasa, 12 Oktober 2010, misalnya, terjadi longsor di Desa Bungini, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.

Data yang diperoleh, puluhan orang tewas, dan tidak sedikit pula yang belum diketahui rimbanya. Sebelumnya banjir bandang terjadi di Kota Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Ratusan orang yang terenggut jiwanya dan hilang disapu banjir.

Jauh hari sebelumnya, atau sejak sekira empat bulan yang silam, sebagian wilayah Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo, serta sebagian Luwu terkena banjir. Beberapa tempat di wilayah tersebut bahkan masih terendam hingga saat ini. Di Luwu Raya, banjir seperti datang 'menggilir' kabupaten/kota yang termasuk dalam wilayah ini.

Hasil penelitian menyebutkan, sebagian wilayah Indonesia berada di daerah rawan. Tidak heran kemudian bila di Indonesia sering dilanda bencana, seperti gempa bumi, gunung meletus, longsor, banjir, kekeringan, tsunami.

Meski demikian, kejadian demi kejadian itu bukan semata-mata diakibatkan oleh alam, tetapi juga bisa diperparah oleh tangan-tangan manusia, antara lain dalam bentuk kontribusi sektor industri, atau penebangan hutan secara liar dan tak terkendali. Hal itu terbukti dengan terbawanya kayu-kayu gelondongan ikut tersapu air yang bercampur dengan lumpur.

Pertanda apakah itu ?. Apakah karena bumi sudah semakin tua dan sudah semakin mendekati kiamat ?. Apakah peningkatan frekuensinya itu ada hubungannya makin meningkatnya kebejatan tingkah polah manusia ?. Apakah tak ada hubungannya dengan apapun juga ?. Bukan pertanda apapun juga ?. Semua itu hanyalah semata kejadian alam yang biasa-biasa saja ?.

Dalam budaya keyakinan spiritual kita, ada yang meyakini adanya korelasi hubungan erat yang saling pengaruh mempengaruhi antara kejadian/peristiwa/situasi di jagad gede (macro cosmos / alam / bumi jagad raya) dengan kejadian / peristiwa / situasi yang ada di jagad cilik (insan manusia / masyarakat).

Sehingga seringkali peristiwa-peristiwa alam yang terjadi dijadikan bahan untuk intropeksi terhadap dirinya pribadi (termasuk juga intropeksi terhadap tata masyarakatnya) agar menjadi selaras dan harmoni dengan alam. Maka tak heran, jika jika dirasakan sedang alam murka, mereka lalu mencoba melakukan laku tirakat, agar alam kembali reda amarahnya.

Takhayul Bidah Khurafatkah tindakan mereka itu ?. Kuno dan anti kemajuan serta modernitaskah keyakinan spiritual mereka itu ?.

Ajaran Islam sesungguhnya secara implisit mengajarkan pula bagaimana hubungan tindakan yang bersifat pribadi akan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya walau mereka tidak ikut melakukannya. Salah satu diantaranya adalah perbuatan zina, dimana konon disekelilingnya (40 rumah) yang ada disekitarnya akan kehilangan barokah dari-Nya karena adanya perbuatan itu.

Ada lagi tentang hukum Fardhu Kifayah, dimana jika tidak ada sekelompok kaum Muslim yang melakukannya maka semuanya ikut menanggung dosa karena terabaikannya kewajiban Fardhu Kifayah tersebut.

Jadi, benarkah memang hukum alam itu konon katanya terjadi karena kehendak alam semata yang menisbikan adanya campur tangan dari Dzat Yang Maha Tunggal serta Maha Kuasa ?.

Memang, tak ada kejadian sekecil apapun di alam ini yang terjadi tanpa sepengetahuan dan ijin dari Allah SWT. Akan tetapi, tak ada salahnya jika kita semua mencoba mulai berintropeksi diri. Karena semua olah kerja dan tindakan serta raihan keberhasilan yang kita dapatkan dan kita bangga-banggakan itu tentunya bisa terjadi karena atas sepengetahuan dan ijin dari Allah SWT, namun sudahkan izin-Nya itu juga disertai dengan Ikhlas dan Ridho-Nya ?.

Tak ada salahnya kita berintropeksi diri, sebab ada beberapa jenis perbuatan maksiat yang jika sudah kelewat batas akan mengundang datangnya bala bencana. Dimana bala bencana itu akan menimpa kepada semuanya tanpa kecuali, tidak hanya kepada mereka yang melakukannya.

…Bila perzinahan dan riba (penyelewengan) telah terang-terangan dilakukan oleh penduduk suatu negeri maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan bagi diri mereka untuk terkena azab Allah… [HR. Bukhari]

Zolimkah Yang Maha Kuasa atas azab yang ditimpakan-Nya itu ?. Bergelimang dosakah mereka yang sedang diuji oleh-Nya dengan bala dan bencana ?.

…Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau yang lebih berat daripada itu melainkan dengan ujian itu Allah SWT menghapuskan perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagai mana pohon kayu menggugurkan daun-daunnya… [HR. Bukhari dan Muslim]


Sucikah kita yang sampai saat ini tak tersentuh oleh ujian berupa bala dan bencana-nya ?.

Allah SWT terkadang justru menguji kita dengan kenyamanan dan keamanan serta waktu yang panjang untuk terus berbangga memamerkan semua perbuatan dosa dan maksiat tanpa sempat menyadari perbuatan kita sampai akhir usia renta sehingga tak tersisa lagi waktu untuk bertaubat kepada-Nya.

Masih ingatkah kita semuanya tentang adanya hizab pada hari setelah kiamat nantinya, dimana tak akan ada kejahatan seberat zarah pun yang dapat disembunyikan ?.

…Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)-nya, dan manusiapun bertanya : “Mengapa bumi (jadi begini) ?”. Pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu (Allah SWT) telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula… [QS : 99 : Al Zalzalah].

Wallahualambishsahwab.

laptop gratis





Untuk saudara-saudaraku yang sedang dirudung duka. Teriring doa, semoga mereka yang meninggal diampuni segala dosanya dan diterima semua amal ibadahnya, mereka yang ditinggalkan juga mereka yang sedang dirudung duka dan lara diberikan ketabahan dan kesabaran serta menjadikannya semakin meningkat derajat iman taqwanya. Amin Allahumma Amien Ya Kariem…



Minggu, 10 Oktober 2010

Fenomena Kehidupan di Rumah Sakit jiwa


Saya pernah berkunjung ke salah satu Rumah Sakit Jiwa yang ada di Makassar. Tapi kunjungan saya bukan sebagai Pasien, melainkan menemani seorang sahabat untuk menjenguk keluarganya yang sementara di rawat disana.

Di rumah sakit jiwa tentu saja yang dirawat adalah orang sakit jiwa, bukan sakit yang lain. Di rumah sakit jiwa, ada pasien yang diisolasi, ada pasien yang ditempatkan di ruang bersama dalam pengawasan ketat, ada pula yang sudah diberi kebebasan relatif di ruang atau halaman terbuka.

