Tampilkan postingan dengan label Tauziyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauziyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Oktober 2010

Isteri Yang Suci


Siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Kita hadir dari dimensi ruang dan waktu (kesilaman) yang berbeda, bahkan, saling tak mengenal. Tapi, kenapa disaat bersua, kita seketika saling mempercayai untuk membangun kebersamaan, dalam perjalanan?

Sungguh, begitu mulia, mahligai pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai. Tak mengherankan, bila Allah menempatkan jodoh (penikahan) pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat disingkapkan secara pasti oleh hamba-Nya. Bayangkan, jika jodoh seperti juga kematian (roh), menjadi ilmu terbuka bagi hamba-Nya. Siapakah yang sudi memilih X yang masa kecilnya binal sebagai jodoh (sama dengan seseorang yang telah mengetahui tanggal dan hari kematiannya, niscaya berhura-hura untuk kemudian bertaubat saat menjelang waktu kematiannya).

Siapakah yang mengirimmu ke dalam kehidupanku, istri? Allah, betapa maha pengasih Dia, yang memberikanmu sebagaimana ketentuannya (sunnahtullah) agar mahluk hidup berpasang-pasangan. Tapi, kenapa di tengah rasa superioritas kaum pria, seringkali abai memahami bila istri merupakan 'pemberian'Nya? Betapa aku maupun kaumku, para lelaki yang merasa super, seringkali menghanguskanmu ke dalam api kemarahan.

Adakah superioritas kaum pria terutama di masa jahiliyah menyebabkan Allah memberikan perhatian khusus terhadap kaummu dengan menurunkan surat An-Nissa (wanita). Tak sekadar tuntunan menikah untuk berkembangbiak, di surat itu Dia memberikan pedoman tata cara memperlakukan kaummu, sebagai istri. Ini agar kaummu terhindar dari egoisme dan superioritas pria.

Di saat engkau berbaring di sisi tulang rusuk kiriku, betapa aku ingin merumuskan hakikatmu. Tapi, mengapa sulit merumuskanmu: engkau, mahluk yang kuat ketika lemah, begitu manja ketika tegar. Engkau, bahkan, lebih kuat menanggung penderitaan ketika sendirian. Sungguh berbeda dengan pria yang dicitrakan superior (adakah kekuatan pria justru menjadi kelemahan ketika ia ditinggalkan sendirian sehingga cenderung mencari kembali pasangan hidupnya demi menyokong superioritasnya?)

Mengapa demikian? Karena engkau, istri bersama kaummu, mendapatkan kemuliaan-Nya. Sekadar menyebut contoh, Allah bersifat rahman dan rahim. Perempuanlah yang memiliki (sifat) rahim. Di rahim, perlambang kasih, Allah menumbuhkan janin. Dengan kasih dari pemilik rahim, anak-anak tumbuh, menjadi muslim dan muslimah. Dengan anugerah kemuliaan semacam itu, kenapa masih ada perempuan alpa pada kesucian makna rahim, justru ketika memiliki rahim? Sesungguhnya dunia seluruhnya benda dan sebaik-baiknya benda ialah wanita (istri) yang sholeh (HR. Muslim)

Betul, engkau istri, bukan pemimpin utama. Tapi, sesungguhnya engkau menentukan, ketika hanya menjadi posisi pendamping. Engkau, di saat menjadi istri yang suci, semestinya menjadi pengawas suami saat keliru melangkah. Siapa yang dapat mengukur air matamu yang berderai di saat engkau berdoa memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar pada suami? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan justru menjadi kekuatan untuk mengembalikan suami (keluarga) ke jalan yang benar.

laptop gratis


Tapi, siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Istri-istri yang suci justeru merupakan jalan bercahaya menuju-Nya. Kesucianmu (banyak buku mengupas kriteria istri saliha sebagai pedoman) menjadi suar di tengah keluarga (tempatmu berada) untuk membentuk keluarga sakinah. Cahayamu menerangi perjalanan menuju pada-Nya. Kesabaran dan keikhlasanmu mengelola rumah tangga membuat para suami (keluarga) merasa khidmat untuk beribadah.

Sebaliknya, istri-istri 'musyrik', bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu, istri, jadilah engkau suci untuk menjadi jalan bercahaya bagi keluarga.

Wahai istri, di saat engkau menjadi jalan bercahaya, mengapa mesti menggantinya? Bukankah sejatinya, aku mencintaimu karena cintaku pada-Nya yang memuliakanmu, istri yang suci!

Rabu, 15 September 2010

Keutamaan Bulan Syawal


Memasuki Ramadhan, biasanya kita mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan! Tapi untuk bulan Syawal, tidak pernah kita mendengar orang mengucapkan Marhaban Ya Syawal! Padahal, Syawal juga bulan istimewa dan memiliki keutamaan. Inilah beberapa keistimewaan bulan Syawal.

SETELAH melewati bulan Ramadhan, kita memasuki bulan Syawal, bulan kesepuluh dalam penanggalan hijriyah. Nyaris tidak ada penyambutan terhadap datangnya bulan syawal. Berbeda dengan ketika menyambut Ramadhan, biasanya kita mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan! Tapi untuk bulan Syawal, tidak pernah kita mendengar orang mengucapkan Marhaban Ya Syawal!

Padahal, Syawal juga bulan istimewa dan memiliki keutamaan. Inilah beberapa keistimewaan bulan Syawal.

Bulan Kembali ke Fitrah

Syawal adalah bulan kembalinya umat Islam kepada fitrahnya, diampuni semua dosanya, setelah melakukan ibadah Ramadhan sebulan penuh. Paling tidak, tanggal 1 Syawal umat Islam “kembali makan pagi” dan diharamkan berpuasa pada hari itu.

Ketibaan Syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berjaya menjalani ibadah puasa sepanjang Ramadan. Ia merupakan lambang kemenangan umat Islam hasil dari "peperangan" menentang musuh dalam jiwa yang terbesar, yaitu hawa nafsu.

Bulan Takbir

Tanggal 1 Syawal, Idul Fitri, seluruh umat Islam di berbagai belahan mengumandangkan takbir. Maka, bulan Syawal pun merupakan bulan dikumandangkannya takbir oleh seluruh umat Islam secara serentak, paling tidak satu malam, yakni begitu malam memasuki tanggal 1 Syawal alias Malam Takbiran, menjelang Shalat Idul Fitri.

Kumandang takbir merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan ibadah Ramadhan selama sebulan penuh. Kemenangan yang diraih itu tidak akan tercapai, kecuali dengan pertolongan-Nya. Maka umat Islam pun memperbanyakkan dzikir, takbir, tahmid, dan tasbih. “"Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Ia memberi petunjuk kepada kamu, dan agar kamu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan" (QS. Al-Baqarah: 185).

Bulan Silaturahmi

Dibandingkan bulan-bulan lainnya, pada bulan inilah umat Islam sangat banyak melakukan amaliah silaturahmi, mulai mudik ke kampung halaman, saling bermaafan dengan teman atau tetangga, hala bihalal, kirim SMS dan telepon, dan sebagainya. Betapa Syawal pun menjadi bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah karena umat Islam menguatkan tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah.

Bulan Ceria

Syawal adalah bulan penuh ceria. Di Indonesia bahkan identik dengan hal yang serba baru –baju baru, sepatu baru, perabot rumah tangga baru, dan lain-lain. Orang-orang bersuka cita, bersalaman, berpelukan, bertangis bahagia, mengucap syukur yang agung, meminta maaf, memaafkan yang bersalah.

Begitu banyak doa terlempar di udara. Begitu banyak cinta kasih saling diberikan antar seluruh umat manusia. Aura maaf tersebar di seluruh penjuru bumi, nuansa peleburan dosa, nuansa pencarian makna baru dalam hidup.

Puasa Satu Tahun

Amaliah yang ditentukan Rasulullah Saw pada bulan Syawal adalah puasa sunah selama enam hari, sebagai kelanjutan puasa Ramadhan.

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

“Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Bulan Nikah

Syawal adalah bulan yang baik untuk menikah. Hal ini sekaligus mendobrak khurafat, yakni pemikiran dan tradisi jahiliyah yang tidak mau melakukan pernikahan pada bulan Syawal karena takut terjadi malapetaka.

Budaya jahiliyah itu muncul disebabkan pada suatu tahun, tepatnya bulan Syawal, Allah Swt menurunkan wabah penyakit, sehingga banyak orang mati termasuk beberapa pasangan pengantin. Maka sejak itu, a kaum jahiliah tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal.

