Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

Fenomena Kehidupan di Rumah Sakit jiwa


Saya pernah berkunjung ke salah satu Rumah Sakit Jiwa yang ada di Makassar. Tapi kunjungan saya bukan sebagai Pasien, melainkan menemani seorang sahabat untuk menjenguk keluarganya yang sementara di rawat disana.

Di rumah sakit jiwa tentu saja yang dirawat adalah orang sakit jiwa, bukan sakit yang lain. Di rumah sakit jiwa, ada pasien yang diisolasi, ada pasien yang ditempatkan di ruang bersama dalam pengawasan ketat, ada pula yang sudah diberi kebebasan relatif di ruang atau halaman terbuka.

Tingkah para pasien di rumah sakit jiwa juga macam-macam. Ada yang selalu mau mengamuk, ada yang duduk bingung sendiri, ada yang terus-terusan mengoceh, ada yang selalu tertawa, dan sebagainya.

Di rumah sakit jiwa fenomenanya memang aneh-aneh. Di sepanjang koridor rumah sakit, ada seorang gila yang kerjanya terus menyapu lantai. Dia terus menyapu dengan rajin dari ujung ke ujung. Anehnya, di belakangnya berjalan pasien lain yang kerjanya menghamburkan sobekan kertas.

Jadinya, satu menyapu terus yang satunya lagi mengotori terus. Yang menyapu tidak marah dan tidak menegur pasien yang membuang kotoran, dan yang membuang kotoran acuh saja dengan temannya yang terus menyapu membersihkan.

Dua-duanya asyik dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Perbuatan baik dan perbuatan buruk boleh saja berlangsung bersama, yang penting "aman-aman" saja, tidak ada yang saling mengganggu.

Photobucket


Fenomena di rumah sakit jiwa rupanya bisa dimaklumi seperti itu. Orang boleh saja ngoceh sendiri. Orang boleh saja tertawa sendiri. Yang menyapu lantai terus saja menyapu tidak peduli ada yang mengotori. Yang mengotori lantai terus saja mengotori tidak peduli ada yang capek menyapu.

Di rumah sakit jiwa semua boleh, yang penting aman dan tidak merusak. Pertanyaanya adalah, bagaimana di luar rumah sakit jiwa? Bukankah di luar rumah sakit jiwa juga kebenaran dan kebatilan bercampur-baur, semua boleh dan tidak saling peduli?

Mari renungkan bersama... moga saja kita tidak ikutan jadi pasien. Amin!

Senin, 23 Agustus 2010

Zakat Fitrah dan Kepedulian Sosial


Hidup Seorang Blogger :D harus mempunyai kepedulian Sosial. Tanpa terasa, separuh waktu Ramadhan hampir kita lalui, dan bulan penuh berkah ini akan meninggalkan segenap umat Muslim sebelum berjumpa kembali satu tahun mendatang. Ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan umat Muslim, yakni berzakat fitrah. Inilah salah satu keharusan di Ramadhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Jadi, bisa dikatakan zakat fitrah merupakan rangkaian kesempurnaan ibadah seorang Muslim ketika mengarungi puasa Ramadhan ini.

Keutamaan zakat fitrah sesuai dengan hadist Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa belum sempurna amal ibadah seseorang yang dilakukan pada bulan Ramadhan sebelum dia menunaikan kewajiban zakat fitrah. "Ini wajib hukumnya bagi setiap umat Muslim yang mampu".

Yang dimaksud 'yang mampu', adalah mereka yang sehari semalam dikaruniai makanan dan ada kelebihan dari yang dimakan. Mereka itulah yang kemudian wajib berzakat fitrah.

Sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, zakat fitrah harus ditunaikan dan disalurkan sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Pembayarannya dengan menggunakan komponen bahan makanan pokok, seperti beras, korma, gandum, dan sebagainya.

Tidak boleh memakai uang sebenarnya, karena pada zaman Rasul zakat fitrah ditunaikan dengan bahan makanan. Tetapi karena perkembangan zaman, sementara ulama -- semisal Yusuf Qaradhawi -- membolehkan membayar dengan uang senilai 2,5 kg.

Zakat fitrah berbeda dengan zakat-zakat yang lain. Kenapa dinamakan zakat fitrah karena disyariatkan ketika bulan (Ramadhan) telah sempurna dan pada masa umat Islam yang berpuasa sudah berbuka dari puasa Ramadhan.

Tujuan dari zakat fitrah ini adalah agar pada hari lebaran nanti, jangan sampai ada kaum fakir miskin, dhuafa, fukaha yang tidak menikmati rezeki. Sehari itu saja. Diharapkan dengan berbagai kebahagiaan di hari fitri, hubungan antar sesama dapat terjalin dengan baik dan terutama muncul semangat keberpihakan terhadap kaum lemah.

Oleh karenanya menjadi tanggungjawab bersama agar pada hari fitri nanti semua merasakan kenikmatan. Terlebih ketika kondisi dan situasi perekonomian bangsa sedang suram, jumlah rakyat miskin juga diperkirakan bertambah, maka kewajiban zakat fitrah harus benar-benar diamalkan.

Merujuk ke persentasenya yang hanya 2,5 persen. Namun lebih dari itu, diharapkan melalui zakat fitrah, jiwa sosial seseorang terketuk untuk selanjutnya bersedia mengeluarkan zakat, sadaqah, amal jariah dan sebagainya yang nilainya lebih besar.

Jangan kemudian ada yang berpikir setelah membayar zakat fitrah, selesailah sudah kewajiban zakat yang lain. Kita harus ingat, sedekah, amal jariyah juga wajib bagi yang berpunya.

Perintah berzakat fitrah adalah guna menggugah kedermawanan, bahkan zakat fitrah sebenarnya ini tak lebih dari simbol kepedulian sesaat, tapi dalam jangka panjang harus ada tindak lanjut yang signifikan.

Semisal dengan membayar zakat maal yang berupa hisab (perhitungan) dari harta yang tentunya jumlahnya bisa lebih besar. Oleh karenanya sebagai upaya mendorong peningkatan zakat, perlu ada sosialisasi zakat secara berkesinambungan demi terwujudnya pemerataan keadilan sosial.

Terkait esensi kewajiban zakat fitrah, ada dua tujuan utama. Pertama, secara sosial zakat ini adalah untuk kepentingan kaum miskin dan kedua, sebagai sarana 'membersihkan' harta seseorang. Jadi zakat fitrah wajib bagi umat Muslim agar pada hari lebaran nanti tidak ada lagi yang meminta-minta dan tidak merasakan kebahagiaan.

Kalau dilihat secara perorangan, memang jumlah 2,5 kg beras terasa kecil sekali, tapi bila diakumulasikan, jumlahnya cukup besar dan diharapkan bisa meringankan beban fakir miskin. Sementara kalau mau membayar lebih, tentu boleh saja tetapi melalui komponen sadaqah, infak dan sebagainya. Yang penting, yang wajib sudah ditunaikan terlebih dahulu.

Perlu diketahui bahwa zakat fitrah berbeda dengan zakat maal. Zakat fitrah ini kaitannya dengan fitrah manusia yang beragama Islam. Mereka yang telah menjadikan agama Islam sebagai pedoman hidup, harus secara konsekuen melaksanakan segala perintah-Nya termasuk berpuasa di bulan Ramadhan.

Sebagai pahala bagi yang melaksanakan puasa dan amalan lain di bulan suci itu, Allah SWT sudah menjanjikan untuk menghapuskan dosa-dosanya, dan kembali ke fitrahnya. Akan tetapi, belumlah sempurna pahala Ramadhan tersebut jika zakat fitrah belum ditunaikan.

Dengan demikian, zakat fitrah menjadi kewajiban bagi umat Muslim, tanpa kecuali, tapi bila demikian, bagaimana dengan mereka yang tidak berpunya?