Tingkah para pasien di rumah sakit jiwa juga macam-macam. Ada yang selalu mau mengamuk, ada yang duduk bingung sendiri, ada yang terus-terusan mengoceh, ada yang selalu tertawa, dan sebagainya.

Di rumah sakit jiwa fenomenanya memang aneh-aneh. Di sepanjang koridor rumah sakit, ada seorang gila yang kerjanya terus menyapu lantai. Dia terus menyapu dengan rajin dari ujung ke ujung. Anehnya, di belakangnya berjalan pasien lain yang kerjanya menghamburkan sobekan kertas.

Jadinya, satu menyapu terus yang satunya lagi mengotori terus. Yang menyapu tidak marah dan tidak menegur pasien yang membuang kotoran, dan yang membuang kotoran acuh saja dengan temannya yang terus menyapu membersihkan.

Dua-duanya asyik dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Perbuatan baik dan perbuatan buruk boleh saja berlangsung bersama, yang penting "aman-aman" saja, tidak ada yang saling mengganggu.

Photobucket


Fenomena di rumah sakit jiwa rupanya bisa dimaklumi seperti itu. Orang boleh saja ngoceh sendiri. Orang boleh saja tertawa sendiri. Yang menyapu lantai terus saja menyapu tidak peduli ada yang mengotori. Yang mengotori lantai terus saja mengotori tidak peduli ada yang capek menyapu.

Di rumah sakit jiwa semua boleh, yang penting aman dan tidak merusak. Pertanyaanya adalah, bagaimana di luar rumah sakit jiwa? Bukankah di luar rumah sakit jiwa juga kebenaran dan kebatilan bercampur-baur, semua boleh dan tidak saling peduli?

Mari renungkan bersama... moga saja kita tidak ikutan jadi pasien. Amin!

Rabu, 06 Oktober 2010

Hidup Ini Jalani Saja

Jalani Saja


Hakekat hidup adalah menjalani, mungkin sebagian orang sering berkata dengan landai, Sudahlah hidup ini “JALANI SAJA...”. Mungkin sebagian kita bertanya, mengapa tidak berusaha sekuat tenaga ?, dua-duanya benar, hanya, di letakkan di mana ungkapan tersebut.

Manusia merupakan makluk paling sempurna di muka bumi, kesempurnaanya di letakkan dalam Akal dan Fikiran. Sedangkan akal dan fikiran hidup karena adanya Zat Mulia dari Allah yang sering disebut dengan Zat Ilahi atau Ruhul Qudus yang ada dalam diri manusia, sehingga manusia dikatakan Wali di muka bumi. Wakil Allah untuk memelihara dan memanfaatkan bumi dan isinya.

Catatan... Manusia dalam memelihara dan memanfaatkan bumi dan isinya harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan sebagaimana firman Tuhan dalam kitab-kitab-Nya.

Bila sebagian manusia berujar ” Hidup ini jalani saja... atau hidup ini tinggal menjalani...”. mungkin mereka mendasari, dengan keyakinan yang sangat tinggi bahwa apa yang terjadi kepada diri kita dan semua manusia, itu merupakan “ Kejadian yang terbaik ”, dan sesuai ketentuan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Tentunya hal itu sesuai dengan amal perbuatan masing-masing manusia. Sehingga dalam firman-Nya “ sekecil apapun perbuatan manusia, walaupun sebiji zarah, maka akan dibalas “, yang artinya juga bisa dimaknai “ Baik dengan baiknya, buruk dengan buruknya”.

Penyederhanaan ungkapan “ HIDUP INI JALANI SAJA”, sesungguhnya mengadung makna yang sangat dalam, di mana ungkapan tersebut terdapat perilaku sederhana, jujur, iklas dan legowo. Tentunya dalam ungkapan tersebut mempunyai implikasi “ Mencoba menikmati detik-demi detik seiring perjalanan waktu “. Nah dalam kesadaran yang demikian tinggi itulah sesungguhnya manusia mampu berfikir dengan tenang, arif, lembut dan teliti.

Akhirnya manusia bisa menikmati hidup dan mengurai persoalan demi persoalan, sehingga mampu mendapatkan hakekat peristiwa yang dialami yang akhirnya mendapat manfaat dan berkah dalam setiap langkah, inikah wujud ibadah sesungguhnya..?. lantas apa yang dimaksud dengan persoalan hidup...?. sesungguhnya tergantung dari mana sisi pandang serta bagai mana mensikapinya. Mungkin demikian..?.

Photobucket

Hidup ini teramat singkat, maka kita harus mengisinya dengan segala sesuatu yang benar-benar bermanfaat. Bukan cuman sekedar hidup dan numpang lewat saja. Jika memang hanya ibarat mampir sejenak. Maka kita harus menjadikan tempat persinggahan ini menjadi sesuatu yang akan selalu diingat dan dikenang oleh dunia. Karena hidup yang kita jalani kini adalah cerminan akan menjadi apa kita kelak. :)


Yang diangankan dan yang dicita-citakan manusia adalah bahagia, selamat di dunia dan di akhirat. Dan yang ditakuti adalah persoalan. Padahal keduanya merupakan untaian setali tiga uang. Satu keping uang yang bernilai sama, hanya berbeda gambaran. Apakah akan mempersoalkan gambarnya..? atau mencoba memanfaatkannya sesuai nilainya, untuk mencapai tujuan...?, mari kita renungkan bersama.



Senin, 13 September 2010

Kebenaran Vs Kemarahan


Teks religius yang bertebaran di bulan suci Ramadan, bukan hanya merupakan penyegaran teks iman yang merujuk Alquran dan hadist Nabi, di mana kedua ensiklopedia itu menjadi world view kebenaran umat muslim yang tak dapat dirasionalkan dengan teks logika manusia.

Maka implementasi teks religius Ramadhan akan mempunyai arti dan manfaat jika perilaku dan sikap kita konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi satunya kata dengan perbuatan, tak hanya merupakan konsistensi teks religius dalam menjalankan ibadah , tapi juga termasuk pengabdian dalam menjalankan amanah rakyat.

Salah satu cara untuk mengimplementasikan teks religius Ramadan adalah dengan berupaya untuk tidak mencampur kebenaran dengan kemarahan. Betapapun kebenaran hendak ditegakkan, janganlah ia ditegakkan dengan mengumbar kemarahan, bertindak anarkis dan merusak.

Menegakkan kebenaran, memperjuangkan tegaknya hukum, apalagi itu hukum-hukum Allah secara langsung adalah tugas amat mulia dan amat tinggi nilainya. Tapi tidaklah boleh, mentang-mentang ingin menegakkan kebenaran, lalu itu dianggap sebagai legitimasi untuk melakukan pengrusakan.