Khurafat itu didobrak oleh Islam. Rasulullah Saw menunjukkan sendiri bahwa bulan Syawal baik untuk menikah. Siti Aisyah menegaskan: “Rasulullah SAW menikahi saya pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya?”. Selain dengan Siti Aisyah, Rasul juga menikahi Ummu Salamah juga pada bulan Syawal.

Menurut Imam An-Nawawi, hadits tersebut berisi anjuran menikah pada bulan Syawal. ‘Aisyah bermaksud, dengan ucapannya ini, untuk menolak tradisi jahiliah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawal tidak baik.

Bulan Peningkatan

Inilah keistimewaan bulan Syawal yang paling utama. Syawal adalah bulan “peningkatan” kualitas dan kuantitas ibadah. Syawal sendiri, secara harfiyah, artinya “peningkatan”, yakni peningkatan ibadah sebagai hasil training selama bulan Ramadhan. Umat Islam diharapkan mampu meningkatkan amal kebaikannya pada bulan ini, bukannya malah menurun atau kembali ke “watak” semula yang jauh dari Islam. Na’udzubillah.

Bulan Pembuktian Takwa

Inilah makna terpenting bulan Syawal. Setelah Ramadhan berlalu, pada bulan Syawal-lah “pembuktian” berhasil-tidaknya ibadah Ramadhan, utamanya puasa, yang bertujuan meraih derajat takwa.

Jika tujuan itu tercapai, sudah tentu seorang Muslim menjadi lebih baik kehidupannya, lebih saleh perbuatannya, lebih dermawan, lebih bermanfaat bagi sesama, lebih khusyu’ ibadahnya, dan seterusnya. Paling tidak, semangat beribadah dan dakwah tidak menurun setelah Ramadhan. Wallahu a’lam.

Senin, 13 September 2010

Kebenaran Vs Kemarahan


Teks religius yang bertebaran di bulan suci Ramadan, bukan hanya merupakan penyegaran teks iman yang merujuk Alquran dan hadist Nabi, di mana kedua ensiklopedia itu menjadi world view kebenaran umat muslim yang tak dapat dirasionalkan dengan teks logika manusia.

Maka implementasi teks religius Ramadhan akan mempunyai arti dan manfaat jika perilaku dan sikap kita konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi satunya kata dengan perbuatan, tak hanya merupakan konsistensi teks religius dalam menjalankan ibadah , tapi juga termasuk pengabdian dalam menjalankan amanah rakyat.

Salah satu cara untuk mengimplementasikan teks religius Ramadan adalah dengan berupaya untuk tidak mencampur kebenaran dengan kemarahan. Betapapun kebenaran hendak ditegakkan, janganlah ia ditegakkan dengan mengumbar kemarahan, bertindak anarkis dan merusak.

Menegakkan kebenaran, memperjuangkan tegaknya hukum, apalagi itu hukum-hukum Allah secara langsung adalah tugas amat mulia dan amat tinggi nilainya. Tapi tidaklah boleh, mentang-mentang ingin menegakkan kebenaran, lalu itu dianggap sebagai legitimasi untuk melakukan pengrusakan.

Itu sebabnya, dalam perang sekalipun, Tuhan melarang menebang pohon, melarang menyakiti perempuan, orang tua, dan anak-anak.

Menegakkan kebenaran memang adalah tugas mulia. Tapi menggunakan kemarahan, tidak ada lain yang menjadi panglimanya kecuali iblis yang telah merasuk ke dalam hati.

Ketika seseorang merasa dirinya ingin menegakkan kebenaran, hukum, moral, keadilan atau kebaikan apapun, namun ketika ia melakukannya dengan umbaran kemarahan dan merusak, maka ia patut bertanya jujur pada dirinya sendiri, bertanya sedalam-dalamnya kepada nuraninya, apakah memang sungguh mau menegakkan kebenaran itu, atau sebenarnya ia sedang marah, sedang tidak suka kepada orang yang dimarahinya, atau dongkol karena ada keinginannya tidak terpenuhi.

Suatu ketika, dalam perang, sahabat Nabi, sosok yang sangat ditakuti kaum musyrikin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, duel melawan seorang pentolan pasukan musuh. Tapi ketika Ali hendak menghunjamkan pedang ke dada musuhnya, tiba-tiba musuh itu meludahi wajah Ali karramallahu wajhah.

Seketika Ali mengurungkan niatnya menghunjamkan pedang ke dada musuh. Alasannya, dia khawatir tidak bisa membedakan motifnya membunuh musuh, apakah karena menjalankan perjuangan suci jihad fi sabilillah, atau karena marah sebab wajahnya diludahi.

Di belakang kebenaran ada Tuhan yang menjadi sumber kebenaran. Di balik kemarahan dengan dalih mau menegakkan kebenaran, ada iblis bertahta dalam hati, memerintah sebagai panglima.


Senin, 30 Agustus 2010

HIDUP SEORANG BLOGGER Yang Selalu Bersyukur


HIDUP SEORANG BLOGGER HIDUP SEORANG BLOGGER HIDUP SEORANG BLOGGER HIDUP SEORANG BLOGGER HIDUP SEORANG BLOGGER HIDUP SEORANG BLOGGER HIDUP SEORANG BLOGGER HIDUP SEORANG BLOGGER



HIDUP SEORANG BLOGGER Tidak selalu memperoleh apa yang disukai, Oleh karena itu, saya selalu menyukai apa yang saya sudah dapatkan.


Kata-Kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama : Kita Sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah,mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang.

Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya". Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.

HIDUP SEORANG BLOGGER senantiasa berupaya mensyukuri apa yang ada tanpa pernah berupaya untuk meraih apa yang tidak mungkin digapai.

Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Mari pusatkan perhatian kita pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar kita. Mereka pasti akan menjadi lebih menyenangkan.

HIDUP SEORANG BLOGGER dalam memilih pasangan hidup sebaiknya mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda sukai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.

Saya pernah membaca sebuah cerita tentang seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.........


HIDUP SEORANG BLOGGER akan lebih bahagia kalau dapat menikmati apa yang Ia miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.



Selasa, 09 Maret 2010

KEUTAMAAN MENATA HATI (2)

MENATA HATI
Bila hati kian suci, tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati, ciri mukmin sejati
Tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk, jadi makhluk terkutuk

Bila hati kian lapang, hidup sempit terasa senang
Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit
Terasa terus menghimpit, lahir batin terasa sakit


Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan.

Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.

Tentunya akan terjadi sebaliknya bagi orang berhati semrawut dan kusut masai. Ia bagaikan kamar mandi yang kumuh dan tidak terpelihara. Lantainya penuh dengan kotoran. Lubang WC-nya masih belepotan sisa kotoran. Dindingnya kotor dan kusam. Gayungnya bocor, kotor, dan berlendir. Pintunya tak berselot. Krannya susah diputar dan air pun sulit untuk mengalir.

Tak ada gantungan. Baunya membuat setiap orang yang menghampirinya menutup hidung. Sudah pasti setiap orang enggan memasukinya. Kalaupun ada yang sudi memasukinya, pastilah karena tak ada pilihan lain dan dalam keadaan yang sangat terdesak. Itu pun seraya menutup hidung dan menghindarkan pandangan sebisa-bisanya.

Begitu pun keadaannya dengan orang yang berhati kusam. Ia senantiasa tampak resah dan gelisah. Hatinya dikotori dengan buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain berbahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan.

Sungguh, orang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hatinya yang selalu gelisah, namun juga orang lain yang melihatnya pun akan merasa jijik dan tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia tidak akan disukai, sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya.

Adakah ia orang berilmu, berharta banyak, pejabat atau siapapun; kalau berhati busuk, niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya. Derajatnya pun mungkin akan sama atau, bahkan, lebih hina dari pada apa yang dikeluarkan dari perutnya.

Bagi orang yang demikian, selain derajat kemuliannya, akan jatuh di hadapan manusia, juga di hadapan Allah. Ini dikarenakan hari-harinya selalu diwarnai dengan aneka perbuatan yang mengundang dosa.

Allah tidak akan pernah berlaku aniaya terhadap makhluk-makhluknya. Sesungguhnyalah apa yang didapatkan seseorang itu, tidak bisa tidak, merupakan buah dari apa yang diusahakannya.

Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan. Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak.

Sementara itu ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara dirinya dari sikap riya, ujub, dan perilaku rendah lainnya. Oleh karenanya, surga sebaik-baiknya tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak. Bahkan ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.

Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dipetik hasilnya dunia akhirat.

Sebaliknya alangkah malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Karena, jangankan akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan lapang.