Sesuai pedoman, kaum fakir miskin, yatim piatu, dhuafa, dan sebagainya, tetaplah merupakan penerima zakat fitrah. Namun pesan yang hendak disampaikan adalah, akan lebih baik jika tidak selamanya mereka menjadi penerima zakat, dalam artian perlu ada peningkatan taraf hidup.

Di sinilah selanjutnya peran dan tanggung jawab pemerintah untuk mengurusi para fakir miskin tersebut, antara lain melalui pengelolaan keuangan dan zakat secara benar. Oleh karenanya, peningkatan kuantitas zakat maal tidak bisa ditawar-tawar lagi. "Kalau hanya zakat fitrah, berapa sih yang bisa dihimpun dari situ?"

Maka dari itu, dengan melihat momentum Ramadhan ini amat tepat menjadi pijakan guna memantapkan kembali komitmen kepedulian sosial kita.

Harusnya dalam konteks kemiskinan yang kian meningkat dewasa ini, para pihak terkait berupaya lebih keras menggolkan aturan zakat sebagai substitusi pembayaran pajak. Kalau ini bisa terlaksana, tentu akan berdampak signifikan bagi peningkatan penerimaan zakat.

Zakat fitrah memang kewajiban utama, namun hendaknya bukan akhir dari segalanya. Zakat fitrah sejatinya menjadi pemicu tumbuhnya semangat berderma yang jika itu sudah tertanam, maka selepas Ramadhan, berzakat akan terus dilakukan.

Jumat, 09 Juli 2010

Hikmah Isra Mi'raj

Hari ini Jum'at tanggal 9 Juli 2010 M bertepatan dengan 27 Rajab 1431 H sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam.

Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi'raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama yang Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi'raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut.

Kita kenal, Isra' wal Mi'raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.

Dalam sitausi seperti inilah, rupanya "rahmah" Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "warahamatii wasi'at kulla syaei", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan.

Artinya, bahwa kita adalah "rasul-rasul" Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah "perjalanan" yang menyejukkan. "Allahu Waliyyulladziina aamanu" (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman". Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan.

Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. "Wa laa taeasuu min rahmatillah" (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah).

Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit "dendam", dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang "ma'shuum" (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?

Rasulullah adalah sosok "uswah", pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja "muballigh" (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi "percontohan" bagi semua yang mengaku pengikutnya. "Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah".

Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan "suci" yang seharusnya dibangun dalam suasa "kefitrahan". Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup.

Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian "penentu" baik atau tidaknya seseorang pemilik hati.

Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. "Khatamallahu 'alaa quluubihim".

Di Al Qur'an sendiri, Allah berfirman" yang Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya". Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju "ilahi" dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.

Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri "suci".

Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan "ketidak senangan" terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.

Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.

Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya.

Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama'ah, dan tidak tanggung-tanggung ma'mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma'mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan "leadership", walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam.

Kepemimpinan dalam shalat berjama'ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: "Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan". Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.

Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria "imaamah" atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur'an masih menjadi "tanda tanya" besar pada kalangan umat ini. "Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami".

Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama'ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif.

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni'matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni'mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni'matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.

Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan "dzikir", dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. "Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari "fadhalNya" dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj).

Mengakhiri tulisan ini hendaknya kita semua harus memperbaiki diri dan berkaca kepada setiap musibah dan bencana yang sering terjadi. Bukan hanya bencana alam saja yang bisa kita resapi dan kita maknai, melainkan bencana moral yang telah banyak melenceng baik dari tata kehidupan para selebritis, pejabat eksekutif, yudikatif maupun legislatif hingga masyarakat biasa telah banyak terefleksi dan sungguh telah jauh berpijak dari rel-rel kehidupan yang baik dan hakiki sesuai syariat Islam.