Itu sebabnya, dalam perang sekalipun, Tuhan melarang menebang pohon, melarang menyakiti perempuan, orang tua, dan anak-anak.

Menegakkan kebenaran memang adalah tugas mulia. Tapi menggunakan kemarahan, tidak ada lain yang menjadi panglimanya kecuali iblis yang telah merasuk ke dalam hati.

Ketika seseorang merasa dirinya ingin menegakkan kebenaran, hukum, moral, keadilan atau kebaikan apapun, namun ketika ia melakukannya dengan umbaran kemarahan dan merusak, maka ia patut bertanya jujur pada dirinya sendiri, bertanya sedalam-dalamnya kepada nuraninya, apakah memang sungguh mau menegakkan kebenaran itu, atau sebenarnya ia sedang marah, sedang tidak suka kepada orang yang dimarahinya, atau dongkol karena ada keinginannya tidak terpenuhi.

Suatu ketika, dalam perang, sahabat Nabi, sosok yang sangat ditakuti kaum musyrikin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, duel melawan seorang pentolan pasukan musuh. Tapi ketika Ali hendak menghunjamkan pedang ke dada musuhnya, tiba-tiba musuh itu meludahi wajah Ali karramallahu wajhah.

Seketika Ali mengurungkan niatnya menghunjamkan pedang ke dada musuh. Alasannya, dia khawatir tidak bisa membedakan motifnya membunuh musuh, apakah karena menjalankan perjuangan suci jihad fi sabilillah, atau karena marah sebab wajahnya diludahi.

Di belakang kebenaran ada Tuhan yang menjadi sumber kebenaran. Di balik kemarahan dengan dalih mau menegakkan kebenaran, ada iblis bertahta dalam hati, memerintah sebagai panglima.


Sabtu, 11 September 2010

Manusia Atau Keledai


Keledai itu hewan mirip kuda. Tapi badannya lebih kecil. Dalam Alquran keledai beberapa kali disebut sebagai sebuah alegori.

Ketika Luqmanul Hakim memberi nasihat pada putranya, maka salah-satu isi nasihatnya, "Sederhanakanlah dirimu ketika berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."

Dalam Alquran, keledai disebut himar. Suaranya disebut sebagai seburuk-buruk suara. Bagaimanakah sebenarnya suara keledai? Walaupun bentuk badannya mirik kuda, suaranya tidak mirip kuda. Kuda meringkik sedangkan keledai tidak. Suara keledai, memang jelek didengar, melengking tajam. Ada yang menyebutnya seperti "merobek langit". Pokoknya, orang tidak suka mendengar suara keledai.

Untung saja keledai tidak sering bersuara, bahkan amat jarang memperdengarkan suaranya. Konon, ketika semua makhluk diciptakan, pertama kali yang dia keluarkan suaranya. Yang tidak mengeluarkan suara hanya keledai. Keledai baru bersuara ketika ia lapar. Dari sini ada I'tibar, jangan baru mau bersuara kalau menyangkut urusan perut. Itu namanya manusia keledai.

Ada yang mengatakan bahwa keledai adalah binatang paling dungu. Ternyata itu tidak benar. Keledai justru amat cerdas dan memorinya kuat.

Keledai dengan segera dapat menghapal satu rute perjalanan panjang dalam sekali menempuhnya. Dia akan segera hapal, mana lubang, mana batu dan mana bagian jalan yang jelek. Itu sebabnya, tuannya tidak perlu repot mengendalikannya. Keledai bahkan bisa dilepas sambil berjalan sendiri mengikuti rute yang sudah pernah dilaluinya dengan aman.

Zaman dulu, terutama di Timur Tengah, keledai merupakan andalan pengangkut beban. Bahkan para ulama menjadikannya sebagai pembawa kitab.

Tentang keledai bawa kitab ini, Tuhan mempunyai perumpamaan untuk pemuka-pemuka Yahudi dahulu. Mereka diumpamakan sebagai keledai yang membawa-bawa kitab, karena mereka hanya menenteng kitab Taurat di tangannya tapi tidak mengamalkan isinya.

Tentu saja perumpamaan itu tidak hanya ditujukan Tuhan kepada pemuka Yahudi pemegang Taurat. Ia juga berlaku pada siapa saja yang hanya pamer menenteng kitab suci namun tidak mau tahu isinya dan tentu saja tidak mengamalkannya.

Bulan Ramadan yang sudah kita lalui adalah momentum untuk kita semakin memanusiakan diri dengan sifat-sifat kemanusiaan sejati. Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran. Di dalam Alquran ada alegori-alegori tentang hewan, seperti tentang keledai itu. Tujuannya agar manusia tetap sadar mau menjaga kemanusiaannya. Jangan sampai manusia lebih cenderung menghewan karena sifat-sifat buruknya.

Jangan sampai manusia jadi manusia keledai, yang baru bersuara kalau menyangkut urusan perut. Betapa bahayanya manusia bila nafsu menyeretnya hingga berperilaku bagai hewan. Daya rusaknya terhadap kehidupan sangat besar dan berlangsung lama. Betapa tidak, karena manusia punya kecerdikan berpikir. Ketika kecerdikannya terpadu dengan nafsu buruknya, maka lahirlah manusia licik yang amat bahaya. Semoga saja kita tidak termasuk di dalamnya, Amin.


Kamis, 09 September 2010

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H

Udara lebaran mulai tercium segar di pipirnya shalat witir
Rakaat-rakaat tarawih menyulam sela-sela iman yang menjaring saktinya lailatul-qadr
Sang dambaan jiwa yang sulit didekap, sang dambaan hati yang sulit didekati.

Puasa saat ini masih seperti dulu
Yang melakonkan lapar, dahaga, tarawih, dan sahur sebelum subuh.
Yang merebut waktu mulia,
lewat Asma besar-Nya Lewat tasbih, tahmid dan takbir
Lewat tafakur berluhur-luhur
Lewat shalat tak memandang harkat
Lewat berzakat merela hajat.

Namun, nilai puasa dulu tak tentu setahap dengan nilai puasa kini
Sebab puasa yang tak berbekas pada kehidupan setelah lebaran adalah puasa semu yang menipu waktu, puasa palsu yang rendah mutu.

Tatkala waktu berjalan menakari ruang-ruang zaman
Manusia bumi gontai menapaki dosa demi dosa sambil mencibiri kesucian fitri
Wajah bumi yang berseri bersih menjadi suram terpulas jiwa durjana
Terkusami hati dengki sang manusia lalai.

Waktu tafakur terkubur tanpa syukur
Nurani jadi mati, manusia sombong berteriak nyaring,”Aku ingin hidup seribu tahun lagi, tanpa sanksi-sanksi yang membuat risi”

Alhamdulillah....
Betapa nikmatnya bertajil setelah perut kentil Berkat fitrah nikmat yang dikaruniakan Sang Pemberi Nikmat.
Betapa segar sayur asam dalam kunyahan di magrib yang semakin malam
Dan adzan Isya menggapai insan agar bersegera ke surau atau masjid
Tolibul ilmu lewat seruan para ulama, tersambung tarawih dengan niat bersih.