Mari sahabat, kita senantiasa melatih diri untuk menyingkirkan segala penyebab yang potensial bisa menimbulkan ketidaknyamanan di dalam hati ini. Karena, dengan hati yang nyaman, indah, dan lapang, niscaya akan membuat hidup ini terasa damai.

Beragamnya masalah yang berseliweran,.... semoga saja tidak akan pernah membuat kita terjebak dalam kesulitan hidup karena kita selalu mampu menemukan jalan keluar terbaik, dengan izin Allah. Insya Allah!


Senin, 08 Maret 2010

KEUTAMAAN MENATA HATI (1)


Jagalah hati, jangan kau kotori
Jagalah hati, lentera hidup ini
Jagalah hati, jangan kau nodai
Jagalah hati, cahaya Illahi

Bila hati kian bersih, pikiranpun akan jernih
Semangat hidup nan gigih, prestasi mudah diraih
Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh

Alhamdulillah, hari ini saya agak pagi tiba di tempat tugas, disaat sang mentari masih enggan untuk menampakkan diri ataukah karena awan yang begitu tebal menghalangi semburat cahayanya. Semerbak harum bunga sedap malam seakan masih tersisa yang tergantikan oleh wangi melati yang lagi mekar berseri yang aromanya tercium oleh siapapun yang kebetulan lewat. Sementara titik-tik embun yang bergelayutan di ujung dedaunan mulai menangkap kilatan cahaya.

Sungguh indah dan mengesankan, deretan taman bunga sepanjang koridor menuju ruangan saya memang ditata dengan sangat apik oleh Pak Rahman Tukang Kebun sekolah, jenis dan warna bunganya berkombinasi secara artistik yang memiliki warna-warni yang bervariasi sehingga kesannya begitu menyegarkan.

Rerumputan liar yang tumbuh dibawahnya senantiasa disiangi. Parasit ataupun hama yang akan merusak batang dan daunnya dimusnahkan. Tak lupa setiap hari disiraminya dengan merata, dengan air yang bersih. Tak akan dibiarkan ada dahan yang patah atau ranting yang mengering.

Mungkin kita semua sepakat, sebagaimana halnya dengan qolbu kita yang senantiasa tertata, terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya. Kita akan senantiasa merasakan lapang, tenteram, tenang, sejuk, dan indahnya hidup di dunia ini. Bila demikian halnya, maka akan tersemburat pula dalam setiap gerak-gerik kita, perilaku, tutur kata, sunggingan senyuman, tatapan mata, riak air muka, bahkan bila kita diam sekalipun.

Saya jadi teringat salah satu tausyiah dari Udztads Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), bahwa Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana.

Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan.

Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan.

Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.


Bersambung~~~~

Senin, 21 Desember 2009

SUAMI YANG MEMPESONA, WHY NOT ?

cincinMenjadi istri yang mempesona suami? Itu hal biasa yang telah banyak dibahas dalam berbagai literatur, kajian, diskusi dan kesempatan. Tetapi tahukah Anda wahai para suami, para istri juga menginginkan laki-laki yang mempesona sebagai suaminya.

Meski gambaran suami yang mempesona boleh jadi relatif, berbeda antara satu perempuan dengan perempuan lainnya, tetapi dapat dikatakan secara umum kaum perempuan membutuhkan pesona yang dapat lebih membuat mereka senantiasa mencintai suaminya.


Boleh jadi selama ini Anda para suami menyangka bahwa istri Anda mencintai Anda karena ia telah mendampingi, melayani, melahirkan dan mengasuh anak-anak Anda. Mungkin hal itu benar, tetapi untuk membuat perasaan istri Anda tidak berubah ia tetap selalu mencintai Anda dari waktu ke waktu dibutuhkan lebih banyak proses, perbuatan, tingkah laku yang semuanya bermuara pada satu titik bahwa Anda tetap mempesonanya, sehingga ia menganggap Anda layak untuk mendapatkan cintanya untuk selamanya.

Ada satu pelajaran yang menarik terutama untuk para suami dari kisah seorang perempuan yang mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan, bahwa sekian lama berumah tangga ternyata perasaannya mengalami perubahan, ia tidak lagi bisa mencintai suaminya dan karena itu ia khawatir berbuat kekufuran.

Adalah istri Tsabit bin Qais bin Syamas (sahabat Rasulullah SAW) yang bernama Jamilah, ia mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan perasaannya terhadap suaminya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mencela agama dan akhlak Tsabit, tetapi aku khawatir jika hidup bersamanya aku berbuat kekufuran.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau hendak mengembalikan kebunnya?” (waktu itu mahar Tsabit adalah kebunnya). Jamilah menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengutus seseorang kepada Tsabit untuk menyampaikan pesannya,”Terimalah kebun itu dan ceraikanlah dia.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra)

Nah, para suami, beberapa saran berikut ini dapat membantu Anda untuk menjadi pribadi yang mempesona dimata istri Anda:

Memperhatikan penampilan luar.
Tidak disangsikan lagi bahwa penampilan luar dapat membangkitkan pesona pada jiwa perempuan. Suami yang dapat menjaga kebersihan dirinya, rapi dan perlente umumnya lebih mempesona ketimbang suami yang jorok, lusuh dan kumal. Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa kebersihan itu cabang iman? Umar bin Khattab ra pun pernah berkata, “Perempuan menyukai kalau suaminya berhias untuk dirinya, sebagaimana laki-laki suka istrinya berhias untuk dirinya.”

Tidak Kaku dan Monoton
Suami seperti ini selalu mau belajar memahami perasaan istrinya, punya banyak cara dan gaya dalam mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada istrinya, juga tidak enggan untuk menyatakan cintanya dengan kata-kata.

Terbuka
Suami seperti ini tidak enggan mengungkapkan harapan, keinginan dan perasaannya agar istri mengerti dan dapat melakukan hal yang sesuai dengan yang dikehendakinya. Ia bukan suami yang diam dan membiarkan istrinya dalam kesulitan menebak-nebak apa yang diinginkannya.

Matang
Kebanyakan perempuan ketika menikah menginginkan suaminya adalah orang yang siap melindungi, membimbing dan dapat menjadi tempat bersandar. Laki-laki yang matang seperti ini lebih mempesona perempuan dibanding yang kekanak-kanakan dan emosional.

Peduli dengan Keluarga
Adalah benar suami memiliki tanggung jawab dalam masalah nafkah, tetapi kesibukannya dalam pekerjaan atau hal lainnya tidak membuatnya menjadi orang yang acuh terhadap istri dan anak-anaknya. Ia mau menemani anak belajar dan tidak keberatan mengantar istrinya pergi menghadiri acara-acaranya.

Dapat Berbagi Rasa
Suami mempesona mau belajar bagaimana dapat ikut merasakan apa yang sedang dirasakan istrinya. Ia mau mendengar dengan penuh perhatian ketika istri sedang mengungkapkan permasalahannya, ikut merasakan kegelisahannya dan dapat membantu menentramkannya atau mengatasi permasalahannya. Ia adalah tempat curhat istrinya yang setia dan dapat dipercaya.

Mencintai Orang Tua, Saudara dan Kerabat Istri
Anda akan semakin mempesona istri Anda manakala Anda mencintai orang tuanya, menyayangi saudara-saudaranya dan bersikap baik kepada kerabatnya. Dan jika Anda senantiasa bersikap demikian maka percayalah iapun akan berusaha keras untuk mencintai orang tua Anda dan bersikap baik pada saudara dan kerabat Anda.