Semoga hal ini dapat menjadi pijakan kita untuk melangkah ke depan yang penuh makna dalam menjalani sisa-sisa hidup kita yang semakin hari tanpa disadari jatah usia kita semakin berkurang.

~~~~~~~~~~~~



PS : Jangan lupa tetap dukung saya dalam Spread Ask Ralarash Contest dengan mengklik link dibawah ini,
Funny Myspace Comments



Terima Kasih atas dukungannya. Salam hangat selalu.


Rabu, 19 Mei 2010

102 tahun KEBANGKITAN NASIONAL



Pada peringatan hari Kebangkitan Nasional yang bertepatan dengan 20 Mei hari ini, marilah segenap Blogger mania kita bersama mencoba untuk mengolahragakan otak guna mencari file yang sudah di save dalam long memory pribadi masing-masing. Tentunya hal itu masih bertalian dengan perjalanan sejarah yang diawali dengan lahirnya gerakan nasionalis pertama yaitu Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928).


Dimulai dengan lahirnya gerakan nasionalis pertama Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, seabad plus dua tahun yang lalu. Pergerakan nasional ini diprakarsai oleh Dokter Soetomo di Jakarta. Dengan dorongan dilahirkannya Boedi Oetomo ini, kemudian lahirlah Sarekat Islam, di tahun 1912, di bawah pimpinan Haji O.S. Tjokroaminoto bersama Haji Agus Salim dan Abdul Muis.

Dalam tahun 1912 itu lahir pula satu gerakan politik yang amat penting, yaitu Indische Partij yang dimpimpin oleh Douwes Dekker (Dr. Setiabudhi), R.M. Suwardi Suryaningrat dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Tahun 1913, partai ini dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda dan pemimpin-pemimpinnya ditangkapi dan kemudian dibuang dalam pengasingan.


Namun, terlepas dari hal tersebut diatas, kita tidak bisa pungkiri bahwa realita saat ini tidaklah demikian. Kita pribadi terkadang merasakan aroma ketidak pedulian masyarakat terhadap ruang sejarah publik yang seharusnya dapat dikeruk manfaatnya. Betapa tidak, coba saja tenggok tanggal 2 Mei kemarin yang bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional. Momentum ini hanya diperingati secara seremonial saja tanpa ada implementasi kritis yang terus berkesinambungan. Akibatnya nasib pendidikan di negeri kita yang tercinta ini masih memprihatinkan.


Kebangkitan bukanlah sekedar melek dari ngantuk, atau berdiri tegak dari duduk, melainkan motivasi apa gerangan yang menggelitik sehingga insan melek dari kantuknya sehingga ia tegak berdiri dari santainya yang berleha-leha.


Sulit dipungkiri ! Andailah dipikir panjang teriring jiwa tenang, manusia kini ternyata tengah dilanda kegelisahan yang amat parah, kegelisahan yang tidak Cuma disebabkan oleh satu hal, namun disebabkan oleh berbagai hal yang pada saat ini tengah mementaskan peranannya yang merisaukan.

Risau adalah pangkalnya segenap jikalau, dan andai jikalaunya terlampau membludak, maka hidup ini akan kehilangan arah, kehilangan makna, yang termasuk amal kreatifitasnya. Dan andai hidup terputus dari gerak kreatifitasnya, maka bersemaraklah mimpi-mimpi yang penuh dengan ‘berandai-andai’.


Manusia adalah jenis makhluk yang doyan berfikir, yang bahkan oleh Ibn Khaldun disanjungnya sebagai sumber segenap kesempurnaan dan puncak segala kemuliaan, andai dibandingkan dengan makhluk lainnya ciptaan Allah !. namun dengan segenap sanjungan yang disandangnya terukir senyum bangga, diam-diam makhluk yang namanya manusia itu….. semakin lama semakin gelisah saja tinggal di pemukiman fana ini. Ia gelisah menatap masa depannya. Ia gelisah menatap segenap bentuk perubahan culture, perubahan pitutur, bahkan perubahan umurnya sendiri yang semakin uzur.


Manusia dengan sandang sanjungnya gelisah terhadap segenap kemunduran dan kemajuan umat. Gelisah terhadap canggihnya teknologi yang semakin memukau, gelisah terhadap berbagai tantangan hidup yang semakin membingungkan dan membimbangkan sambil tak menyadari bahwa Tuhan tak membebani umat-Nya dengan takaran tantangan yang berlebihan. Atau dengan kata lain, pada hakekatnya manusia itu tidak dibebani beban orang lain sehingga, andai ia tak mampu bangkit, tak usahlah menyalahkan orang lain, lebih-lebih lagi menyalahkan Tuhannya sendiri ! dan iapun tak memikul dosa orang lain !


Manusia yang masih bercokol dalam wawasan jahiliyah yang sempit, yang parsial-simpek, akan sulit bangkit dalam arti sebenar-benarnya. Sebab, kebangkita yang sejati dimulai dari kebangkitan tata pikir yang lebih dewasa, yang tidak kekanak-kanakan, yang kokoh konstruktif, yang berencana matang.


Agama mencanangkan perubahan nasib lewat usaha dalam kelurusan niat. Dalam arti bahwa pluit dimulainya perjuangan hidup tak usahlah menanti dulu aba-aba yang munculnya dari langit. Memang itulah yang dikehendaki Sang Kreator : ’Tak kan berubah nasib suatu bangsa, kecuali bangsa itu yang merubahnya sendiri’. Ini menandakan bahwa Tuhan telah maha jujur terhadap kreasi-Nya sendiri, dalam hal ini kreasi yang berwujud makhluk berakal, yang diberi lahan berpikir, yang diberi lahan usaha.


Setelah sadar bahwa Tuhan bukanlah diktator, mengapa umat berpangku tangan saja menanti guyuran nasib? Mengapa umat tak mampu merombak sistem berpikir yang telah usang dan lapuk, yang tak sesuai lagi dengan tantangan yang semakin berkembang, yang tak seiring dengan mengembangnya daya pikir kekhalifahan insan, yang tak seiring dengan mengembangnya jagat raya itu sendiri?


Bangkit yang sebenar-benarnya bangkit bukanlah sekadar menghambur-hamburkan anjuran manis yang tanpa bekas. Merombak cara berpikir bukanlah merombak aqidah yang lempang sebab aqidah itu sendiri akan senantiasa terusung nilainya di dalam evolusi berpikir yang sehat dan jujur. Tuhan tak kan merelakan agama diusung oleh kesempitan pikir, sebab agama itu sendiri diturunkan pada manusia justru untuk menyelamatkan manusia dalam kesesatan pikiran.


Alangkah indahnya negeri yang semarak ilmu, semarak teknologi, yang ilmu dan teknologinya berguna bagi kesejahteraan ummat karena diimbas oleh nilai-nilai spiritual. Negeri demikian adalah negeri yang berilmuwan dan berteknolog penuh ketqwaan, yang tak takkabur berkat ilmu dan kecanggihan teknologinya, yang penuh syukur terhadap Tuhan yang Mahaluhur.

Dengan jiwa mutma’innah, semoga tidak teralami kembali kutukan terhadap negeri Saba, yang diporak-porandakan Tuhan disebabkan oleh para penghuninya yang pintar namun tak sudi syukur terhadap Gusti Allahnya.

Masa lampau merupakan pelajaran buat masa kini, musibah masa lampau tak usahlah terulang kembali. Marilah kita berjuang membangun kebenaran Allah tanpa didekili interes yang kusam, kita bangun negeri yang baldatun tayyibatun wa-Rabbun ghafur, negeri indah adil makmur dalam ampunan Allah !
Dengan berbekal seabrek pengalaman sejarah yang tidak hanya menginjak harga diri siapapun, sudah saatnya kita sebagai salah satu dari komponen masyarakat Indonesia mulai berbenah diri dan bersatu guna membangun negara kita agar jauh lebih baik lagi. Mari kita intropeksi diri secara totalitas sehingga kita mempunyai suatu kesadaran ruang, posisi, dan moral yang balance.

Namun hal lain yang perlu mendapatkan sentuhan lebih adalah masalah pendidikan. Bagaimanapun juga, indikasi yang paling dominan untuk menunjukkan suatu peradaban maju dari sebuah bangsa adalah ketika sektor pendidikannya berkualitas lebih.


Semoga momen kebangkitan nasional ini bukanlah sekadar slogan-slogan belaka, melainkan kebangkitan yang penuh daya kreatif, energik, yang mampu memberi arti pada kehidupan, yang mampu memupus segala kegelisahan kini, yang mampu menggelarkan fitrah kesucian dalam genangan Ridho Ilahi Rabbi.


Oleh karena marilah kita bersama-sama menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang memiliki kesadaran ruang, posisi, dan moral yang tinggi, sehingga Indonesia benar-benar bangkit menjadi bangsa yang bersahaja, sentosa, adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Amien!

Gambar diambil dari sini



Senin, 05 April 2010

KEUTAMAAN MENJAGA LIDAH

Tak dapat dipungkiri, lidah adalah karunia Allah yang sangat berarti bagi kehidupan kita. Siapa pun pasti akan mengalami kesukaran untuk berkomunikasi dan menyampaikan gagasan-gagasan, bahkan keinginannya, kepada orang lain, tanpa melalui lidah.

Lidah termasuk organ tubuh paling utama dan paling banyak beraktivitas dalam keseharian kita. Bahkan dalam banyak hal, apa yang meluncur dari lidah menjadi ukuran kualitas seseorang.

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR, Bukhari).

”Kata” yang meluncur dari lidah seseorang, implikasi dan pengaruhnya bisa melebihi kapasitas dirinya dan zamannya. Akan menggema dan dapat memantul di semua benua. Banyak ungkapan yang lahir dari lidah seseorang memiliki nilai abadi.

Ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu menebas leher siapa pun, maka dimensi daya hancurnya kepada kehidupan sangat luas. Rasulullah Saw bersabda:"Tidak ada satupun jasad manusia, kecuali pasti kelak akan mengadukan lidah kepada Allah atas ketajamannya".(HR, Ibnu Abi Dunya).

Ketika lidah mengalami kerusakan, maka akibat pastinya adalah meluncurnya produk lisan yang membahayakan orisinalitas jiwa manusia. Baik jiwa orang yang mengeluarkannya atau pun jiwa yang menangkapnya. Selanjutnya, kesadaran azali kita, seperti ketika kita di tanya oleh Sang Pencipta di alam azali, “Apakah aku Rabb kalian?” dan kita menjawab, “Benar”, akan menjadi rusak pula karena diperkosa oleh berbagai produk lisan yang menggencetnya. Akibatnya jiwa pun menangis karenanya. Sebab jiwa pada dasarnya/secara orisinil senantiasa cenderung mencari ketenangan, rasa nyaman dan kepuasan.

Oleh karena itu, marilah semua kita senantiasa menjaga lidah agar produk lisan kita tidak membahayakan orisinalitas jiwa sesama........


~~~~oooOOooo~~~~


Tulisan kali ini adalah postingan terakhir saya sebagai penerima amanah dari Ayahanda. Dan Insya Allah besok Ayahanda akan bersama kita lagi disini, dan untuk selanjutnya saya akan kembali berkonsentrasi dengan pelajaran serta mengelola Blog saya agar Mbah Gugel tidak sia-sia menghadiahi saya PR 3.

Mohon maaf atas segala kekurangan selama saya berada disini

Jangan lupa untuk mampir dirumah saya DISINI.




Senin, 29 Maret 2010

PENTINGNYA SEBUAH AMANAH

Amanah dalam bahasa Arab berarti memenuhi janji. Amanah diambil dari kata Al-amnu (rasa aman) lawan dari ketakutan. Amanah berarti merasa aman dari pengkhianatan.

Sedangkan secara istilah: Segala sesuatu yang harus dijaga dan ditunaikan, baik itu hak-hak Allah seperti ibadah dan menjauhi maksiat. Maupun hak-hak sesama manusia, seperti menjaga rahasia dan menepati janji.