Gema tasbih, tahmid dan takbir memecah kesenyapan
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya kuasar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya galaksi kembar
Dialah yang punya Arsyi tak bertepi
Dialah yang punya segala cakrawala
Segala segara
Segala cemerlang mega yang tak berlentera
Segala lintang yang tak bertiang
Segala nebula yang tak berjendela
Bahkan segala langit yang sulit diintip

Puasa usailah sebulan sudah
Tarawih lengkap, I’tikaf pun tak khilaf
Namun, muslim bersimbah asa dan tanya
“Apakah puasa saya diterima?”

Takbir mencibir gaun baru warna biru
yang mengetat di atas dengkul gadis bahenol.
Zakat fitrah menceria sang fakir yang ketir
di syawal pagi yang membahagia nurani
Ketupat bertumpuk di segala ufuk
Sambal goreng berselera-selera di segala cakrawala
Bolu kukus berdus-dus mencengangkan para tikus
Nasi kuning tak membikin jiwa bening
Sebab jiwa kufur masih bertengger di sanubari.

Horseeeiii! Lebaran kebacut !
Menjadi pesta poranya pikiran kusut
Para setanpun bersorak menjegal silaturrahmi
Yang lupa waktu dan tak tahu diri.
Zhuhur terlewat berkat kunjungan panjang ke rumah sobat
Azar nyasar ke magrib...
berkat bertandang di si dindun yang semakin heidun
Lantas isya diperkosa di malamnya pesta pora
Dan tegaknya shalat subuh menjadi runtuh
ketiban tubuh yang lusuh.

Mumpung Lebaran, aji mumpung kembali disanjung
Mumpung baju baru sepatu baru
Kue keju berselisih saling gurih di lidah yang semakin pedih
Mumpung kue nampang di setiap kandang
Dan si fakir yang ketiban zakat di hari lebaran kembali fakir
Melodi lama berkumandang riang
Melagukan ’sengsara badan’ dalam tone bariton
Si miskin dan si kaya kembali saling bertolak belakang

Puasa yang diharapkan mewujudkan kesederhanaan jiwa manusia,
telah diartikan lain oleh segelintir makhluk yang bermental binal
sehingga dampaknya jadi konsumtif.
Lebaran yang diharapkan mencanangkan manusia
kembali kepada fitrahnya
kembali kepada kejujurannya
kembali kepada kesuciannya
malah menjadi cikalnya mubazir.

Akhirnya sang setanpun berteriak senang
dalam kemenangan yang gemilang
Setan yang dikerangkeng oleh mental baja kita selama Ramadhan
Yang dilandasi iman yang tangguh dan ketaqwaan tiada tara
Yang diborgol oleh pengabdian tulus terhadap Allah SWT.

Semoga kita ini termasuk yang mampu mengkrangkeng setan
Berkat puasa kita yang khusu’
Yang mewangun mental baja
dalam melaksanakan amal shaleh hingga akhir hayat
Perlu dicamkan ” Lebaran bukanlah bubarnya kebajikan

Puasa adalah wajib, Bersilaturahmi adalah baik kendati tak usahlah terpatok cuma setahun sekali Kapan dan dimanapun silaturahmi karena Allah itu mulia terlebih lagi pada hari Idul Fitri.

Saya sekeluarga mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H

TaqobbaLallaHu minNa wA MinKuM

Minal AidziN WaL FaidziN

Mohon MaaF LahiR & BaThiN



Kamis, 02 September 2010

HIDUP SEORANG BLOGGER dan Tradisi Mudik


HIDUP SEORANG BLOGGER
menjelang lebaran tentunya disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang sudah merupakan rutinitas tahunan yang harus dijalani. Ada yang sibuk bikin kue, ada yang sibuk antri pesan tiket pulang kampung, ada pula yang pergi ke mall beli baju dan sepatu baru, hingga mall dan pusat perbelanjaan padat manusia sementara masjid mulai kosong melompong nyaris tak berpenghuni.

Biasanya, awal Ramadhan Masjid penuh. Kini, di sepuluh hari terakhir, shalat tarawih hanya menyisakan beberapa shaf saja, itupun kebanyakan yang sudah berumur.

Stasiun, terminal dan bandara menjadi lautan manusia. Jalan macet dan angka kecelakaan meningkat tajam. Situasi seperti itu sudah menjadi hal yang biasa menjelang lebaran. Mudik, ya....... tradisi yang sudah begitu melekat. Seolah-olah tanpa mudik lebaran tak bermakna.

Sedihnya lagi, kebanyakan diantara yang mudik lebaran atau yang sibuk dengan baju baru dan kue lebaran justru melalaikan puasanya. Naudzubilahi min dzalik...... Puasa yang sedianya 29 hari atau maksimal 30 hari itu hanya bersisa hitungan jari.

Bulan Ramadhan
adalah bulan penuh berkah. Satu kebajikan dibalas sepuluh kali lipat. Allah SWT menurunkan rahmat, menghapus dosa dan mengabulkan do’a. Allah SWT juga membangga-banggakan orang yang berpuasa kepada para malaikat-Nya. Namun tidak sedikit orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah SWT pada bulan ini

Sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan yang didalamnya terdapat malam kemuliaan, yang lebih mulia dari seribu bulan berlalu tanpa kesan. Sedangkan kebanyakan diantara kita menyibukkan diri dengan mudik, baju baru dan kue lebaran. Uang, mungkin jutaan rupiah kita rogoh untuk bertemu sanak famili di kampung sementara malam kemuliaan berlalu begitu saja. Seakan malam kemuliaan itu tidak penting dan bukanlah sesuatu yang dinanti-nanti, sebaliknya yang menjadi penantian justru mudik, baju baru dan kue lebaran.

Akankah malam kemuliaan itu pergi tanpa kesan?. Manakah yang lebih penting mudik untuk bertemu sanak keluarga dan bermaaf-maafan yang dapat kita lakukan tidak hanya saat lebaran dibandingkan dengan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan yang umur kita saja belum tentu bisa menggapainya?

Semoga saja tradisi mudik yang merupakan rutinitas HIDUP SEORANG BLOGGER bisa menjadi bahan perenungan kita semua untuk ditinjau kembali. Tidak ada salahnya kita mudik, tidak ada salahnya beli baju baru dan tidak ada salahnya menyediakan kue lebaran . Namun yang perlu menjadi perhatian adalah kualitas ibadah kita perlu lebih dimantapkan menjelang lebaran.