Jangan ragu dan gengsi untuk melakukan saran-saran diatas, mulailah sekarang juga maka Anda akan takjub mendapati limpahan cinta istri Anda yang seolah tanpa batas, karena begitulah sifat dan karakter perempuan, ia akan memberi lebih dari apa yang Anda berikan kepadanya!***


Jumat, 18 Desember 2009

STEREOTIPE LAKI-LAKI

laki-laki
Perdebatan hebat di kalangan masyarakat bertumpu pada perbedaan persepsi dari segi sosial, intelektual, atau emosi antara lelaki dan perempuan. Perbedaan-perbedaan ini amat susah dihitung disebabkan alasan-alasan sains dan politik. Beberapa tuntutan stereotipe lelaki yang terkadang dikemukakan untuk perbandingan dengan perempuan adalah seperti berikut:
  • Lebih bersikap agresif dibandingkan perempuan. Bagaimanapun, dalam hubungan antarpribadi, sebagian besar penyelidikan mendapati bahwa keagresifan antara lelaki dan perempuan sama saja. Bagaimanapun, lelaki cenderung lebih agresif di luar rumah dan sebaliknya.
  • Lebih bersikap kompetitif, tetapi juga lebih keras kepala dibandingkan perempuan.
  • Mempunyai keyakinan diri lebih besar (malah terkadang sombong juga) dan mempertunjukkan kemahiran kepemimpinan yang lebih baik dibandingkan perempuan.
  • Lebih dapat mengedepankan akal dan emosi.
  • Mempunyai kemahiran teknis lebih besar dan pengurusan dibandingkan perempuan.
  • Lebih cenderung pada pemikiran abstrak dibandingkan perempuan.
  • Lebih kasar dibandingkan perempuan.
  • Lebih gemar bercakap dan lebih cenderung mencela saat orang sedang bercakap dibandingkan perempuan.
  • Lebih cenderung membuat perbedaan antara homoseksual dan lesbian.
  • Lebih cenderung menyindir dan menggunakan metafora dalam pembicaraan.
Sebagian dari perbedaan-perbedaan ini telah didukung oleh penyelidikan ilmiah, tetapi ada juga yang tidak. Semua ini harus diterima dengan hati-hati karena terdapat kelainan yang amat besar di kalangan lelaki dan perempuan. Beberapa stereotipe di atas tidak dilihat dari segi yang sama dengan masa kini (yaitu, penggunaannya dalam aspek dan lingkungan penghidupan yang tertentu, seperti kerja luar rumah) hingga abad ke-20, bermula dengan industri.

Dari segi rupa dan perawakan, tidak banyak lelaki menggunakan kosmetik atau pakaian yang secara umum terkait kepada perempuan. (karena biasanya yang berbuat demikian dikenal sebagai bencong alias waria, dalam bahasa Bugis dikenal dengan nama Calabai, Kawe-kawe, Saladewi).

~~~~~oo000oo~~~~

Dengan tidak merendahkan saudara saya yang berjenis kelamin Cewek (perempuan). Berikut ini saya sertakan sebuah Intermezo perbandingan antara Laki-laki dan perempuan yang dikirimkan ke email saya beberapa waktu yang lalu.

Meja kerja laki-laki berantakan
Kata Orang (KO) : Dia memang pekerja keras
Meja kerja perempuan berantakan
KO : Cewek apa'an tuh? Ngrapiin meja aja nggak becus..

Laki-laki bekerja menikah
KO : Dia pasti akan bekerja lebih baik karena hidupnya bakalan lebih teratur
Perempuan bekerja menikah
KO : Deeuuuuuu...paling entar habis hamil juga keluar dia..

Laki-laki ngobrol saat jam kerja
KO : Kalau udah ngomongin bisnis, lupa lunch.
Perempuan ngobrol saat jam kerja
KO : Dasar tukang ngrumpi !!!

Laki-laki nggak ada di meja kerja
KO : Sedang tugas luar
Perempuan nggak ada di meja kerja
KO : Jangan2 ngluyur ke mall

Laki-laki keluar dapet pekerjaan baru
KO : Emang pintar cari prospek dia...
Perempuan keluar dapet pekerjaan baru
KO : Emang perempuan nggak bisa dipercaya

Foto keluarga di meja laki-laki
KO : Hem...bapak teladan and setia
Foto keluarga di meja perempuan
KO : Ah dia sich emang mentingin keluarga daripada kerjaan...

Laki-laki selingkuh
KO : Memang kodratnya...
Perempuan selingkuh
KO : Idiiiihhhh amit-amit..

Laki-laki bujang usia tiga lima
KO : Matang..
Perempuan bujang usia tiga lima
KO : Perawan Tua

Laki-laki banyak teman lawan jenis
KO : Pasti humoris, enak diajak ngomong, pantes diajak jalan..
Perempuan banyak teman lawan jenis
KO : Piala bergilir ...

Laki-laki dapat promosi jabatan
KO : Emang kalo' prestasi bagus rejeki nggak kemana
Perempuan dapat promosi jabatan
KO : Ssstt..Boss ada mau tuh.

Laki-laki kepala botak
KO : Lambang bonafide and matang.
Perempuan kepala botak
KO : ... baru kena tipes.

Sungguh enak menjadi seorang Laki-laki, dan betapa sulitnya menjadi seorang perempuan.

~~~~~oo000oo~~~~


Untuk kita renungkan bersama Wahai saudaraku sesama Laki-laki:

Manakala kerutan diwajah kita mulai muncul, hal itu sebagai bukti, bahwa kita sudah berusaha sekuat daya pikir kita untuk mencari dan menemukan cara agar keluarga kita senantiasa berada dalam suasana keluarga yang sakinah.

Dan manakala badan ini sudah mulai bungkuk, semoga saja merupakan pertanda bahwa kita sudah berusaha menjadi Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarga, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaan, kekuatan, keuletan demi kelangsungan hidup seluruh keluarga kita.

Kita diberikan tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang kita miliki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat yang harus kita pertanggungjawabkan kelak.

Kamis, 10 Desember 2009

Experiential Learning : GURU TERBAIK (2)

Experiential Learning : GURU TERBAIK (2)
Pada postingan saya beberapa hari yang lalu disini, pada akhir tulisan saya bahas sepintas tentang Experiential Learning. Untuk kali ini, saya akan berupaya membahas lebih jauh tentang hasil penulusuran saya dan apa yang pernah saya baca dan alami.

Experiential Learning adalah daur belajar yang menggunakan pengalaman sebagai bahan dasar belajar. Pengalaman-pengalaman pembelajar distrukturkan dengan cara melihat secara kritis dan reflektif sehingga menghasilkan hikmah yang akan dijadikan rencana tindakan selanjutnya.

Setiap hari kita mengalami ribuan kejadian, baik kejadian yang sesuai harapan ataupun sebaliknya. Ada pepatah yang mengatakan "Hanya keledai yang masuk lubang hingga dua kali".Pengalaman-pengalaman itu dapat kita jadikan sebagai bahan pembelajaran yang bermakna untuk berbuat lebih baik.

Namun terkadang diantara kita tidak bisa mengambil pelajaran dari pengalaman karena keterbatasan pemahaman dan kurangnya kepekaan terhadap kejadian yang ada. Oleh karena itu, agar proses belajar dari pengalaman lebih efektif, maka diperlukan kiat-kiat praktis dalam pola belajar kita.

Kita sering mengalami kejadian yang kita rasakan dimana panca indera terlibat secara langsung, namun kita juga sering mendapatkan pengalaman dari informasi tentang peristiwa yang terjadi pada orang lain. Pengalaman jenis ini harus BAL (Benar, Akurat, Lengkap) sehingga tidak ada bias dalam proses berikutnya.

Dari pengalaman yang kita dapatkan secara obyektif, sebaiknya kita refleksikan secara jujur, hati-hati dan terbuka. Semakin bagus proses refleksi yang kita lakukan, maka semakin mudah hikmah kita dapatkan. namun jika sebaliknya,.... malah dapat menyebabkan penarikan hikmah yang bias.

In sight atau aha experience atau hikmah dari kejadian, diharapkan memiliki beberapa kriteria antara lain ; Obyektif tidak menambah-nambah, Solutif, bersifat umum (general) agar bisa dimanfaatkan oleh siapa saja dan dimana saja, serta dapat menggerakkan kita untuk melakukan perubahan.

Tahap pengambilan hikmah ini harus melibatkan hati nurani agar Allah SWT senantiasa membimbing kita mendapatkan hikmah yang terbaik menurut-Nya.

Selanjutnya perlu kita pahami bahwa hikmah akan bermanfaat dan menjadikan perubahan jika kita mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Karena tanpa pengaplikasian, maka usaha kita sebelumnya tidaklah berarti. Untuk itu dalam mengambil hikmah dari kehidupan, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, antara lain :
  • Luruskan niat untuk selalu belajar dan mengembangkan diri agar setiap hari semakin baik dan niatkan sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah.
  • Tidak melewatkan setiap kejadian yang dialami
  • Jujur kepada diri sendiri ketika mengalami kejadian.
  • Melakukan perenungan secara objektif mengenai sebab akibat yang terjadi.
  • Biasakan melakukan tafakur.
  • Senantiasa membuka diri untuk menerima feedback dari orang lain ketika mengambil hikmah.
  • Senantiasa berdo'a ketika melaksanakan proses daur pengalaman berstruktur agar Allah memberikan hikmah yang terbaik.
Allah SWT berfirman : ".......... Tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia" (Q.S.Al-Imran: 191). Keyakinan ini akan membuat hati untuk senantiasa berbaik sangka kepada Allah SWT. Hati yang positif (berbaik sangka) akan mudah sekali mendapatkan hikmah, sedangkan hati yang negatif (berburuk sangka) pasti akan tertutup dari hikmah.