Ketika seseorang dilahirkan ke dunia ini akan terbentuk suatu pertanggungjawaban dari setiap tubuh manusia. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT pada surat An Nahl:93, “… Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. Dari sini saya mulai berpikir akan amanah yang Allah berikan kepada saya. Saya berpikir apakah amanah yang saya jalankan sesuai dengan jalan-Nya?

Allah mewajibkan kita untuk selalu menjaga Amanah. (Annisa 4:58)

Macam-macam amanah :

1. Umur (usia / jatah hidup).
Kita hidup di dunia ini sudah diberikan kesempatan, umur, usia dan jatah hidup oleh Allah SWT. Sudah sewajib nya kita harus menjaga amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Gunakan usia kita untuk hal-hal yang berguna dan bermanfaat untuk diri kita. Gunakan lah banyak kesempatan hidup kita untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jangan sia-siakan waktu dan umur kita untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna. Semua yang kita perbuat di dunia ini akan dimintai pertanggungan jawab tidak terkecuali mengenai Umur ini.

2. Kesehatan.
Kesehatan dalam kehidupan kita ini juga merupakan Amanah dari Allah SWT. Kadang-kadang kita ingkar dan lupa akan nikmat kesehatan ini, ketika sehat kita sering kurang mensyukuri kesehatan yang diberikan Allah SWT kepada kita. Malah sering kita tidak memanfaatkan kesehatan kurang maksimal.

Ketika sehat sering kita gunakan waktu dan tubuh kita untuk melakukan perbuatan yang kurang bermanfaat. Atau cenderung untuk keuntungan dunia semata, dan melupakan kepentingan akhirat. Sering juga kita tidak memanfaatkan waktu kita ketika sehat untuk melakukan banyak hal, melainkan menunda-nunda pekerjaan yang sebaiknya dikerjakan ketika kita sehat, sehingga kita tidak bisa melakukan nya ketika sedang sakit.

Ada dua nikmat yang sering kita lupakan. Nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan .

3. Ilmu
Ilmu yang kita miliki juga merupakan amanah dari Allah SWT. Karena dengan ilmu juga kita menjadi memiliki derajat yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Manusia lain yang tidak berilmu. Bagaimana anda menggunakan ilmu anda ? Untuk hal-hal kebaikan ataukah untuk hal-hal keburukan. Karena jika anda telah memiliki ilmu hanya dua kemungkinan yang akan dilaksanakan. Anda mengamalkan ilmu anda untuk hal-hal kebaikan / kebajikan bagi Umat Manusia atau hal-hal keburukan, atau tidak anda amalkan sama sekali.