Puasa dalam bulan ramadhan bagaikan memintal benang yang terurai semrawut, yang setelah dipintal dengan tekun, menjelmalah dalam wujud yang baru, yaitu benang kokoh yang tak mudah putus, benang yang banyak memberikan manfaat bagi segenap keperluan.

Puasa adalah wajib,
Bersilaturahmi adalah baik kendati tak usahlah terpatok cuma setahun sekali Kapan dan dimanapun silaturahmi karena Allah itu mulia terlebih lagi pada hari Idul Fitri.

Kalaupun kita berbuat salah kepada orang tua atau kerabat lainnya, bukankah kita bisa minta maaf saat kita berbuat salah ketimbang kita tidak mendapatkan malam kemuliaan itu. Apakah kita menganggap mudik lebih penting dari malam kemuliaan?. Semoga saja tidak.


Jumat, 09 Juli 2010

Hikmah Isra Mi'raj

Hari ini Jum'at tanggal 9 Juli 2010 M bertepatan dengan 27 Rajab 1431 H sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam.

Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi'raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama yang Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi'raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut.

Kita kenal, Isra' wal Mi'raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.

Dalam sitausi seperti inilah, rupanya "rahmah" Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "warahamatii wasi'at kulla syaei", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan.

Artinya, bahwa kita adalah "rasul-rasul" Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah "perjalanan" yang menyejukkan. "Allahu Waliyyulladziina aamanu" (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman". Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan.

Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. "Wa laa taeasuu min rahmatillah" (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah).

Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit "dendam", dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang "ma'shuum" (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?

Rasulullah adalah sosok "uswah", pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja "muballigh" (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi "percontohan" bagi semua yang mengaku pengikutnya. "Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah".

Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan "suci" yang seharusnya dibangun dalam suasa "kefitrahan". Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup.

Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian "penentu" baik atau tidaknya seseorang pemilik hati.

Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. "Khatamallahu 'alaa quluubihim".

Di Al Qur'an sendiri, Allah berfirman" yang Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya". Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju "ilahi" dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.

Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri "suci".

Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan "ketidak senangan" terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.

Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.

Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya.

Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama'ah, dan tidak tanggung-tanggung ma'mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma'mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan "leadership", walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam.

Kepemimpinan dalam shalat berjama'ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: "Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan". Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.

Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria "imaamah" atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur'an masih menjadi "tanda tanya" besar pada kalangan umat ini. "Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami".

Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama'ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif.

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni'matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni'mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni'matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.

Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan "dzikir", dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. "Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari "fadhalNya" dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj).

Mengakhiri tulisan ini hendaknya kita semua harus memperbaiki diri dan berkaca kepada setiap musibah dan bencana yang sering terjadi. Bukan hanya bencana alam saja yang bisa kita resapi dan kita maknai, melainkan bencana moral yang telah banyak melenceng baik dari tata kehidupan para selebritis, pejabat eksekutif, yudikatif maupun legislatif hingga masyarakat biasa telah banyak terefleksi dan sungguh telah jauh berpijak dari rel-rel kehidupan yang baik dan hakiki sesuai syariat Islam.