Semoga bermanfaat,..... terutama untuk diri saya tentunya. Amin....!




Rabu, 25 November 2009

HIKMAH IBADAH QURBAN



Jutaan umat muslim, hari-hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai memenuhi panggilan Allah SWT. untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok dunia, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya (QS. Al-Haj,22:27).

Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya.

Di sana tak ada lagi diskripsi kerena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun status sosial. Yang ada hanyalah pertujukan secara komunal kebersamaan dan yang memegang peranan dalam pertunjukan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama.

Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzul-Hijjah yang bertepatan pada hari ini, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah.

Dan dari beberapa sumber media memberitakan bahwa pada hari ini kota suci Mekah diguyur hujan, yang membuat suasana menjadi dingin dan sejuk. Sebuah karunia yang sangat besar dari Allah SWT

Sementara kita yang berada di tanah air yang tidak berkesempatan untuk melaksanakan ibadah Haji, juga diberikan peluang untuk memperbanyak ibadah yakni pada hari ini disunatkan berpuasa, yang disebut Puasa Arafah.

Ummul Mu’minin Aisyah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada suatu hari yang Allah lebih banyak membebaskan seorang hamba dari api neraka melainkan hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat dan berbangga dihadapan para malaikatNya seraya berkata, “Apa yang mereka inginkan? ( tentu Aku kabulkan) (HR Muslim 1348).

Agama mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban yang akan kita laksanakan pada tanggal 10 Zulhijjah besok. Karena hanya dengan niat yang terikhlaslah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)

Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.

Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah SWT. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati.

Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhlasan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya.

Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.

Semoga amalan kita bertambah dari tahun yang telah lalu dan dosa kita diampunkan oleh Allah SWT. Mari kita gunakan segala peluang yang ada demi menambah bekal akhirat kita sebelum bertemu dengan-Nya di hari yang tidak ada pertolongan lain selain mereka yang menemui-Nya dalam keadaan hati yang bersih dan selamat daripada kekotoran dosa dan noda.

Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf atas segala kekhilafan.

Sabtu, 19 September 2009

FAJAR 1 SYAWAL 1430 H

LEBARAN BUKANLAH BUBARNYA KEBAJIKAN

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allah Mahabesar!
Gema tasbih, tahmid dan takbir memecah kesenyapan fajar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya kuasar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya galaksi kembar
Dialah yang punya Arsyi tak bertepi
Dialah yang punya segala cakrawala
Segala segara
Segala cemerlang mega yang tak berlentera
Segala lintang yang tak bertiang
Segala nebula yang tak berjendela
Bahkan segala langit yang sulit diintip

Puasa usailah sebulan sudah
Tarawih lengkap, I’tikaf pun tak khilaf
Namun, muslim bersimbah asa dan tanya
“Apakah puasa saya diterima?”

Horseeeiii! Lebaran tiba!
Takbir mencibir gaun baru warna biru
yang mengetat di atas dengkul gadis bahenol.

Zakat fitrah menceria sang fakir yang ketir
di syawal pagi yang membahagia nurani

Ketupat bertumpuk di segala ufuk
Sambal goreng berselera-selera di segala cakrawala
Bolu kukus berdus-dus mencengangkan para tikus
Nasi kuning tak membikin jiwa bening
Sebab jiwa kufur masih bertengger di sanubari.

Horseeeiii! Lebaran kebacut !
Menjadi pesta poranya pikiran kusut

Para setanpun bersorak menjegal silaturrahmi
Yang lupa waktu dan tak tahu diri.

Zhuhur terlewat berkat kunjungan panjang ke rumah sobat
Azar nyasar ke magrib...
berkat bertandang di si dindun yang semakin heidun

Lantas isya diperkosa di malamnya pesta pora
Dan tegaknya shalat subuh menjadi runtuh
ketiban tubuh yang lusuh.


Mumpung Lebaran, aji mumpung kembali disanjung
Mumpung baju baru sepatu baru
Kue keju berselisih saling gurih di lidah yang semakin pedih
Mumpung kue nampang di setiap kandang
Dan si fakir yang ketiban zakat di hari lebaran kembali fakir
Melodi lama berkumandang riang
Melagukan ’sengsara badan’ dalam tone bariton
Si miskin dan si kaya kembali saling bertolak belakang

Puasa yang diharapkan mewujudkan kesederhanaan jiwa manusia,
telah diartikan lain oleh segelintir makhluk yang bermental binal
sehingga dampaknya jadi konsumtif.
Lebaran yang diharapkan mencanangkan manusia
kembali kepada fitrahnya
kembali kepada kejujurannya
kembali kepada kesuciannya
malah menjadi cikalnya mubazir.

Akhirnya sang setanpun berteriak senang
dalam kemenangan yang gemilang

Setan yang dikerangkeng oleh mental baja kita selama Ramadhan
Yang dilandasi iman yang tangguh dan ketaqwaan tiada tara
Yang diborgol oleh pengabdian tulus terhadap Allah SWT.

Semoga kita ini termasuk yang mampu mengkrangkeng setan
Berkat puasa kita yang khusu’
Yang mewangun mental baja
dalam melaksanakan amal shaleh hingga akhir hayat

Perlu dicamkan ” Lebaran bukanlah bubarnya kebajikan”

Jumat, 18 September 2009

MALAM LEBARAN YANG BERMAKNA


Kisah di bawah ini adalah saduran dari Majalah Nabila Vol.2 No.13 Oktober 2005, saya rangkum untuk mengenang sebuah kisah di malam lebaran beberapa tahun lalu yang sempat merubah khazanah keseharian saya dan semoga dapat menjadi cermin bagi pembaca, terutama pencerahan buat saya tentunya.

Aku tak tahu kemana kami akan pergi. Akan tetapi sebagaimana kebiasaan kami berdua, malam seperti ini pada malam hari biasanya kami habiskan untuk shoping dan plesiran.

Ketika sedang duduk di kursi mobil disamping Indra, ia bertanya kepadaku, ”Wan, apa kamu sudah mempersiapkan baju baru?”. ”belum”, jawabku seketika. ”Bagaimana kalau kita mampir di tukang jahit sekarang?” tanyanya. Aku menggelengkan-gelengkan kepala merasa heran.

Aku bertanya kepadanya, ”Tinggal dua hari lagi lebaran, dimana kita bisa mendapatkan tukang jahit yang bisa menerima order kita?” keherananku sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Ia membawa mobilnya dengan kencang menembus keramaian malam dan tiba di depan penjahit yang sudah dikenalnya sejak lama.

Ia berkata kepada penjahit itu, ” Kami ingin bergembira di hari lebaran, dan kami ingin memakai pakaian baru!” tukang jahit tertawa dan menjawab sambil mengangkat bahunya. ”Kenapa tidak datang lebih awal kawan?”
Indra menjawab sambil mengibaskan tangannya penuh arti, ”Kami tambah ongkosnya, yang penting besok harus selesai.” Ia mengulang lagi perjanjiannya itu, ”Pokoknya besok.” Nampaknya sang tukang jahit keberatan menerimanya. Tetapi Indra langsung membayar lunas ongkosnya dan terus mengulang, ”Ingat besok sore harus selesai”.

Demikianlah dengan perasaan terpaksa tukang jahit langsung mengukur setelan yang kami pesan.
Hingga mendekati fajar, kami terus bersenang-senang, lupa dan lalai. Satu malam berlalu tanpa berdzikir kepada Allah SWT walau hanya sekali, padahal bisa jadi malam itu adalah malam Lailatul Qadar.

Hidup tanpa rasa dan kebahagiaan juga tanpa aroma. Kami melalui segala pintu maksiat, menyingkap semua tabirnya. Kami menyangka bahwa semua itu tidak akan dihisab. Selalu tampak gembira dan senang. Namun dalam hati terdapat kedukaan dan kesedihan.


Kami berpisah sebelum fajar menyinsing, setelah sebelumnya kami melalui malam dengan berhura-hura, bertemu dan berkumpul dalam kemaksiatan dan dosa. Esoknya kami tidur lama sekali, dari mulai fajar hingga datang waktu Azar. Puasa, tetapi tidak shalat, kalaupun shalat tanpa menghadirkan hati.