Siapa yang berikhtiar mencari ilmu maka Allah SWT memudahkanbaginya menuju pintu Surga.
Maka banyak-banyaklah mencari ilmu, semangat dan giatlah dalam mencari ilmu. Amalkan ilmu anda untuk kemaslahatan orang banyak.

~~~~oooo~~~~

Tulisan ini juga saya tulis sebagai bentuk menjaga Amanah dari Ayahanda, yang menitip blog ini untuk di update setiap hari selama beliau menyelesaikan tugas penting.

Teramat berat rasanya karena blog saya sendiri sudah tidak terupdate selama beberapa bulan yang disebabkan karena kesibukan sekolah. Saya mohon maaf untuk sahabat semuanya...

Semoga saja apa yang saya tulis diatas dapat berguna bagi kita semuanya terutama sekali untuk diri pribadi saya.



Kamis, 11 Maret 2010

SENYUMAN ADALAH PERANGKAP HATI


Apakah anda pernah melihat seekor burung yang masuk ke dalam perangkap? Sesungguhnyalah burung tersebut menjadi tawanan pemilik perangkap itu!

Demikian halnya juga dengan hati. Sesungguhnya, perangkap hati adalah senyuman. Siapa yang masuk kedalamnya, maka akan menjadi tawanannya!

Senyum merupakan cara yang paling mudah untuk menawan hati orang lain. Tidak memerlukan biaya apa pun, melainkan hanya dengan tersenyum setulus hati dan penuh ikhlas.

Sudah merupakan tabiat dan fitrah manusia untuk tertarik kepada seseorang yang selalu memberikan senyuman dengan ikhlas kepada orang lain. Sebaliknya, juga kecenderungan manusia secara alami menjauhi orang-orang bermuka muram dan cemberut. Wajah mencerminkan segala hakikat serta rahasia yang tersimpan di hati.

Sesungguhnya bahasa dari mimik wajah berbicara lebih dalam dan mempunyai pengaruh yang lebih kuat, dibandingkan ungkapan yang disampaikan melalui bahasa lisan. Ketika anda tersenyum, maka seolah-olah dengan senyuman itu anda berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu, engkau telah memberikan kebahagiaan padaku, dan aku sangat senang ketika melihatmu…”

Tapi, janganlah anda mengira bahwa yang saya maksudkan dengan senyuman di sini adalah hanya sekadar senyum yang terlukis pada kedua bibir, tanpa ada ruh dan keikhlasan didalamnya. Sama sekali tidak demikian! Saya berbicara mengenai senyum sejati yang lahir dari lubuk hati anda yang paling dalam. Itulah senyum yang akan membawa keuntungan besar bagi anda di dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu senyum merupakan kunci bagi semua hati, bahkan hati yang terkunci rapat sekali pun. Jika anda melihat seseorang yang muram, wajahnya menggambarkan kekalutan serta kegelisahan, maka tidak ada hal lain yang lebih layak anda lakukan di depannya kecuali dengan memberikan senyuman. Kemudian anda pun akan melihatnya tersenyum tanpa dia menyadarinya, dan bisa jadi akan menjadi seorang teman yang tulus bagi anda.

Sebuah realita penting menyatakan bahwa senyum tulus menggambarkan kondisi kejiwaan yang sehat. Sedangkan bermuram durja adalah ungkapan dari kondisi kejiwaan yang ‘sakit’. Beberapa hal yang diperhatikan oleh para psikolog adalah ditemukannya keterkaitan yang sangat jelas antara ekspresi wajah dengan kesehatan psikologis seseorang, seperti mengerutkan kening, menggigit bibir, menyipitkan kelopak mata dan lain sebagainya.

Dikatakan juga bahwa ketika seseorang tersenyum, maka 13 syaraf wajah bekerja. Sementara ketika seseorang cemberut dia telah memperkerjakan 47 syaraf. Lalu, mengapa anda harus berbuat zhalim terhadap diri dan urat-urat anda dengan cemberut, bukan tersenyum?

Jadikanlah senyum sebagai tanda jati diri anda. Senyum yang cantik akan membuat wajah semakin tampak indah dan bersinar, mampu menitikkan kesan tersendiri di hati, serta dapat menebarkan kebahagiaan dan keceriaan di antara kawan-kawan. Untuk itu, cobalah untuk belajar meninggalkan kebiasaan bermuram durja dan bermuka masam. Karena dengan itu akan membuat wajah menjadi suram dan bibir juga terlihat kusam.

Dapat dipastikan, anda akan sulit mendapatkan seorang kawanpun, selama anda mempertahankan wajah anda yang muram dan suram dalam berinteraksi dengan orang lain. Namun jika anda menjadikan senyuman sebagai ciri khas jati diri anda, niscaya anda akan bisa mendapatkan ratusan, bahkan ribuan, teman. Tidak ada yang bisa anda lakukan selain mencoba. Sesungguhnya percobaan adalah sebaik-baik petunjuk.

Jika senyum dapat mencipta sebuah kesuksesan, maka cemberut juga menimbulkan kegagalan.

Karena itulah, seseorang yang tidak tahu cara bagaimana harus tersenyum, dia tidak akan pernah mampu untuk membuka hati seorang pun.

Senyum tulus, hangat, yang lahir dari hati merupakan salah satu rahasia kesuksesan. Senyuman adalah kunci hati juga merupakan simbol cinta dan kasih sayang.

Oleh sebab itu, saya katakan kepada anda, Tersenyumlah, dan anda akan tetap hidup!


Selasa, 09 Maret 2010

KEUTAMAAN MENATA HATI (2)

MENATA HATI
Bila hati kian suci, tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati, ciri mukmin sejati
Tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk, jadi makhluk terkutuk

Bila hati kian lapang, hidup sempit terasa senang
Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit
Terasa terus menghimpit, lahir batin terasa sakit


Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan.

Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.

Tentunya akan terjadi sebaliknya bagi orang berhati semrawut dan kusut masai. Ia bagaikan kamar mandi yang kumuh dan tidak terpelihara. Lantainya penuh dengan kotoran. Lubang WC-nya masih belepotan sisa kotoran. Dindingnya kotor dan kusam. Gayungnya bocor, kotor, dan berlendir. Pintunya tak berselot. Krannya susah diputar dan air pun sulit untuk mengalir.

Tak ada gantungan. Baunya membuat setiap orang yang menghampirinya menutup hidung. Sudah pasti setiap orang enggan memasukinya. Kalaupun ada yang sudi memasukinya, pastilah karena tak ada pilihan lain dan dalam keadaan yang sangat terdesak. Itu pun seraya menutup hidung dan menghindarkan pandangan sebisa-bisanya.

Begitu pun keadaannya dengan orang yang berhati kusam. Ia senantiasa tampak resah dan gelisah. Hatinya dikotori dengan buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain berbahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan.

Sungguh, orang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hatinya yang selalu gelisah, namun juga orang lain yang melihatnya pun akan merasa jijik dan tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia tidak akan disukai, sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya.

Adakah ia orang berilmu, berharta banyak, pejabat atau siapapun; kalau berhati busuk, niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya. Derajatnya pun mungkin akan sama atau, bahkan, lebih hina dari pada apa yang dikeluarkan dari perutnya.

Bagi orang yang demikian, selain derajat kemuliannya, akan jatuh di hadapan manusia, juga di hadapan Allah. Ini dikarenakan hari-harinya selalu diwarnai dengan aneka perbuatan yang mengundang dosa.

Allah tidak akan pernah berlaku aniaya terhadap makhluk-makhluknya. Sesungguhnyalah apa yang didapatkan seseorang itu, tidak bisa tidak, merupakan buah dari apa yang diusahakannya.

Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan. Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak.

Sementara itu ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara dirinya dari sikap riya, ujub, dan perilaku rendah lainnya. Oleh karenanya, surga sebaik-baiknya tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak. Bahkan ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.

Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dipetik hasilnya dunia akhirat.

Sebaliknya alangkah malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Karena, jangankan akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan lapang.

Mari sahabat, kita senantiasa melatih diri untuk menyingkirkan segala penyebab yang potensial bisa menimbulkan ketidaknyamanan di dalam hati ini. Karena, dengan hati yang nyaman, indah, dan lapang, niscaya akan membuat hidup ini terasa damai.

Beragamnya masalah yang berseliweran,.... semoga saja tidak akan pernah membuat kita terjebak dalam kesulitan hidup karena kita selalu mampu menemukan jalan keluar terbaik, dengan izin Allah. Insya Allah!


Senin, 08 Maret 2010

KEUTAMAAN MENATA HATI (1)


Jagalah hati, jangan kau kotori
Jagalah hati, lentera hidup ini
Jagalah hati, jangan kau nodai
Jagalah hati, cahaya Illahi

Bila hati kian bersih, pikiranpun akan jernih
Semangat hidup nan gigih, prestasi mudah diraih
Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh

Alhamdulillah, hari ini saya agak pagi tiba di tempat tugas, disaat sang mentari masih enggan untuk menampakkan diri ataukah karena awan yang begitu tebal menghalangi semburat cahayanya. Semerbak harum bunga sedap malam seakan masih tersisa yang tergantikan oleh wangi melati yang lagi mekar berseri yang aromanya tercium oleh siapapun yang kebetulan lewat. Sementara titik-tik embun yang bergelayutan di ujung dedaunan mulai menangkap kilatan cahaya.