Semoga hal ini dapat menjadi pijakan kita untuk melangkah ke depan yang penuh makna dalam menjalani sisa-sisa hidup kita yang semakin hari tanpa disadari jatah usia kita semakin berkurang.

~~~~~~~~~~~~



PS : Jangan lupa tetap dukung saya dalam Spread Ask Ralarash Contest dengan mengklik link dibawah ini,
Funny Myspace Comments



Terima Kasih atas dukungannya. Salam hangat selalu.


Selasa, 15 Juni 2010

KARENA MULUT BADAN BINASA


Menggunakan mulut untuk melampiaskan emosi, atau terkadang seseorang mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh untuk memancing emosi lawan. Hal seperti ini sudah merupakan kejadian yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dirumah, dipasar ataupun di ajang kampanye terlebih lagi dalam arena olahraga.

Mungkin kita masih mengingat kejadian saat perhelatan akbar piala dunia 2006 lalu, dimana Zinedine Zidane, bintang kesebelasan Prancis terprovokasi hinaan Marco Materazzi, pemain Italia. Zidane lalu menggunakan kepalanya yang cekatan menanduk bola, menanduk dada Materazzi. Akibatnya, Zidane harus keluar lapangan karena kartu merah. Maka terjadilah seperti kata pepatah, "karena mulut badan binasa".

Contoh tersebut menyadarkan kita, bahwa di mana-mana dalam kegiatan apapun, emosi harus bisa dikendalikan, demikian juga moral, etika dan etiket harus tetap dijaga. Pada pertarungan yang menggunakan otot sekalipun, kata-kata harus dijaga agar tidak mengucapkan kata yang tidak pantas.

Pelajaran ini hendaknya dipetik oleh beberapa oknum wakil rakyat yang gemar mengeluarkan kata-kata tak sedap ketika berdebat. Sedangkan dalam pertandingan sepak bola saja pemain bisa dikartumerahkan bila mengeluarkan kata-kata tak sedap. Seharusnya di forum sidang wakil rakyat harus lebih dilarang lagi.

Sayangnya pada sidang wakil rakyat tidak ada wasit dan tidak ada kartu merah. Sudah saatnya rakyat sebagai pemilik kedaulatan, benar-benar objektif memilih calon pemimpin daerahnya, dengan memilih yang benar-benar memiliki kapabilitas dan integritas moral.

Tulisan ini saya ungkap karena Ajang perhelatan akbar Piala Dunia 2010 kembali bergulir disamping didaerah saya seminggu terakhir sedang ada kampanye pemilukada, semoga saja kejadian seperti yang saya bahas diatas tidak terjadi di dua event tersebut, Amin....


Selasa, 01 Juni 2010

KAYA YANG SEBENARNYA


Pengusaha Budi Hartono masih memimpin sebagai orang terkaya di Indonesia dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia yang dirilis oleh Majalah Globe Asia, Senin (31/5/2010).

Berikut 15 orang yang masuk ke dalam daftar 150 Terkaya di Indonesia:
  1. Budi Hartono (Djarum) 4,8 miliar dollar AS
  2. Eka Tjipta Wijaya (Sinar Mas) 4 miliar dollar AS
  3. Anthony Salim (Salim) 3,6 miliar dollar AS
  4. Aburizal Bakrie (Bakrie) 3 miliar dollar AS
  5. Martua Sitorus (Wilmar) 2,5 miliar dollar AS
  6. Putra Sampoerna (Sampoerna Capital) 2,4 miliar dollar AS
  7. Sukanto Tanato (Raja Garuda Mas) 1,8 miliar dollar AS
  8. Dato Low Tuck Kwong (Bayan) 1,4 miliar dollar AS
  9. Peter Sondakh (Rajawali) 1,3 miliar dollar AS
  10. Eddy William Katuari (Wings) 1,3 miliar dollar AS
  11. Murdaya Poo dan Siti Hartarti (Berca) 1,1 miliar dollar AS
  12. Hashim Djojohadikusumo (Tirtamas) 950 juta dollar AS
  13. Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam) 890 juta dollar AS
  14. Mochtar Riady (Lippo) 805 juta dollar AS
  15. Prajogo Pangestu (Barito) 805 juta dollar AS.
Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu kita camkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup).

Orang yang kaya hati selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Kita semua ingin kaya, dan tidak ada larangan untuk itu, walaupun juga tidak ada anjuran untuk keinginan seperti itu. Namun hendaknya kita memperbaiki keinginan itu menjadi ingin kaya karena ingin bisa bersedekah. Hal sebagaimana dalam hadits Nabi tentang iri yang diperbolehkan, yaitu iri terhadap seorang mukmin yang kaya yang bisa berderma karena kekayaannya, dan iri tersebut muncul karena keinginan untuk berderma juga bukan karena yang lain.

Ingin kaya tanpa kerja keras? Sebaiknya jangan. Tanamkanlah pada diri kita bahwa untuk mencapai sukses di bidang apapun seseorang perlu bekerja keras. Untuk sukses di akhirat, seseorang perlu beramal dengan baik dan sungguh-sungguh. Tentu yang seperti merupakan keharusan. Untuk sukses di dunia juga demikian, perlu kerja keras.

Kaya seperti di sinetron jangan menjadi mimpi, tapi bekerjalah dengan tekun agar menjadi orang kaya yang sebenarnya. Setelah kaya jangan pelit, karena sebagian harta itu ada bagian bagi orang-orang miskin di sekitar kita.

Semoga bermanfaat.


Selasa, 25 Mei 2010

KEBIJAKSANAAN Vs PENGETAHUAN


Ada perbedaan antara kebijaksanaan dan pengetahuan. Orang bisa saja mengatakan bahwa kebijaksanaan adalah pengetahuan yang dibawa masuk ke dalam hati seseorang untuk kemudian dirasakan atau dialami sebagai kebenaran.

Kita tidak bisa mendapatkan kebijaksanaan dengan cara pasif menerima apa yang kita baca atau dengan mempercayai apa yang dikatakan orang lain kepada kita. Sebelum informasi yang kita baca atau dapat dari orang lain itu diuji oleh pengalaman kita sendiri, tidak mungkin ada kebijaksanaan.

Kebijaksanaan memerlukan perhatian terhadap kehidupan dan kesediaan untuk bertanya dan mengalami langsung apa yang benar.

Seringkali kita merasa apa yang kita lakukan adalah hal yang baik pada saat itu, tetapi kita tak menyadari hal itu akan membawa keburukan di waktu nanti

Berikut petikan email yang saya peroleh dari seorang sahabat, yang mungkin bisa menjadi bahan pencerahan berharga bagi kita semuanya. :

Suatu ketika terdapatlah seorang pertapa muda yang sedang bermeditasi dibawa pohon yang teduh dipinggir sungai. Saat sedang konsentrasi tiba-tiba perhatiannya terpecah dengan suara yang berisik. Kemudian ia membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata suara yang ditimbulkan oleh seekor kepiting yang sedang berusaha keras untuk mencapai tepian sungai dengan melawan arus. Karena merasa kasihan, pertapa itu mengulurkan tangannya untuk menolong. Seketika keriting itu dengan sigap menjepit tangan pertapa itu. Meskipun jarinya terluka karena jepitan kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena telah menyelamatkan si kepiting .

Belum lama bersila untuk melanjutkan meditasinya terdengar lagi suara yang sama dari tepi sungai , ternyata keriting itu mengalami kejadian yang sama. Kemudian pertapa itu kembali menggunakan cara yang sama untuk menolong kepiting itu, yang menyebabkan jari-jarinya terluka dan semakin membengkak.

Melihat kejadian ini, ada seorang tua yang kemudian datang dan menegur si pertapa muda itu, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hati yang baik. Tetapi , mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukai jarimu hingga sobek dan bengkak?”

Pertapa itu mencoba menjelaskan, “Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Oleh sebab itu saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka, asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain, saya sudah senang! “