Satu jam berpuasa, kala sudah terbangun dari tidur untuk menunggu Magrib terasa berhari-hari. Aku mengisinya dengan main game, membaca majalah dan mengobrol dengan seorang teman lewat telepon. Namun seketika suara yang saya dengar berubah, ”Apakah kamu belum mendengar, bahwa Indra sakit?” . ”Belum”, jawabku. ”Kemarin sore sampai subuh tadi, ia masih sehat wal’afiat”, tambahku setengah tidak percaya.
Pembicaraanpun terputus.

Hal itu tidak berarti apa-apa bagiku, selain kabar yang menurutku belum jelas kebenarannya. Muadzin mengumandangkan suaranya tanda shalat magrib dan waktu berbuka puasa sudah tiba. Setelah beberapa saat kemudian aku merasakan kekenyangan setelah balas dendam dengan beberapa macam makanan.

Tiba-tiba telepon berdering, dari suaranya saya kenal kakaknya Indra. Aku bertanya-tanya ada apa gerangan. Apakah ia akan menanyakan tentang apa yang aku perbuat bersama Indra pada malam itu atau ada orang yang memberitahukan kesalahan dan kekeliruan kami. Tetapi suaranya terdengar resah dan terengah-engah. Ucapannya terputus-putus. Ia memberitahu, bahwa Indra sudah meninggal dunia.


Aku terbungkam, tak percaya sama sekali. Seolah-olah masih melihatnya dihadapanku. Bahkan sore ini kami punya janji untuk pergi ke mal dan mengambil pakaian kami yang selesai dijahit. ”Bagaimana ia bisa meninggal dunia?”. Tanyaku setengah teriak, ”Ketika pulang ke rumah, mobilnya bertabrakan dengan mobil lain, kemudian ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal zhuhur hari ini. Tolong beritahu teman-teman kamu Insya Allah besok zhuhur kami akan menshalatkannya”.


Aku akhirnya yakin bahwa kejadian itu memang nyata..... hari-hari Indra memang sudah berakhir. Akupun percaya, bahwa kejadian dan kematian itu memang benar adanya, dan bahwa pertemuan kami nanti adalah di alam lain, bukan di mal atau penjahit. Ia sudah mengenakan kain kafan, tidak sempat lagi memakai baju baru yang kami pesan bersama buat lebaran.


Malam itu aku tidak bisa tidur. Pikiranku sungguh kacau, kepalaku terasa pusing. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Indra memperjelas berita yang menyakitkan itu.
Ketika aku mengendarai mobil bututku,... di dashboardnya aku menemukan kaset. Segera aku memutarnya. Terdengarlah suara Imam al-Haram yang seakan membuat semerbak sekelilingku oleh kemerduan suaranya. Seluruh anggota tubuhku terasa dingin dan gemetaran, seketika aku tertunduk, seolah-olah dunia terbalik dan kiamat sudah datang. Aku memarkirkan mobil dan mendengarkannya, seolah-olah baru kali ini aku mendengar lantunan Indah Ayat Suci Al-Quran. Tanpa terasa,... butiran bening yang hangat menetes dari sudut mataku yang semakin lama semakin deras dan lebih cepat dari suara Imam yang aku dengar. Aku mengangkat tanganku untuk mengusap air mata.

Sementara hatiku terus mengulang-ulang pantulan kalimat-kalimat itu. Kilatan asa mulai membias dari nuraniku yang terdalam menyusul mulai redanya tetesan air mataku.
Aku tobat yang tulus. Aku mulai bersahabat dengan orang-orang baik dan teman-teman yang shalih.

Orang yang selama ini kubenci, menjadi orang yang paling kucintai. Demikian pula orang yang selama ini kulecehkan, sekarang menjadi orang paling tinggi derajatnya dihadapanku. Orang yang selama ini kuhina, menjadi orang yang paling mulia di sisiku.


Dahulu aku sudah berada di pinggiran jurang Neraka. Namun sekarang, aku mulai melihat kebahagiaan yang selama ini tidak kukenal. Hati terasa lapang, sementara mataku membayangkan ketenangan, kewibawaan dan keteguhan.


Ketika aku singgah di Tukang jahit menanyakan pakaian yang pernah kami pesan, Ia balik bertanya tentang Indra. Aku katakan bahwa Ia sudah meninggal dunia. Ia mengulangi nama yang ditanyakan tadi. Kembali kujawab,”sudah meninggal dunia”. Ia mulai menggambarkan kepadaku bentuk orang yang ditanyakan itu, mobilnya dan gaya bicaranya. Tetap saja aku jawab, ”Iya, dia sudah meninggal dunia”. Ketika ia memperlihatkan kepadaku pakaian yang kami pesan kemarin, kembali ia bertanya, ”Apakah benar ia sudah meninggal dunia?”


Pakaianku berada disamping pakaiannya. Tempat dudukku di mobil juga di sebelah tempat duduknya. Namun bedanya, ia sudah tiada sementara aku masih memiliki sisa umur yang mudah-mudahan bisa kugunakan untuk mengejar ketinggalanku selama ini.


Aku bersyukur dan memuji dan memuji Allah SWT atas segala petunjuk-Nya yang telah membawa aku ke pintu Taubat. Atas kembalinya aku dan atas perbedaanku kini. Namun masih banyak saudaraku disekitar aku, yang masih tertutupi hatinya, masih ternodai debu kemaksiatan dan dosa. Apakah aku sanggup membiarkannya? Semoga Allah SWT memberikan aku kekuatan untuk senantiasa menyisingkan lengan baju untuk tidak membiarkannya, paling tidak mendo’akannya.


Dihadapan azab pedih yang menanti, jilatan api neraka dan ancaman siksa, berbagai kesulitan dan hal-hal yang menakutkan. Aku tidak akan membiarkannya, karena Allah SWT telah memberiku petunjuk. Masih ada buku, masih ada kaset, dan masih ada beribu-ribu yang lainnya. Antara aku dan para sahabatku yang belum kembali ke jalan-Nya, masih ada nasihat yang tulus.



MENJADI ORANG BAIK

Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya illahi

Bila hati kian bersih, pikiran pun kian jernih
Semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih
Namun bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Ahlak kian terpuruk, jadi mahluk terkutuk

Bila hati kian suci, tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati, ciri mukmin sejati
Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh

Bila hati kian lapang, hidup sempit tetap senang
Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit, segalanya makin rumit
Seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit
(Lagu Nasyid : Jagalah Hati )

Kalau kebaikan itu bersumber di hati, maka seharusnya hatilah yang perlu dijaga, dipelihara, dirawat agar baik dan tetap baik. Ini sangat penting, sebab Nabi Muhammad SAW mengingatkan, bahwa bila hati orang baik, maka baiklah dia seutuhnya, namun bila hatinya rusak maka rusaklah dia seutuhnya.

Kalau kita renungkan sabda Nabi tersebut, kita seharusnya menyadari bahwa yang paling menentukan pada diri setiap manusia adalah hatinya, bukan yang lainnya. Kalau begitu pula, yang menjadi prioritas untuk selalu dijaga, dipelihara dan dirawat adalah hati ini.

Akan tetapi, sayangnya kebanyakan dari kita lebih suka merawat tubuh ketimbang hati. Ada yang risau wajahnya berjerawat, tetapi tidak pernah risau bila hatinya angkuh, sirik dan dengki.

Ada yang berupaya mati-matian agar ketiaknya tidak berbau, tapi terus menerus mempertahankan kebusukan hatinya. Betapa naifnya manusia. Naudzubillahi Mindzaliq

Semoga kita tidak tergolong didalamnya, Amin......

Rabu, 16 September 2009

ZAKAT FITRAH DAN KEPEDULIAN SOSIAL


Waktu terasa berputar begitu cepat, dan bulan penuh berkah ini akan meninggalkan segenap umat Muslim sebelum berjumpa kembali satu tahun mendatang. Ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan umat Muslim, yakni berzakat fitrah.


Inilah salah satu keharusan di Ramadhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi, bisa dikatakan zakat fitrah merupakan rangkaian kesempurnaan ibadah seorang Muslim ketika mengarungi puasa Ramadhan ini.

Yang berkewajiban membayar
Pada prinsipnya, setiap muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. Berikut adalah syarat yang menyebabkan individu wajib membayar zakat fitrah:
  1. Individu yang mempunyai kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya.
  2. Anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir bulan Ramadhan dan hidup selepas terbenam matahari.
  3. Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan dan tetap dalam Islamnya.
  4. Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan.
Besar Zakat
Besar zakat yang dikeluarkan menurut para ulama adalah sesuai penafsiran terhadap hadits adalah sebesar satu sha' atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.5 kg makanan pokok (tepung, kurma, gandum, aqith) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan (Mazhab syafi'i dan Maliki)
Waktu Pengeluaran
Zakat Fitrah dikeluarkan pada bulan Ramadhan, paling lambat sebelum orang-orang selesai menunaikan Shalat Ied. Jika waktu penyerahan melewati batas ini maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa.