Sungguh indah dan mengesankan, deretan taman bunga sepanjang koridor menuju ruangan saya memang ditata dengan sangat apik oleh Pak Rahman Tukang Kebun sekolah, jenis dan warna bunganya berkombinasi secara artistik yang memiliki warna-warni yang bervariasi sehingga kesannya begitu menyegarkan.

Rerumputan liar yang tumbuh dibawahnya senantiasa disiangi. Parasit ataupun hama yang akan merusak batang dan daunnya dimusnahkan. Tak lupa setiap hari disiraminya dengan merata, dengan air yang bersih. Tak akan dibiarkan ada dahan yang patah atau ranting yang mengering.

Mungkin kita semua sepakat, sebagaimana halnya dengan qolbu kita yang senantiasa tertata, terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya. Kita akan senantiasa merasakan lapang, tenteram, tenang, sejuk, dan indahnya hidup di dunia ini. Bila demikian halnya, maka akan tersemburat pula dalam setiap gerak-gerik kita, perilaku, tutur kata, sunggingan senyuman, tatapan mata, riak air muka, bahkan bila kita diam sekalipun.

Saya jadi teringat salah satu tausyiah dari Udztads Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), bahwa Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana.

Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan.

Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan.

Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.


Bersambung~~~~

Kamis, 25 Februari 2010

HIKMAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW


Hari ini Jumat 26 Februari 2010 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1431 H. ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Perayaan Maulid berlangsung di bebarapa tempat, ada yang berlangsung sangat meriah namun ada pula yang berlangsung sederhana.

Perayaan Maulid dibeberapa daerah sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang mengarah ke praktik syirik dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Dibalik semua perayaan yang berlangsung tersebut ada hal yang paling penting kita maknai, agar perayaan itu bukan sekedar seremonial belaka.

Peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt. tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.

Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional, mengungkapkan dalam situs beliau:“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”

Kenyataan saat ini telah membuktikan, bahwa disebabkan belum bersungguh-sungguhnya kita dalam meneladani Rasulullah SAW dalam mengarungi perjuangan hidup, maka kehidupan kaum muslimin saat ini cenderung terperosok menjadi ummat terbelakang, dibandingkan dengan ummat-ummat lain di hampir semua bidang kehidupan.

Oleh karena itu, jika kondisi kehidupan kita ingin berubah, maka yang harus kita lakukan adalah mau dan berani merubah kebiasaan hidup kita ini.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah segala sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.23. Ar-Ra’du : 11).

Imam Ibnu ‘Atho’illah dalam kitab Al-Hikam menyatakan :“Bagaimana mungkin keadaanmu akan berubah menjadi luar biasa, sedangkan kamu belum mau merubah kebiasaan-kebiasaaan hidupmu”.

Kebiasaan mengabaikan teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata membawa kita kepada kemunduran derajat hidup, maka jika ingin berubah menjadi ummat yang maju dan bermartabat, kita harus merubah kebiasaan kita.

Kita harus tinggalkan sikap menyepelekan dan mengabaikan uswahtul hasanah Rasulullah SAW. Kita harus bersungguh-sungguh dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengenal dan mengikuti teladan Rosulullah SAW dalam hidup ini.

Kesungguhan kita dalam mengikuti teladan Rasulullah SAW secara utuh dalam mengarungi perjuangan hidup ini adalah kunci menuju kehidupan ummat yang lebih maju dan bertartabat di masa yang akan datang.

Imam Ibnu Atho’illah menyatakan : “Janganlah kamu membanggakan warid yang belum kamu ketahui buahnya. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan itu bukanlah hujan. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan adalah wujudnya buah-buah pepohonan”.

Al-Hamdulillah jika kita dapat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meriah. Namun hendaknya jangan terlalu bangga dahulu. Sebab terselenggaranya acara itu baru ibarat awan. Meriahnya suasana baru laksana hujan. Bagaimana dengan buahnya ?. Sudah wujudkah ?.

Buahnya adalah “Mutiara hikmah dan perubahan”. Perubahan menjadi lebih baik. Lebih utuh dan lebih bersungguh-sungguh dalam meneladani Rosulullah SAW dalam seluruh sisi kehidupan kita. Kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia.

Rasullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya.

Kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman, " dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, maha mengetahui." (Qs. At-Taubah: 103).

Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu `alaihi wa alihi. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya.

Wallaahu ‘a’lam bisshowaab.

Kamis, 28 Januari 2010

KEKUATAN IKHLAS


Seorang pemuda tergeletak dipinggir jalan, tubuhnya kurus lemah dan sangat menggenaskan. Sudah banyak orang yang melewati tempat itu hanya mencibir dan segera berlalu. Beberapa saat kemudian Pak Darman yang dikenal sebagai saudagar kaya di kota itu lewat, sejenak dia terpaku dan timbul belas kasihannya. Dibawanya, pemuda itu kerumahnya dan dirawat hingga benar-benar pulih.

Namun pada suatu malam, pemuda tersebut menghilang dengan membawa sejumlah harta Pak Darman. Orang yang telah menolongnya hingga kesehatannya pulih. Sungguh sebuah perbuatan yang tidak terpuji….

Kebaikan Pak Darman telah dibalas dengan kejahatan. Akan tetapi Pak Darman yang mengetahui hal itu hanya tersenyum hingga membuat heran para pembantunya.

Lalu, Pak Darman berkata, ”Tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa izin Allah. Tugas saya menolong pemuda itu sudah selesai, semoga bisa menjadi penghancur dosa saya. Mengenai harta yang dilarikan pemuda itu, tidaklah menjadi masalah. Karena pada dasarnya harta hanyalah kenikmatan dunia.... dan mungkin bila pemuda itu tidak mengambilnya, bisa saja harta itu saya pergunakan untuk hal yang maksiat. Semoga Allah SWT mengganti harta tersebut dengan kenikmatan surga dan semoga Allah mengampuni dosa pemuda itu”

Subhanallah...... adakah diantara kita yang bisa bersikap seperti Pak Darman?

Demikianlah kekuatan orang ikhlas, tidak akan pernah goyah dengan kejadian apapun, dia senantiasa ridho pada ketentuan Allah, karena yakin bahwa Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya.

Semoga kisah singkat ini dapat jadi bahan perenungan untuk kita semuanya terutama untuk saya tentunya. Dengan senantiasa yakin bahwa Allah Mahatahu dan tidak pernah melupakan perbuatan baik hamba-Nya, walaupun hanya perbuatan menyingkirkan sebuah paku kecil di tengah jalan.

Kita jangan pernah berharap balasan dari orang yang telah kita tolong, karena sesungguhnya balasan Allah itu jauh lebih baik, asalkan kita melakukannya dengan ikhlas.

Ketika Allah menciptakan gunung, para malaikat kagum. Akan tetapi, Allah berfirman ada yang lebih kuat dari gunung yaitu besi. Namun ada yang lebih kuat dari besi , yaitu api. Pun ternyata masih ada yang lebih kuat dari api, yaitu air. Lagi-lagi masih ada ciptaan Allah yang lebih kuar dari air, yaitu angin. Dan terakhir masih ada yang lebih hebat dari angin, yaitu hamba Allah yang ikhlas dalam setiap perbuatannya.


Kamis, 14 Januari 2010

AKU DAN SURGA

JALAN KE SURGA
Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.

Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.

Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.

Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan .........

Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. "Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku," pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.

Para Nabi dan Rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya.

Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

"Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku," aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain." Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata "maaf" dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak."

Masya Allah murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jamaah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. "Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara," jelasnya lagi.

Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, "Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu."

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jamaah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.

Termasuk Manakah Aku ?
Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan, Astaghfirullah ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini.

Buat Sahabat semuanya, maafkan aku kalau kalian pernah tersakiti olehku,............

PS : Artikel ini saya dapat melalui E-mail dari seorang sahabat yang mengharapkan saya untuk memforwardnya. Semoga saja dapat memberikan perenungan bagi kita semuanya terutama untuk saya tentunya.



Rabu, 23 Desember 2009

DZIKIR DI AWAL PAGI

Dzikir
"Wahai anak cucu Adam,
engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari yang terhitung.
Bila berlalu satu hari berarti hilanglah sebagian darimu.
Jika hilang sebagian darimu maka bertambah dekatlah saat kematianmu.
Kalau engkau sudah mengetahui hal itu Maka segeralah berbuat!
(Beramal, bersiap dan berbekallah)."
(Hasan al-Bashri)


Matahari belum lagi muncul dari peraduannya, waktu subuh pun baru kan menjelang. Tetapi, keheningan menjelang subuh mulai pecah dengan suara merdu cicit burung yang saling bersahut-sahutan.

Indah sekali terdengar di telinga. Sayangnya, keharmonisan suara cicit burung itu semakin lama mulai menghilang bersamaan dengan makin bersinarnya matahari pagi.

Rutinas pagi dengan sambutan selamat datang suara cicit burung, mungkin menjadi sarapan pagi menjelang subuh yang dialami oleh sebagian orang. Subhanallah, fenomena alam yang sekilas terkesan sederhana ini, sebenarnya merupakan sebuah peringatan bagi kita.

Bahwa sesungguhnya semua makhluk di langit dan bumi, termasuk burung pun yang derajatnya lebih rendah daripada manusia melakukan tasbih (beribadah dan melakukan puji-pujian kepada Allah) dan dzikir kepada Ilahi.

Mereka bangun pagi-pagi buta, mengepakkan sayapnya, bertasbih dan berdzikir. Setelah itu baru mereka memenuhi kebutuhan dunianya, yaitu mencari makan, bercengkrama dengan anak dan keluarganya, atau sekedar bermain-main dengan burung lainnya.

Kita memang tidak mengerti tasbih dan dzikir yang dilakukan oleh burung-burung (ataupun makhluk-makhluk lainnya). Yang terdengar oleh kita hanyalah lantunan suara merdu yang harmonis, berirama, dan indah di telinga. Karena, sesungguhnya Allah SWT yang sudah memberitakan kepada manusia bahwa kita tidak akan mengerti tasbih dan dzikir yang dilakukan, baik oleh burung-burung ataupun makhluk-makhluk di langit dan bumi.

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi, kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia Maha Penyantun dan Maha Pengampun." (Qs. 17:44)

Oleh karena itu, alangkah malunya kita sebagai manusia yang dianugerahi Allah sebagai makhluk dengan kesempurnaan unsur, tetapi terlupa untuk melakukan dzikir dan tasbih secara rutin kepada Ilahi Robbi, Dzat yang telah memberikan berjuta-juta nikmat kepada kita. Padahal, tasbih dan dzikir kepada Allah merupakan kunci yang membuka hijab atau batas dari kegelapan menuju cahaya iman.

Ia juga merupakan sarana yang menguak kesadaran akan hakekat diri yang tenggelam. Karena melalui tasbih dan dzikrullah akan melahirkan pikiran dan jiwa yang cerdas serta tenang yang selalu diiringi oleh sikap tunduk, pasrah, dan tawakal kepada Allah SWT.

Jangan pernah kita menganggap bahwa fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita ini adalah suatu rutinitas yang terjadi begitu saja. Tetapi, marilah kita renungkan bersama bahwa sesungguhnya ada sentuhan dari sebuah kekuasaan yang sangat besar, yang tidak bisa digapai manusia yaitu kekuasaan Allah SWT yang menyebabkan terjadinya fenomena alam yang begitu ajaib, unik, aneh, dan teratur.

Dan tak lupa, semoga kita pun selalu berupaya membiasakan lisan, hati, dan amal kita untuk mengekspresikan apa yang kita dapat dan kita alami dalam hidup ini dengan untaian-untaian tasbih dan dzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Wallohu a'lam bishawab.

Rabu, 09 Desember 2009

HIKMAH DIBALIK FENOMENA

HIKMAHSalam sukses sahabat semua….., mari senantiasa kita memulai aktifitas keseharian dengan payung semangat berkendara keceriaan sehingga kesuksesan akan senantiasa menyertai setiap langkah kita, tentu saja dengan senantiasa menoleh kebelakang untuk sekedar memetik hikmah dari setiap kejadian yang kita alami agar kita dapat berbuat lebih baik dan lebih bermakna untuk lingkungan sekeliling kita, minimal dapat menjadi pembelajaran bermakna untuk hidup kita hari ini dan esok tentunya.

Mari bersama sejenak kita berpaling menelusuri ‘karunia’ yang besar dengan banyaknya kejadian yang menghebohkan menimpa bangsa ini. Bencana Tsunami Aceh, Gempa Yogya, Tsunami Pantai Selatan, Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, banjir , tanah longsor, kecelakaan kapal laut dan pesawat terbang sampai pada Gempa dahsyat yang menimpa Sumatera Barat.

Jika kita merenungkan hikmah di balik kejadian-kejadian tersebut, sesungguhnya bukanlah kejadian yang kebetulan. Akan tetapi seluruhnya sudah diatur dan menjadi kehendak Allah SWT. Sesungguhnya tidak ada satupun kejadian yang luput dari pengaturan-Nya. Semuanya terjadi karena izin Allah SWT. Setiap kejadian, entah baik atau buruk, semuanya karena izin Allah SWT. Oleh karena itu, mari bersama jangan sekadar mencari izin Allah, tetapi juga mencari ridho-Nya.

Kalau kita bisa mengilustrasikan, kita terkadang seperti seekor kerbau yang sedang merumput di pinggir rel kereta api. Ketika kereta api lewat, sang kerbau sejenak menengok lalu segera merumput lagi, tanpa pernah berpikir mengapa benda seberat dan sebesar itu bisa bergerak. Memang kerbau merupakan hewan yang tidak dikaruniai akal untuk bertafakur.

Nah , jika kita banyak dihadapkan pada kejadian demi kejadian, tetapi kita hanya terpana dan tidak berusaha menafakurinya, maka dimanakah perbedaan kita dengan sang kerbau?

Kenyataannya dalam kehidupan, kita sering fokus pada sebuah kejadian, namun tidak berusaha mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Misalnya saja ketika kita kehilangan dompet. Kita hanya sering bergulat dengan perasaan menyesal kehilangan uang atau emosi kepada pencopet, padahal belum tentu juga hilangnya karena diambil oleh pencopet. Pernahkah kita melakukan perenungan, hilangnya uang adalah peringatan dati Allah SWT untuk kita. Mungkin saja kita belum bersedekah, belum membayar zakat, ataukah dengan uang itu nantinya akan membawa kita bermaksiat.

Pada dasarnya seseorang yang pandai mendapat hikmah akan menemukan sesuatu yang lebih berharga dibandingkan kejadian tersebut. Adapun orang yang tidak bisa menemukan hikmah dibalik kejadian adalah orang yang merugi. Merugi karena pada lain kesempatan hal tersebut akan menimpa lagi kepadanya, tetapi orang itu sama sekali tidak memunculkan perubahan sikap ataupun ikhtiar.

Apa yang saya tulis disini adalah hasil perenungan saya dalam beberapa hari terakhir ini. Ditengah deraan pemadaman simultan oleh PLN dan koneksi Speedy yang terkadang terputus karena pengaruh pemadaman yang tersebut, saya terpaksa jarang online.... di pihak lain ada hikmah yang saya bisa petik. Mungkin Tuhan menghendaki semuanya itu, karena pekerjaan saya menuntut untuk fokus dan Alhamdulillah tidak menyisakan bengkalai yang berarti.

Semoga saja tulisan ini dapat menjadi perenungan bagi sahabat semua, terutama pembelajaran yang sangat berarti bagi diri saya.

Selasa, 24 November 2009

KEMATIAN SEBAGAI SUATU NASEHAT


Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Dan kita terkadang tidak menyadari bahwa hari-hari yang telah kita lewati justru semakin mendekatkan kita pada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain.

Ketika saya turut mengusung keranda Ibunda kemarin, muncul dalam pikiran saya bahwa pada suatu saat nanti, saya akan diusung pula. Begitu pula pada saat meletakkannya dalam rongga sempit di liang lahat, pemikiran serupa menyelimuti benak saya.

Terkadang saya dan mungkin ada diantara kita tidak sadar bahwa detak jantung yang berlalu, denyut nadi yang bergetar serta detik-detik yang terlewat sesungguhnya merupakan langkah-langkah pasti yang akan semakin mendekatkan kita pada titik takdir kematian.

Dan ketika kematian itu datang, maka berakhirlah segala kenikmatan yang telah dan tengah kita rasakan.

Ada orang bijak yang mengatakan, secara global sesungguhnya Allah hanya memberi satu nikmat saja kepada manusia, yakni nafas. Begitu nafas itu berhenti, maka berhenti pula berbagai kenikmatan yang ada. Itulah sebabnya, mengapa Nabi mengatakan bahwa sesuatu yang bisa memutus segala kenikmatan adalah kematian. Meskipun secara hakiki hanya Allah yang mencabut semua itu. Anehnya, sesuatu inilah yang paling sering kita lupakan.

Sering kali gebyar kehidupan duniawi mudah membuat kita terlena. Apalagi ketika begitu semakin banyak perlengkapan hidup dengan segala macam kemajuan, kemudahan dan kenikmatannya yang semakin mengepung kita di masa modern ini. Semua itu kerap menggoda dan melalaikan kita.