Mendengar jawaban pertapa itu, kemudian orang tua itu mengambil ranting, lalu dijulurkan kearah kepiting yang terlihat sedang melawan arus. Segera si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya. “Lihat anak muda, melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak harus dengan mengorbankan diri sendiri. Ranting pun kita bisa manfaatkan, bukan begitu?” Kata-kata arif itu keluar dari mulut sang orang tua. Seketika itu juga pertapa itu tersadarkan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam hidup ini, banyak hal baik yang kita lakukan, tetapi tidak diiringi dengan kebijaksanaan, namun hanya menggunakan pemikiran dan kepintaran sendiri saja.

Seperti juga kita selalu mengikuti keinginan anak, apapun sampai yang tidak perlu kalau diminta pasti dibelikan, sekali lagi karena sayang. Tapi tanpa sadar kita telah mencelakakannya menjadi anak yang akan selalu memaksakan keinginannya. Selanjutnya hal itu akan terbawa sampai ia dewasa nantinya

Ada kata bijak mengatakan, orang bijak itu terlihat kejam, tapi hatinya sungguh lembut. Karena yang ia lakukan adalah semata untuk kebajikan.

Jadi intinya, jangan hanya menggunakan pemikiran dalam setiap hal yang kita lakukan, tapi pertimbangkan dengan kebijaksanaan, mungkin pada waktu itu kita akan tidak disenangi, tapi pada akhirnya nanti mereka pasti akan mengerti dan berterimakasih.

Moga ada manfaatnya terutama sekali buat saya tentunya.

Minggu, 16 Mei 2010

JIWA YANG LAPANG


Senyum tulus dan air muka nan teduh
Jabat tangan penuh damai dan pelukan mesra
Kebersahajaan kebenaran memang tak sama
Dengan sorot mata penuh curiga
Prasangka, dan pura-pura
Niscaya semua orang tahu
Benci dan dendam
tidak disebabkan oleh kerendahan hati
Tapi kesombonganlah yang menyulut permusuhan

Sungguh lapang hati ini
Memandangi pelaku kebajikan yang penuh senyum,
rendah hati dan terbuka
Namun sungguh sempit nian kalbu ini
Memandangi saudara kita yang beringas,
pongah dan pemaksa

Bercerai dalam kebajikan
Jauh lebih mulia dari pada menyatu dalam kubangan dosa.

Bila kebajikan mewujud menjadi sesosok manusia
Kuingin ia selalu menunjukkan jalan yang lapang
Dengan senyum tulus dan kebijaksanaan
Menuju kebahagiaan dan kedamaian
Tak memihak selain pada kesucian
Tak mengucap selain kebenaran
Adakah kita tak memuji-Nya
Karena keagungan sistem-Nya
Sungguh bebal mereka
Yang menganggap dirinya lebih mulia
dari manusia-manusia yang lainnya


Lewat postingan puisi ini perkenankan saya mempublish award yang diberikan oleh Sahabat Saya Kang Isro Machfudin. Sebuah Award persahabatan yang bertajuk “Award Jiwa Sukses”

Terima kasih saya ucapkan pada Kang Isro,… semoga jalinan persahabatan dikalangan narablogger sejati adanya, Amin.

Untuk Selanjutnya, Award ini saya persembahkan buat sahabat – sahabat saya :

Moga sudi menerimanya untuk selanjutnya “Award Jiwa Sukses” ini dapat digulirkan untuk sahabat lainnya.


Jumat, 14 Mei 2010

PERUBAHAN Vs PERGESERAN

Semakin lama Aku mulai merasakan
Aku berjalan bersama Kebodohan,
Banyak cerita terurai sepanjang jalan,
Namun tidak ada yang dapat aku pelajari darinya,
Meskipun begitu banyak yang dia katakan !
Pernah suatu ketika
Aku berjalan bersama Duka,
Tidak ada tutur sepatah kata,
Tetapi, ada hal-hal yang aku pelajari di hari itu,
Tatkala Duka berjalan bersamaku "

Dunia terus berputar. Bumi berputar, planet-planet lain berputar, sistem matahari berputar, alam semesta berputar.

Tapi seiring dengan dunia berputar, nilai-nilai kehidupan manusia tertukar-tukar. Yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Orang benar tidak laku, orang salah naik daun. Orang jujur tersingkir, orang curang dijunjung tinggi.

Menjelaskan fenomena ketertukar-tukaran nilai ini, paling tepat kita jelaskan dengan menggunakan pepatah terbalik-balik. Ya sekalian mengikuti jungkir-baliknya nilai-nilai kehidupan sekarang ini.

Sekarang pepatah yang tepat dipakai adalah "harimau mati meninggalkan nama, manusia mati meninggalkan belang". Artinya, sekarang harimau sudah terancam punah, suatu ketika akan tinggal nama saja. Adapun manusia, semakin tua, semakin lama makin tinggi kedudukannya, semakin banyak yang ketahuan belangnya. Jadinya, saat ia mati bukan nama baik yang ia tinggalkan, tapi nama buruk.

Moga kita tidak tergolong di dalamnya. Amin…


Minggu, 09 Mei 2010

PERGESERAN ATAU PERUBAHAN


Kemarin waktu Tutorial ke Makassar… saya nginep di salah satu kamar Kost punya siswa saya , itung-itung bernostalgia suasana kuliah dulu..

Ternyata tempat itu bersebelahan dengan kompleks kost mahasiswa cewek…., kenapa saya langsung tahu? Sedangkan rumah yang disebelah itu dalam keadaan kosong?

Kebetulan di depan rumah itu ada tempat jemuran, dimana berderet pakaian dalam yang sementara melambai-lambai tertiup angin.

Pakaian tersebut digantung dan dijemur begitu saja seakan sengaja diperlihatkan untuk umum.

Saya jadi mengeluh dalam hati……."Sangat bergeser jauh, dulu saat saya kost dulu, jarang ada pakaian dalam yang melambai dan di pertontonkan untuk umum di tempat jemuran, Sekarang malah seakan sengaja dipajang."

"Perubahan apakah yang menjadikan seperti itu?. Apakah karena lingkungan mereka yang baru menjadikan demikian?. Sekali lagi, ini kondisi sekarang. …

Hal ini juga terjadi dikalangan Anak remaja cowok, bagaimana cara berpakaiannya?

Model celananya melorot, kelihatan pakaian dalam, sehingga kita merasa waswas melihatnya. Mungkin lantaran model seperti itu, sehingga di Amerika ada gerakan “Naikkan Celana Anda," sesuai dengan apa yang pernah saya baca di salah satu Koran Ibukota.

Kembali soal pakaian dalam, saya teringat seorang rekan guru dari sebuah kota di Jawa Timur, ketika kami bersama mengikuti workshop pembelajaran ICT di Bogor tahun lalu.

Kami berdua ditempatkan sekamar. Saya perhatikan, ia sangat menjaga tingkah laku. Bila mandi, ia membawa seluruh pakaian gantinya ke kamar mandi, kemudian keluar dalam keadaan sudah rapi. Pakaian kotornya ia kepit, kemudian disimpan di bagian.........- entah. Tapi yang jelas selama empat hari sekamar dengannya, saya tidak pernah melihat pakaian kotor dan pakaian dalamnya digeletakkan begitu saja.

Baginya bagian dalam itu harus terjaga dengan baik. Hm, dia adalah manusia yang sangat menjaga diri-nya.

Bila kita berbicara nilai dan kebaikan, bukankah tidak akan bergeser , entah dulu maupun sekarang? Kondisi bisa berbeda tapi nilai kebaikan tidak akan berubah sampai kapan pun. Seberubah apa pun keadaan sekarang, kebaikan tetap kebaikan. Siapa pun orangnya, nilai kebaikan tetap sama."

Nilai itu tumbuh dari dalam. Nilai itu bersumber dari hati yang selalu tulus dan mengacu untuk berbuat baik, ujung-ujungnya menjadi manusia yang baik. Saya teringat pesan Bugis yang sangat indah.

Disebutkan bahwa yang harus kita jadikan pemimpin di dalam tubuh adalah hati yang baik. Ada juga yang dinamakan penumpang tubuh yaitu mata, telinga, lidah, dan hidung. Para penumpang itu kadang bertingkah.

Karena itu, jangan terlalu memercayai penglihatan mata, pendengaran telinga, perkataan lidah, dan penciuman hidung. Maka yang mesti diikuti adalah hati yang baik. Mata-hati yang baik tidak sembarang melihat, lidah-hati yang baik tidak sembarang berkata, telinga-hati yang baik tidak sembarang mendengar, hidung-hati yang baik tidak sembarang mencium.




Selasa, 27 April 2010

FILOSOFI MENGGALI SUMUR


Pernahkah Sahabat semua memperhatikan Seorang penggali sumur dalam melakukan kegiatannya? Apabila Kita menggali sebuah sumur, maka kita harus menggalinya jauh ke dalam sampai menemukan sumber mata airnya.