Penerima Zakat
Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan/asnaf (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil) namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah/nilai zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuannya dikeluarkannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya.

Berikut penjelasan dari 8 golongan itu :

Fakir, "Fakir dalam persoalan zakat ialah orang yang tidak mempunyai barang yang berharga dan tidak mempunyai kekayaan dan usaha sehingga dia sangat perlu ditolong keperluannya".

Miskin, Sekali lagi bahwa zakat itu hutang kepada Allah : "Miskin dalam persoalan zakat ialah orang yang mempunyai barang yang berharga atau pekerjaan yang dapat menutup sebagian hajatnya akan tetapi tidak mencukupinya, seperti orang memerlukan sepuluh dirham tapi hanya memiliki tujuh dirham saja. Jadi dengan kaidah di atas, bahwa fakir itu lebih parah dari miskin.

Amil, "Amil ialah orang yang ditunjuk untuk mengumpulkan zakat, menyimpannya, membaginya kepada yang berhak dan mengerjakan pembukuannya"

Mualaf, Mualaf ada 4 macam :
Pertama : Mualaf muslim ialah orang yang sudah masuk Islam tapi niatnya atau imannya masih lemah,maka diperkuat dengan diberi Zakat.

Kedua : Orang telah masuk Islam dan niatnya cukup kuat, dan ia terkemuka di kalangan kaumnya. Ia diberi zakat dengan harapan kawan kawannya akan tertarik masuk Islam.

Ketiga : Mualaf yang dapat membendung kejahatan orang kafir yang di sampingnya.

Keempat : Mualaf yang dapat membendung kejahatan orang yang membangkang membayar zakat.

Bagian ketiga dan keempat kita beri zakat sekiranya mereka kita perlukan, misalnya karena mereka kita beri zakat, maka kita tidak usah menyediakan angkatan bersenjata guna menghadapi kaum kafir atau pembangkang zakat yang biayanya pun akan lebih besar. Adapun polongan pertama dan kedua maka kita beri zakat tanpa syarat".

Riqab, Yang artinya mukatab ialah budak belian yang diberi kebebasan usaha mengumpulkan kekayaan agar ia dapat menebus dirinya untuk merdeka. Dalam hal ini ada syarat, bahwa yang menguasai atau memilikinya sebagai budak belian itu bukan si muzakki sendiri sebab jika demikian maka uang zakat itu akan kembali kepadanya saja. Demikian Al Bajuri jilid 1 halaman 294 : "Adapun mukatab oleh atau bagi muzakki tidak boleh diberi zakatnya, karena faidah pemberian zakat itu akan kembali kepadanya".

Gharim, Gharim ada tiga macam :
Pertama : orang yang meminjam guna menghindarkan fitnah atau mendamaikan pertikian/permusuhan.

Kedua : orang yang meminjam guna keperluan diri sendiri atau keluarganya untuk hajat yang mubah.

Ketiga : orang yang meminjam karena tanggungan, misalnya para pengurus masjid, madrasah atau pesantren menanggung pinjaman guna keperluan masjid, madrasah atau pesantren itu"

Sabilillah., "Sabilillah ialah jalan yang dapat menyampaikan sesuatu karena ridla Allah baik berupa ilmu maupun amal. Jumhur Ulama mengartikan sabilillah di sini adalah perang. Bagian sabilillah (dari zakat) itu diberikan kepada para angkatan bersenjata yang lillahi-ta'ala artinya tidak mendapat gaji dari pemerintah." Pada zaman ini yang paling pentig bagian sabilillah itu ialah guna membiayai para propagandis Islam dan mengirim mereka ke negara-negara non Islam guna penyiaran agama Islam oleh lembaga lembaga Islam yang cukup teratur dan terorganisasi. Termasuk sabilillah ialah nafkah para guru-guru sekolah yang mengajarkan ilmu syariat dan ilmu-ilmu lainnya yang diperlukan oleh masyarakat umum" Soal sabilillah ini sebaiknya kita mengambil faham yang luas, sebab jika mengambil faham yang sempit sekarang ini di Indonesia tidak ada sabilillah.

Ibnussabil, "Adapun ibnusabil ialah orang yang mengadakan perjalanan dari negara di mana dikeluarkan zakat, atau melewati negara itu. Dia dia diberi zakat jika memang menghajatkan dan tidak bepergian untuk ma'siat".
Bagian ini tidak setiap waktu ada, akan tetapi baiklah untuk itu disediakan sekedarya.


Dihimpun dari berbagai sumber


Jumat, 11 September 2009

AKANKAH IA PERGI TANPA KESAN?

Luar biasa kesibukan menjelang lebaran. Ada yang sibuk bikin kue, ada yang sibuk antri pesan tiket pulang kampung, ada pula yang pergi ke mall beli baju dan sepatu baru, hingga mall dan pusat perbelanjaan padat manusia sementara masjid kosong melompong nyaris tak berpenghuni. Biasanya, awal Ramadhan Masjid penuh. Kini, di sepuluh hari terakhir, shalat tarawih hanya menyisakan beberapa shaf saja, itupun kebanyakan yang sudah berumur.

Stasiun, terminal dan bandara menjadi lautan manusia. Jalan macet dan angka kecelakaan meningkat tajam. Situasi seperti itu sudah menjadi hal yang biasa menjelang lebaran. Mudik, ya....... tradisi yang sudah begitu melekat. Seolah-olah tanpa mudik lebaran tak bermakna.

Sedihnya lagi, kebanyakan diantara yang mudik lebaran atau yang sibuk dengan baju baru dan kue lebaran justru melalaikan puasanya. Naudzubilahi min dzalik...... Puasa yang sedianya 29 hari atau maksimal 30 hari itu hanya bersisa hitungan jari.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Satu kebajikan dibalas sepuluh kali lipat. Allah SWT menurunkan rahmat, menghapus dosa dan mengabulkan do’a. Allah SWT juga membangga-banggakan orang yang berpuasa kepada para malaikat-Nya. Namun tidak sedikit orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah SWT pada bulan ini

Sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan yang didalamnya terdapat malam kemuliaan, yang lebih mulia dari seribu bulan berlalu tanpa kesan. Sedangkan kebanyakan diantara kita menyibukkan diri dengan mudik, baju baru dan kue lebaran. Uang, mungkin jutaan rupiah kita rogoh untuk bertemu sanak famili di kampung sementara malam kemuliaan berlalu begitu saja. Seakan malam kemuliaan itu tidak penting dan bukanlah sesuatu yang dinanti-nanti, sebaliknya yang menjadi penantian justru mudik, baju baru dan kue lebaran.

Akankah malam kemuliaan itu pergi tanpa kesan?. Manakah yang lebih penting mudik untuk bertemu sanak keluarga dan bermaaf-maafan yang dapat kita lakukan tidak hanya saat lebaran dibandingkan dengan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan yang umur kita saja belum tentu bisa menggapainya?

Tradisi mudik, baju baru dan kue lebaran perlu menjadi bahan perenungan kita untuk ditinjau kembali. Kalaupun kita berbuat salah kepada orang tua atau kerabat lainnya, bukankah kita bisa minta maaf saat kita berbuat salah ketimbang kita tidak mendapatkan malam kemuliaan itu. Apakah kita menganggap mudik lebih penting dari malam kemuliaan?. Semoga saja tidak.

Kamis, 03 September 2009

5 TIPE KARYAWAN


Pengklasifikasian karyawan dan pejabat kantor ini didekati dengan istilah hukum yang digunakan dalam agama Islam.

Pendekatan ini sama sekali bukan untuk mencampuradukkan atau merendahkan nilai istilah hukum tersebut, melainkan hanya sekedar untuk mempermudah pemahaman kita karena makna dari istilah hukum tersebut sangat sederhana dan akrab bagi kita. Mudah-mudahan bisa jadi cara yang praktis untuk mengukur dan introspeksi diri.