Muncullah berbagai prinsip hidup sesat seperti materialisme , hedonisme , permisivisme dan lain-lain yang sejenisnya. Dalam keadaan seperti itu, nasehat dari siapapun biasanya tak lagi digubris. Tapi pada dasarnya kita harus ingat bahwa setiap kita memiliki penasehat yang sangat ampuh, yaitu kematian.

Bila sejenak merenungkan kematian yang sewaktu-waktu pasti akan datang, pasti kita akan lebih hati- hati dalam melangkah.

Rasululloh saw bersabda :”Cukuplah kematian itu sebagai nasehat”. (HR. Thabrani dan Baihaqi).

Sudah semestinya kita senantiasa mengingat akan datangnya musibah terbesar itu. Seketika itu, istri, anak dan keluarga tersayang akan terpisah, pangkat yang diduduki akan hilang, harta yang dikumpulkan dengan susah payah semuanya akan ditinggalkan, dan bahkan nyawa yang dicintai akan lepas. Melalui pintu mati kita meninggalkan alam dunia, menuju alam kehidupan berikutnya, akhirat.

Orang yang melalaikan datangnya kematian, berarti kehilangan penasehat terbaiknya. Kehidupannya akan mudah tergoda dan terperosok dalam kelalaian. Keterlenaannya mengejar kehidupan dunia, kenikmatan sesaat dan bermegah-megahan membuatnya lalai mempersiapkan bekal akhirat hingga kematian menjemput. Akibat lalai dengan nasehat kematian, akhirnya hanya berujung kepada penyesalan abadi di neraka jahim.

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi).

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga, Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Namun terkadang kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa. Fiqih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara. Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga. Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

PS : Semoga postingan ini dapat bermanfaat, terutama bagi diri saya sendiri.



Jumat, 16 Oktober 2009

TOBATNYA SEORANG PENARI STREPTEASE

Dalam setiap aksinya, goyang candoleng-doleng biasanya diiringi dengan musik “house dangdut” . Mereka terkadang tampil bertiga. Dalam goyangannya, artis electon selalu tampil “seksi” dengan menggunakan baju ketat dan sangat minim. Mereka tidak segan-segan membuka (maaf) baju dan celana hingga yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja.

Aksi “buka-bukaan” tersebut biasanya diiringi dengan goyangan “erotis” yang mampu mengalahkan aksi “goyang ngeborInul Daratista, atau “goyang gergaji” ala Dewi Persik, atau bahkan “goyang ngecor dan goyang vibrator” milik Denada. Sedikit gambaran yang mereka lakukan saat bergoyang adalah; meliuk-liuk seperi penari streptease, meraba-raba bagian-bagian tubuh (maaf) terlarang.

Demikian sekilas gambaran aksi panggung penari streptease versi 'Aja tappareng' (sebutan untuk daerah Sidrap, Pinrang, Pare-Pare dan sekitarnya) yang beberapa tahun lalu sangat heboh dibicarakan di media massa dengan sebutan Candoleng-doleng.

Seorang diantaranya bernama Ima alias Halimah (bukan nama sebenarnya) saya ungkap kisahnya tentang dunia yang ia tinggalkan dan bertobat kepada Allah SWT.

Sekarang ia telah mendapatkan ketenangan dan kedamaian setelah ia kembali ke rumah asalnya dan hidup normal sebagai masyarakat biasa dengan suami dan seorang anak.

"Suatu hari aku sedang pentas dalam sebuah hajatan perkawinan putra seorang pedagang kaya yang terkenal. Ketika aku sedang menari, aku merasakan bahwa aku adalah gambaran sesosok bangkai dan boneka yang sedang bergerak tanpa makna. Pada mulanya aku merasa malu dengan kondisi tubuhku yang nyaris telanjang dan menari di depan para kaum pria. Aku segera meninggalkan tempat itu setelah usai menari sambil menangis dan berteriak histeris, hingga aku sampai di kamarku dan mengenakan pakaianku".

Perasaan-perasaan yang belum pernah aku rasakan selama hidupku selama menjadi artis candoleng-doleng menghantui diriku. Rasa bersalah, berdosa berbaur dengan perasaan hina dan nista seketika membelenggu pikiranku.

Entah apa yang harus aku perbuat waktu itu, namun ternyata Allah SWT menunjukkan saya jalan untuk segera mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Pada saat itu, untuk pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan dan ketentraman.

Semenjak saat itu aku mengenakan hijab meskipun banyak dari mereka yang berpaling dan mencemooh diriku. Setelah beberapa saat lamanya dari hasil mebuka warung di depan rumah, saya berhasil menyisihkan sebagian keuntungan saya untuk melaksanakan ibadah haji di Mekah.

Selama beribadah di tanah suci, rasa haru dan tangis senantiasa menemaniku, seraya memohon kepada Allah SWT, agar sudi memberikan saya petunjuk kejalan-Nya dan mengampuni hari-hariku yang suram di masa lalu.

Sepulang dari Tanah Suci, saya berharap bahwa Ima telah mati dan terkubur bersama masa lalunya. Dan semoga sekarang dan selanjutnya aku senantiasa terjaga bersama para ahli ibadah, Amin.

Kini aku hidup dengan suami yang memahami dan mau menerima saya apa adanya dengan seorang anak perempuan imut yang sangat saya cintai, Semoga saya bisa menjadi seorang ibu yang mulia dan ibu rumah tangga yang setia, Amin.

Air mata penyesalan terhadap hari-hari yang telah aku lewati dan umur yang aku habiskan dengan menjauhi Tuhan Penciptaku yang telah memberiku segala sesuatu, menuntun aku terasa terlahir kembali. Aku merasa damai dan tenteram setelah kegelisahan dan kesedihan menjadi teman karibku, meskipun waktu itu aku tidak pernah merasa kekurangan dalam hal materi.

Aku telah melewati tahun-tahunku yang telah berlalu dengan berteman setan. Aku tidak mengetahui apapun kecuali berfoya-foya dan menari. Dulu aku hidup hina dan menjijikkan. namun sesungguhnya aku kini telah terlahir kembali. Aku merasakan bahwa sekarang aku berada dalam genggaman yang dapat dipercaya. yang selalu membelaiku dengan kasih sayang, berkah dan petunjuk.

Genggaman tangan itu adalah genggaman tangan Allah Subhanahu Wata'ala.

Rabu, 23 September 2009

JANGAN PERNAH MENYERAH

Hari ini saya kembali pada rutinitas kerja sebagai seorang Guru,... Ketika online pagi-pagi disela koneksi yang lemot abis, saya mendapat sebuat e-mail dari seorang rekan seprofesi "MUNIR ARDI" yang katanya baru belajar ngeblog. Saya biasa menyapa dia dengan panggilan Dinda.....E-mail yang sangat memotivasi saya untuk lebih bersemangat dalam mengawali rutinitas saya di H + 5 ini, berikut isi e-mailnya.

Kita adalah makhluk Allah yang paling lemah secara fisik. Namun Allah dengan prinsip keadilan-Nya memberikan sebuah anugerah termahal yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain, yaitu kemampuan berfikir. Sangat disayangkan, tidak semua manusia memanfaatkan secara maksimal kemampuan yang satu ini untuk meraih prestasi sebesar-besarnya.

Shiv Khera dalam You Can Win, mengatakan, "Jika anda berfikir Anda dikalahkan, maka Anda akan kalah. Jika Anda berfikir Anda tidak takut, maka Anda tidak akan takut. Jika Anda ingin menang, tetapi merasa tidak mampu, hampir dapat dipastikan bahwa Anda tidak akan menang. Jika Anda berfikir Anda merugi, maka Anda akan rugi. Karena apa yang kita hadapi di dunia keberhasilanya berawal dari kemauan diri dan semuanya ada dalam pikiran kita. Jika Anda berfikir Anda tidak berkelas, maka akan seperti itulah Anda. Anda harus berfikir tinggi untuk dapat meraih. Anda harus memiliki keyakinan diri sebelum Anda dapat meraih kemenangan”.

Perjuangan hidup bukan selalu menjadi milik orang yang lebih kuat dan lebih cepat. Tetapi cepat atau lambat pemenangnya adalah orang yang berfikir bahwa ia mampu.

Jauh sebelum Shiv Khera mengeluarkan pendapat tersebut, Allah telah mengatakan “Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku”. Tidak mudah merealisasikan apa yang ada dalam pikiran kita. Sehingga tak heran banyak yang akhirnya tidak mau berfikir betapa sesungguhnya hidup ini terlalu indah untuk kita buat sia-sia tanpa prestasi apapun. Kebersihan hati mempengaruhi pikiran.

Jika hati kita bersih, pikiran kita akan positif menapaki setiap detik-detik kehidupan ini. Betapa indahnya bila kita senantiasa berfikir positif, hati kita bersih, bening, dan terawat dengan baik. Kita akan merasakan kesejukan, kedamaian, ketenangan, kemudian dunia ini kita jadikan sebagai ladang untuk meraih prestasi setinggi-tingginya tanpa beban, permusuhan dan dendam.

Bila hati kita tertata dengan baik dan pikiran kita positif, kita tidak akan menjadi orang yang lemah, mudah menyerah, dan putus asa jika mengalami kegagalan. Bangkit dan jangan mudah menyerah. Walaupun jalan yang kita lalui senantiasa menanjak dan berliku, tetaplah melangkah walaupun setapak demi setapak. Percayalah cahaya terang itu tidak selamanya tertutan hitam, ia akan terhalau oleh kesabaran, ketekunan, dan keyakinan, hati yang bersih, serta berfikir positif kepada Dzat yang jiwa kita ada dalam genggaman-Nya.

Untuk lebih mengenal Dinda saya lebih jauh,... silahkan berkunjung ke blognya DISINI