Dapatkah sumur itu penuh tanpa mencapai sumber air yang dalam itu?

Bila hanya bergantung pada hujan atau sumber luar lain untuk mengisi sumur itu, maka air itu hanya akan menguap atau diserap oleh tanah. Hanya jika kita menggali cukup dalam untuk mendapatkan mata air, maka kita akan sampai pada sumber air yang tak habis-habisnya.

Demikian juga halnya, jika kita hanya membaca sebuah buku atau lebih khusus lagi membaca ayat-ayat dari kitab suci, tanpa menggali lebih dalam untuk mencari maknanya, hal itu seperti menggali sebuah sumur tanpa mencapai mata airnya atau seperti mencoba mengisinya dengan air hujan.

Kedua cara ini tidak akan memadai. Hanya apabila kita membuka mata air yang ada di dalamnya dan ilmu Tuhan mengalir dari sana, maka mata air sifat-sifat Tuhan akan mengisi hati kita. Dan hanya setelah itu kita dapat menerima kekayaan-Nya. Yang akhirnya bermuara pada kedamaian dan Ketenangan.

Pendengaran, penglihatan dan hati atau akal adalah merupakan perangkat atau alat untuk menggali. Perangkat ilmu yang Allah berikan kepada kita semua merupakan sebuah potensi yang tiada ternilai harganya, dengan penglihatan, pendengaran dan hati (akal) manusia mampu menggali ilmu yang lebih dalam. Sehingga nantinya kita akan mendapatkan mata air yang mengalir tiada henti.

Dalam kehidupan kita pun filosofi menggali sumur ini juga berlaku. Tatkala baru menggali, siap-siaplah berjumpa lumpur (dicap munafik, dicerca, dihina, sok suci dan lainnya), namun teruslah menggali. Dengan ketekunan dan berkah spiritual yang cukup, suatu waktu kehidupan akan memperlihatkan wajah jernihnya (kebahagiaan, kedamaian, keheningan, keikhlasan).

Selamat menggali. Semoga semua berjumpa air jernih kehidupan!

Kamis, 22 April 2010

BERBUAT YANG TERBAIK UNTUK HARI INI


Jika datang pagi maka janganlah menunggu tibanya sore. Pada hari ini Kita hidup, bukan di hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan kejelekannya,dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang. Hari ini dengan mataharinya yang menyinari, adalah hari Anda. Hari kita semuanya....

Hanya untuk hari sajalah seharusnya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras.

Keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian pada jiwa dan raga, serta bersikap sosial terhadap sesama.

Hanya untuk hari ini saja, saat mana Anda hidup. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar membagi setiap jamnya.

Karena saya hidup untuk hari ini saja maka saya akan hidup untuk mengucapkan, "Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah bersama mataharimu.

Aku tidak akan menyesali kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetikpun untuk mengingatmu., apalagi untuk menyesalimu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi."

"Wahai masa depan, yang masih berada dalam lingkar misteri, aku tidak akan pernah bergelut dengan mimpi-mimpi dan tidak akan pernah menjual diri untuk ilusi. Aku tidak memburu sesuatu yang belum tentu ada karena esok hari tidak berarti apa-apa, esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan, dan tidak pantas dikenang. Namun wajib untuk dipersiapkan"

"Hari Anda adalah hari ini", adalah ungkapan yang paling indah dalam "kamus kesuksesan", kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang sukses dan menyenangkan.

Lantas harus bagaimanakah kita bersikap dalam menghadapi setiap masalah yang muncul pada hari ini? Hanya ada dua pilihan yang bisa kita ambil,Dua pilihan yang akan menghasilkan dua hal yang bisa terjadi sangat bertolak belakang.

“Orang Sukses Selalu Kelebihan Satu Cara ,Orang Gagal Selalu Kelebihan Satu Alasan”

“The Winner sees answer for every problem,The looser sees problem is every answer”

Seorang pemenang selalu melihat jawaban di setiap/masalah.Sedangkan seorang pecundang selalu melihat masalah di setiap jawaban.Tentu,ini adalah sebuah pilihan sikap yang menentukan akan menjadi bagaimana kita nanti.

Jika yang kita biasakan memiliki satu alasan di setiap rintangan,pastilah kita akan semakin tenggelam dalam kesulitanan. Sebaliknya,jika kita selalu memiliki satu cara untuk mencari solusi di setiap halangan pastilah kita akan muncul sebagai seorang pemenang.

Bagi saya sendiri melalui proses perjuangan yang saya alami,semua itu mengantarkan pada pengertian bahwa sukses sejati sebenarnya adalah akumulasi dari kegagalan-kegagalan yang mampu kita atasi. Setiap halangan,rintangan,ujian dan cobaan berupa kesulitan dan kegagalan sebenarnya merupakan sarana terbaik dalam melatih dan mematangkan mental kita untuk menjadi pemenang sesungguhnya.

Maka,mari kita pastikan bahwa hari ini kita menjadi insan yang selalu kelebihan satu cara bukan kelebihan satu alasan.

Semoga apa yang saya tulis diatas dapat lebih menginspirasi saya untuk berbuat yang terbaik hari ini juga, lets do the best we can do, bergembira dan bersyukur.


Senin, 19 April 2010

BILA SAATNYA TIBA

Untuk beberapa lamanya saya masih merenung disaat terbangun setelah istirahat siang. ketika Azan mulai berkumandang… mengingatkan saya untuk segera melaksanakan Shalat Ashar……

Setelah shalat, saya mencoba kembali merangkai mimpi yang rasanya begitu nyata…….

Perlahan, tubuhku yang terbalut kain kafan mulai ditutupi tanah,

perlahan, semua pergi meninggalkanku,……
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan...

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalah lagi sekedar tangan kanan,
rekan sejawat, murid-muridku dan orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, anakku merintih,
muridku berduka aku tak tega melihatnya
Rekan kerjaku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,….
menunggu perhitungan...

Menyesal sudah tak mungkin,
Apalagi kesempatan untuk bertaubat
dan ma'af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri...

Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
meskipun selama ini saya menganggap diri saya jauh dari-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja...

Aku harus berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
Yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,bersama mereka...

Begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yg pernah kuraih dulu,
tak ada artinya sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu...

Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan...........

~~~~~~~~~~~~~~~

Moga rangkaian kata diatas dapat menjadi renungan buat kita semuanya terutama untuk saya tentunya....
Postingan ini juga sebagai pengantar Award dari seorang sahabat yang sementara menuntut ilmu di Korea, Triyani Fajriutami . Award yang bertajuk "SPRING AWARD",


saya peruntukkan buat :

Munir Ardi ; Mbak Elly ; Mbak Fanda ; Mbak Reni ; Mbak Latifah Hizboel ; Bang Attayaya

Dengan sedikit syarat dari pemberi Award sebagai berikut :
  1. Memberikan award ini ke teman blogger lainnya, minimal satu orang. Hal ini akan menjadikan antar sahabat saling menyapa sehingga memberikan efek silaturahim yang memperpanjang umur, InsyaAllah.
  2. Menuliskan minimal satu kalimat motivasi atau kalimat penyemangat atau nasihat yang memacu pikiran positif untuk kita semua. Boleh mengutip dari kata-kata motivator dunia ataupun dari manapun, asal disebut sumbernya ya.. :) Tapi kalau punya kalimat sendiri atau nasihat dari orang tua/teman/saudara yang ingin dibagi, pastinya boleh juga..
Semoga sahabat semua sudi menerimanya.