1. Karyawan / Pejabat “Wajib”

Tipe karyawan atau pejabat wajib ini memiliki ciri : keberadaannya sangat disukai, dibutuhkan, harus ada sehingga ketiadaannya sangat dirasakan kehilangan.
  • Dia sangat disukai karena pribadinya sangat mengesankan, wajahnya yang selalu bersih, cerah dengan senyum tulus yang dapat membahagiaan siapapun yang berjumpa dengannya.
  • Tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi hati yang gersang, penuntun bagi yang tersesat, perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan, orang merasa terhormat dan bahagia untuk memenuhi harapannya tanpa rasa tertekan.
  • Akhlaknya sangat mulia, membuat setiap orang meraskan bahagia dan senang dengankehadirannya, dia sangat menghargai hak-hak dan pendapat orang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta mendapat manfaat dengan keberadaannya
2. Karyawan / Pejabat “Sunnah”

Ciri dari karyawan/pejabat tipe ini adalah : kehadiran dan keberadaannya memang menyenangkan, tapi ketiadaannya tidak terasa kehilangan..

Kelompok ini hampir mirip dengan sebagian yang telah diuraikan, berprestasi, etos kerjanya baik, pribadinya menyenangkan hanya saja ketika tiada, lingkungannya tidak merasa kehilangan, kenangannya tidak begitu mendalam.

Andai saja kelompok kedua ini lebih berilmu dan bertekad mempersembahkan yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya dia akan naik peringkatnya ke golongan yang lebih atas, yang lebih utama.

3. Karyawan / Pejabat “Mubah”

Ciri khas karyawan atau pejabat tipe ini adalah : ada dan tiadanya sama saja.

Sungguh menyedihkan memang menjadi manusia mubadzir seperti ini, kehadirannya tak membawa arti apapun baik manfaat maupun mudharat, dan kepergiannya pun tak terasa kehilangan.

Karyawan tipe ini adalah orang yang tidak mempunyai motivasi, asal-asalan saja, asal kerja, asal ada, tidak memikirkan kualitas, prestasi, kemajuan, perbaikan dan hal produktiflainnya. Sehingga kehidupannya pun tidak menarik, datar-datar saja.

Sungguh menyedihkan memang jika hidup yang sekali-kalinya ini tak bermakna. Harus segera dipelajarilatar belakang dan penyebabnya, andaikata bisa dimotivasi dengan kursus, pelatihan, rotasi kerja, mudah-mudahan bisa meningkat semangatnya.

4. Karyawan / Pejabat “Makruh”

Ciri dari karyawan dan pejabat kelompok ini adalah : adanya menimbulkan masalah tiadanya tidak menjadi masalah. Bila dia ada di kantor akan mengganggu kinerja dan suasana walaupun tidak sampai menimbulkan kerugian besar, setidaknya membuat suasana tidak nyaman dan kenyamanan kerjaserta kinerja yang baik dapat terwujud bila ia tidak ada. Misalkan dari penampilan dan kebersihan badannya mengganggu, kalau bicara banyak kesia-siaan, kalau diberi tugas dan pekerjaan selain tidak tuntas, tidak memuaskan juga mengganggu kinerja karyawan lainnya.

5. Karyawan / Pejabat “Haram”

Ciri khas dari kelompok ini adalah : kehadirannya sangat merugikan dan ketiadaannya sangat diharapkan karena menguntungkan. Orang tipe ini adalah manusia termalang dan terhina karena sangat dirindukan “ketiadaannya”. Tentu saja semua ini adalah karena buah perilakunya sendiri, tiada perbuatan yang tidak kembali kepada dirinya sendiri. Akhlaknya sangat buruk bagai penyakit kronis yang bisa menjalar.

Sering memfinah, mengadu domba, suka membual, tidak amanah, serakah, tamak, sangat tidak disiplin, pekerjaannya tidak pernah jelas ujungnya, bukan menyelesaikan pekerjaan malah sebaliknya menjadi pembuat masalah.

Pendek kata di adalah “trouble maker”. Silahkan anda renungkan, kita termasuk kategori yang mana…?

Semoga semua ini menjadi bahan renungan agar hidup yang hanya sekali ini kita bisa merobah diri dan mempersembahkan yang terbaik dan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat nanti. Jadilah manusia yang “wajib ada”. Semoga!

(dirangkum dari Manajemen Qolbu K.H. Abdullah Gymnastiar)

Rabu, 02 September 2009

LAPAR YANG MEMBAWA HIKMAH

Terjerembab,………. Istilah yang tepat untuk menggambarkan seseorang yang jatuh secara tiba-tiba, tanpa bersiap sebelumnya. Orang yang terjerembab ke comberan yang keruh dan dipenuhi limbah misalnya, dapat dipastikan akan berbau dan kotor, kepala yang benjol serta tampang tak karuan lainnya.

Terlebih lagi bila terjerembab yang bukan artian fisik, dampaknya bisa lebih fatal lagi sebab yang jatuh bukanlah cuman tubuh kasar belaka, melainkan tubuh halus yang tertata dari bion elektron, tak kasatmata, mungkin ulah baik, mungkin ulah buruk.

Makanya terjerembab mental, lebih berdampak parah dibandingkan dengan terjerembab materi. Misalnya harta kita terjerembab ke jurang yang paling bawah alias bangkrut bin pailit, paling berdampak di perut atau lapar. Dan lapar terpaksa, karena tidak bisa membeli pangan yang cukup.

Memang, lapar tak mustahil mengundang aib demi aib lainnya, yang kadang membuat nilai-nilai yang baik dalam diri manusia menjadi luntur. Namun, ada lapar yang punya tujuan yang sebaliknya mampu meningkatkan lagi segala nilai yang selama ini terjerembab.

Apa sih, lapar yang punya tujuan itu? Ia adalah lapar yang bukan sekedar menahan lapar, haus yang bukan sekedar manahan haus, melainkan lapar dan hausnya manusia yang tengah berpuasa, yang menghaluskan kembali nafsu-nafsu kasar, yang menggerinda lempang niat-niat kesasar.

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Q.S.Al-Baqarah: 183)

Puasa adalah salah satu dari amalan pokok agama Islam yang tak kalah pentingnya dibanding Shalat, Zakat, Haji bahkan Jihad. Puasa dalam artian umum, sebagaimana yang banyak dilaksanakan pada zaman sebelum Islam, merupakan kebiasaan yang kerap dilaksanakan tatkala berkabung atau ditimpa musibah. Bahkan Yesus Kristus dalam Matius : 6: 16, 17 telah mewajibkan puasa terhadap umat kristen dengan kata-katanya :

”Dan apabila engkau puasa, tak usahlah engkau menyerupai orang munafik dengan muramnya....... Namun engkau ini, apabila engkau puasa, minyakilah kepala engkau dan basuhlah muka engkau”.

Menjaga diri ialah langkah preventif yang bukan sekedar baertahan dalam kediaman. Kejahatan adalah langkah baik yang terjerembab kepada keburukan. Guna menjaga langkah baik kita agar tidak sampai terjerembab ke jurang keburukan, hendaknya kita berhati-hati dalam menjaga diri. Namun, langkah preventif lewat teknik menunggu atau pasif tak akan banyak membawa hasil karena terjerembab adalah proses gerak.

Oleh karena tiu, guna menolong nilai baik yang terjerembab itu, kita perlu membopongnya secara aktif, dinamis, gesit, dan jeli dengan penuh peenyesuaian gerak pula. Penyesuaian gerak yang efektif untuk nilai baik yang tengah terjerembab itu ialah ’amal saleh’ dalam artian amal tanpa pamrih apapun, termasuk pamrih materi atau pamrih pujian.

Maka jelaslah..... bahwa puasanya insan yang beriman itu seyogyanya dipenuhi oleh amal saleh agar tidak tersedia drive yang kosong sebagai tempat masuknya virus-virus yang dapat menyebarkan file-file perbuatan buruk.

Oleh sebab itu, selain berlapar-lapar membersihkan diri pada bulan puasa, ada yang lebih penting lagi yang perlu kita jaga agar kita tidak terjerembab kembali ke dalam nilai buruk sebelum puasa. Apakah itu? Setelah lebaran nantinya, seyogyanya diusahakan agar kita senantiasa lapar terhadap perbuatan baik, dahaga terhadap kemaslahatan.

Manusia yang lapar terhadap perbuatan baik adalah manusia yang merasakan nikmat makan yang banyak ketika lapar. Sesuai dengan sunnah Nabi Besar Muhammad SAW, ”Makanlah ketika benar-benar lapar dan berhentilah sebelum merasakan kenyang”.

Itulah lapar yang membawa hikmah, bukan hikmah yang sekedar sebulan saja, melainkan hikmah yang berdebit sepanjang sujud terhadap Allah sang pemberi Hikmah!

Sumber bacaan : PUPUS HARU DI SAJADAH BIRU, Dedi Suardi